Jumat, 27 Februari 2015

AWAL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA



AWAL DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Disusun oleh: Ramli Nawawi

Peristiwa penyerangan Markas Tentara Jepang di Kotabaru oleh massa rakyat Yogyakarta untuk merebut senjata dari tangan tentara Jepang, merupakan peristiwa pertama di Yogyakarat dalam usaha rakyat menegakkan dan mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945 yang menelan  korban sejumlah kusuma bangsa. Setelah peristiwa tersebut, dengan telah berhasil ditawannya tentara Jepang maka kekuasaan telah berada di tangan rakyat Yogyakarta. Selanjutnya tokoh-tokoh rakyat di Yogyakarta mulai membentuk lembaga-lembaga  sebagaimana diinstruksikan Pemerintah Pusat, ketika itu Yogyakarta sudah berstatus sebagai daerah istimewa

Status  sebagai Daerah Istimewa Yogyakarta telah diakui oleh Pemerintah Pusat sejak 6 September 1945, hal ini berkaitan dengan adanya sambutan  Sultan Hamengku Buwono IX tanggal 20 Agustus 1945 yang mendukung Proklamasi  17 Agustus 1945, dan kemudian dipertegas lagi dengan dikeluarkannya amanat masing-masing oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX  dan oleh Sri Paku Alam VIII pada tanggal 5 September 1945 yang berisi antara lain Kesunanan Ngayogyakarta dan Paku Alaman menjadi bagian dari Negara Republik Indonesia.

Langkah selanjutnya adalah dilakukannya pembentukan dan pemberdayaan Komite Nasional Daerah (KNID) Yogyakarta. Kalau dulu bulan pertama sesudah proklamasi dalam rangka menjaga ketertiban dan kesatuan tindakan, pemerintah di Yogyakarta dijalankan oleh KNI Daerah bersama dengan Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paku Alam VIII, maka lembaga ini kemudian mengangkat anggotanya sebanyak 87 orang. Sebagai penasihat tercatat BPH Puruboyo, Ki Bagus Hadikusomo dan Dr. Soekiman, sedangkan untuk ketua dijabat oleh Moh. Saleh. Badan yang berkantor di Hooko Kai  Jalan KHA Dahlan ini kemudian mengatur langkah-langkah untuk mengisi dan mempertahankan kemerdekaan di samping untuk menyalurkan dan memperjuangkan keinginan rakyat.

Namun perjuangan melawan penjajahan terhadap bangsa dan negara ini tidak berakhir sampai dengan lepasnya bangsa Indonesia dari cengkeraman bangsa Jepang. Datangnya Belanda untuk berkuasa kembali di Indonesia membawa bangsa ini kemudian memasuki masa-masa perjuangan untuk mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 tersebut. Tidak terhitung korban jiwa, raga dan harta benda rakyat Indonesia sehingga kemudian bangsa ini menndapatkan pengakuan dunia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Demikian kita kenang dan kita hargai pengorbanan mereka sebagai putra-putri bangsa yang mewariskan kemerdekaan tanah air ini kepada kita kini, hingga kepada anak cucu kita kemudian. Semoga amal dan pengorbanan mereka diterima dan mendapat ganjaran yang berlipat pada sisi Allah Subhanahu wa Taala. Amiin. (HRN).    

Kamis, 29 Januari 2015

DAFTAR POSTING NASKAH SAMPAI DENGAN DESEMBER 2014



DAFTAR SEBAGIAN DARI NASKAH POSTING S/D AKHIR DESEMBER 2014

01.  Keguncangan.
02.  Sekitar Tentang Terbentuknya Kelaskaran di Yogyakarta.
03.  Beratib Baamal.
04.  Sekilas Perjalanan Sejarah Kota Banjarmasin.
05.  Entrospiksi Menyambut Tahun Baru 1436 H.
06.  Peranan Sunan Ampel Dalam Penyebaran Islam di Jawa.
07.  Musibah.
08.   Dewan Banjar.
09.  Do’a.
10.  Kepemimpinan di Masyrakat Pedesaan Banjar Kalimantan Selatan.
11.  Hijab Hati Agar Dijauhi.
12.  Ramadhan Mubarak.
13.  Takdir Cinta.
14.  Jujur dan Iman.
15.  Takdir Cinta.
16.  Fatwa.
17.  Perihal Keberadaan Nilai Budaya Orang Banjar.
18.  Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.
19.  Pulau Kambang.
20.  Anjangsana Cinta.
21.  Peranan Unsur Supra Natural Pada Masa Perjuangan Kemerdekaan.
22.  Unsur Kepercayaan Dalam Masyrakat Banjar di Kalimantan Selatan.
23.  Pintu-pintu Surga.
24.  Menapak Kehidupan Baru.
25.  Sekilas Tentang Kotamadya Banjarmasin.
26.  Mengerti Sejarah Mendidik Orang Bertindak Arif.
27.  Suka-suka Menjelang Masa Berpisah.
28.  Sunan Ampel.
29.  Merajut Cinta Keluarga.
      30. Mengenal ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.
31 Sifat Orang Taqwa
32.Bersyukur
33. Babunga Tahun
34.  Dewan Banjar
35. Abu Umamah calon penghuni sorga  = 8 pengunjung
36. Kandangan kotaku  manis  = 15
37. Allah menjamin rezeki semua umat  = 22
38. Sekilas tentang makna sejarah  = 24
39. K.H. Abdullah Umar = 31
40. Ketupat Kandangan = 25
41. Quwwatul Islam Masjid para pedagang intan  = 60
42. Suasana di halaman Masjidil Haram = 30
43. Takdir Cinta, ceritera fiksi (30-5-12) = 32
44. .Ki Ageng Pandanaran ke Jabalkat  = 259
45. .Lahirnya ALRI Divisi IV Kalimantan Selatan  = 49
46. Menyikapi perbedaan = 38
47. Masalah Zona Waktu Indonesia  = 155
48. Ki Ageng Pandanaran II Adipati Semarang  = 685
49. Sekilas kebudayaan Banjar  = 686
50. Peranan Tentara Pelajar D.I. Yogyakarta  =  124
17. Menyimak perjalanan sejarah negeri Nusantara  = 166
18. Unsur kepercayaan dalam masyyarakat Banjar  = 1236
19. Benteng Madang  = 223
51. Monomen Ngoto Yogyakarta  = 485
52. Sekilas tentang Keraton Banjar  = 31
53. Pengalaman kerja & Karya tulis  = 168
54. Makna belajar sejarah =  343
55. Lintasan sejarah Banjar  = 62
56. Peristiwa 20 Mei 1908 = 2260
57. Dusta dalam agama  = 112
59. Musik panting Banjar  = 173
60. Masalah prilaku sosial  = 71
61. Masjid Sultan Suriansyah  = 143
62. Apakah sejarah subyektif itu  = 1001
63. Anggerik Kalimantan Selatan  = 58 .
64. Memaknai suatu musibah  = 66
67. Mensyukuri nikmat Allah = 83
68. Cara orang Banjar menetapkan ukuran rumah  =137
69. Mampir di Monumen Yogya kembali  = 541
70. Keindahan sorga  = 67
71. Sifat orang taqwa  = 90
72. Wisma Bandar Lampung  = 112
73. Makalah pada Seminar Sejarah Nasional III = 131
41. Piagam Penghargaan  = 359
74. Nanang Galuh Banjar = 128
75. Kuda Kepang Banjar  = 93
76. Wayang Orang Banjar    = 120
77. Permainan Bagasing Banjar  = 404
78. Musik kurung-kurung Banjar  = 203
79. Perihal Komunitas Orang Banjar di Yogyakarta = 347
80. Doa Ibrahim bin Adham  = 231
81. Amok Hantarukung  = 200
82. Menyikapi perbedaan dalam Islam  = 809
83. Kampung Budaya Serawak  = 369
84. Pangeran Antasari pahlawan Nasional 1809-1862 = 5714
85. Pintu gerbang Kota Banjarmasin  = 203
86. Nikmat Allah  = 69
87. Arung jeram bambu lanting = 55
88. Bambo rafting LOKSADO  = 94
89. Masalah keanekaragaman  = 26
90Musik panteng, musik tradisi Banjar  =144
91. Pahlawan Nasional dari Kalimantan Selatan  = 36
92. Monumen Katamso Yogyakarta  = 1513
93. Alam Roh markas pejuang kemerdekaan = 43
94. Suasana di depan pertokoan Sudimampir th. 1920an  = 46
95. Dulu namanya MULO 1927  = 21
96. Masjid Sultan Suriansyah sudah dipugar  = 125
97. Jual beli di jukung  = 53
98. Makam Sultan Suriansyah raja Kerajaan Banjar  = 276
99. Lintasan Sejarah Banjar  = 608
     100. Pasar Terapung  = 662
      101. Di Jabal Rahmah  = 202
102. Suasana pantai wisata Pagatan Tanah Bumbu  = 55
103. Mapanre Tasi upacara tradisional  = 62
104. Lahirnya ALRI Divisi IV Kalimantan di Mojokerto = 105
105. Di tepi Sungai Martapura Banjarmasin  = 239
106. Kalimantan Selatan sekitar Proklamasi Kemerdekaan  = 179
      107. Adat penganten daerah Banjar = 234
108. Mengapa perlu Proklamasi 17 Mei 1949  = 142
109. Di pantai wisata Takisung = 22
110. Mampir di Monumen Jogya Kembali  = 96
112. Sekitar Proklamasi Kemerdekaan 17-8-45 di Yogyakarta = 597
113. Bersama Bp. H. Anang Ardiansyh pencipta lagu-lagu Banjar  = 112
114. Perkembangan Islam di Kalimantan Selatan, makalah = 5846
115. Sejarah orang Banjar di perantauan  = 463
116.. Perihal perbedaan prilaku sosial  = 270
117. Peranan Madrasah masa penjajahan Belanda di Kalsel= 607
118. Dari kota Gede ke Keraton Yogya dan Paku Alaman, mklh  = 498
119. Pembangunan Berwawasan Budaya Perspektif Budaya Banjar= 120. Silsilah 120. 120. Lambung Mangkurat  = 140
121. Lambung Mangkurat, makalah  = 561
122. Menyingkap makna Kitab Barincong  = 352
123. Sabilal Muhtadin = 1849
124. Sejarah adalah hakim  = 30
125. Mengenal ALRI Divisi IV Kalimantan = 727
126. Peristiwa sekitar 17-8-1945 di Kalimantan Selatan  = 761
127. Sultan Adam , foto  = 229
128. Sultan Suriansyah raja Banjar, masalah masa pemerintahan  = 569
129. Sekilas perjalanan sejarah Kota Banjarmasin  = 121
      130. Para pedagang intan perintis komunitas warga Banjar di DIY = 647
        
(HRN: daftar ini sebagian dari entri yang diposting)





 
.   

                                                                                   

Senin, 26 Januari 2015

Ramli Nawawi Hasil Karya



 PENGALAMAN PEKERJAAN DAN KARYA TULIS

Nama: Drs. H. Ramli Nawawi, alumnus Fakultas Keguruan Jurusan Sejarah UNLAM Banjarmasin (1977). Pengalaman: Guru SMP Simpur 1961-1962, Guru SMPN 1 Barabai 1963-1964, Guru SMPN 1 Kandangan 1965-1967, Guru SMPN 7 Bjm 1968-1969, Guru SMPN 6 Bjm 1970-1976, Guru SMAN 3 Bjm 1977-1980, Kasi TT PSK/Jarahnitra 1981-1988, Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Tradisional Kanwil Depdikbud Prop. Kalsel. 1989-1996, Peneliti Muda, Peneliti Madya, Ahli Peneliti Muda, Ahli Peneliti Madya Jarahnitra pada BKSNT Yogyakarta 1997-2006.


KARYA-KARYA TULIS YANG DITERBITKAN

Buku-Buku Karya Tulis Sendiri:  
1.Dewan Banjar, Penerbit Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang  Banjarmasin, ISBN: 979-9464-02-1, th. 2000.

2.Peranan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Dalam Penyebaran Ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah di Kalimantan Selatan, Penerbit Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Yogyakarta, ISBN: 979-8971-02-7, th. 1998.

3.Ekspedisi Laut Dari Jawa Ke Kalimantan Selatan Pada Masa Revolusi Kemerdekaan (1945-1949), Penerbit BKSNT Yogyakarta, ISBN: 979-8971-01-9, th.1998.

4.Masjid Ampel, Sejarah, Fungsi dan Peranannya, Penerbit dalam Laporan Penelitian Jarahnitra, No. 018/P/1999, th. 1999.

5.Kehidupan Suku Bukit Loksado Di Kalimantan Selatan, Penerbit MSI Cabang Banjarmasin, ISBN: 979-9464-01-3, th. 2000.

6.Perjuangan Kaum Republikein Menuju Negara Kesatuan Republik Indonesia di Kalimantan Selatan, Penerbit MSI Cabang Banjarmasin, ISBN: 979-9464-00-5, th. 2001.

7..Masjid Besar Semarang Peranannya Dalam Pengembangan Islam, Penerbit MSI  Cabang Yogyakarta, ISBN: 979-9419-10-7, th. 2001.

8.Kiprah Perjuangan Tentara Pelajar dan Peranan Unsur Supra Natural Pada Masa Perang Kemerdekaan di Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 1945-1949, Penerbit MSI Cabang Yoyakarta, ISBN:979-9419-09-3, th. 2001.

9.Pondok Pesantren Tahaffudzul Qur'an Semarang Perkembangan dan Peranannya, Penerbit MSI Cabang Yogyakarta, ISBN: 979-9419-16-6. th. 2004.

10.Masjid Gala Peninggalan Sunan Bayat Keadaan dan Peranannya (1980-2002), Penerbit MSI Cabang Yogyakarta, ISBN: 979-9419-15-8, th. 2004.
  
11.Dugderan Di Semarang Suatu Kajian Sejarah Tradisi Budaya Sebagai Aset Wisata, Penerbit MSI Cabang Yogyakarta, ISBN: 979-9419-17-4, th. 2004.

12.K.H. Abdullah Umar Al Hafdz, Kehidupan, Pengabdian dan Pemikirannya,  Laporan Penelitian BKSNT Yogyakarta, th. 2004.

13.Quwwatul Islam Masjid Para Pedagang Banjar Di Kota Yogyakarta, Laporan Penelitian BKSNT Yogyakarta, th. 2005.


Sebagai Ketua Tim Penulis Buku-Buku:

1.Sejarah Sosial Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (IDSN) Jakarta, 1984.

2.Tata Kelakuan Di Lingkungan Pergaulan Keluarga Dan Masyarakat Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Peroyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah (IDKD) Banjarmasin,  1984.

3.Sejarah Kota Banjarmasin, Penerbit Proyek IDSN Jakarta, 1986.

4.Tingkat Kesadaran Sejarah Siswa SMTA dan Masyarakat di Propinsi Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek IDSN Jakarta, 1986.

5.Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya (IPNB) Banjarmasin, 1989..

6.Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek IPNB Banjarmasin, 1991.

7.Sejarah Pendidikan Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek Penelitian, Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya (P3NB) Banjarmasin, 1992.

8.Sejarah Pengaruh Pelita Terhadap Kehidupan Masyarakat Pedesaan Di Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek IDSN Jakarta, 1993.

.9.Dampak Sosial Budaya Akibat Menyempitnya Lahan Pertanian Kelurahan Pelambuan Propinsi Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek P3NB Banjarmasin, 1993.
  
10.Sisitem Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya (P2NB) Banjarmasin, 1994.

Sebagai Anggota Tim Peneulis Buku-Buku:

1.Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme Dan Kolonialisme Di Kalimantan    Selatan, Penerbit Proyek IDSN Jakarta, 1983.
2.Upacara Tradisional Upacara Kematian Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit  Bagian Proyek P3NB Banjarmasin, 1992.

3.Pembinaan Disiplin Di Lingkungan Masyarakat Kota Banjarmasin, Penerbit Bagian Proyek P2NB Banjarmasin, 1994.

4.Sejarah Perjuangan Rakyat Menegakkan Kemerdekaan Republik Indonesia Di Kalimantan Selatan (Periode 1945-1949), Penerbit Pemda Tinkat 1 Kalimantan Selatan, 1994.

5.Fungsi Keluarga Dalam Meningkatkan Kualitas sumber Daya Manusia Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Bagian Proyek P2NB Banjarmasin, 1995.

   6.Integrasi Nasional Suatu Pendekatan Budaya Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Bagian Proyek P2NB Banjarmasin, 1996.

   7.Dampak Globalisasi Informasi Dan Komunikasi Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Di Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Bagian Proyek P2NB Banjarmasin, ISBN 979-95571-1-9, th. 1998.

                                   (HRN: Banjarmasin-Yogyakarta)

Rabu, 31 Desember 2014

KEGUNCANGAN



KEGUNCANGAN

(AZ-ZALZALAH)

Apabila bumi sudah diguncangkan dengan guncangannya (yang dahsyat).
Dan bumi mengeluarkan tanggungan-tanggungannya (orang-orang mati yang ada di dalamnya).
Dan manusia bertanya, ada apakah ia (bumi ini)?.
Pada hari itu bumi menceritakan berita-beritanya.
Sebab sesungguhnya Tuhan mu telah memerintahkan kepadanya.
Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dengan beraneka macam, untuk diperlihatkan amal mereka.
Barang siapa berbuat kebaikan seberat benda terkecil pun, maka dia akan melihat (balasan) nya.
Dan barang siapa yang berbuat keburukan seberat benda terkecil pun, maka dia akan melihatnya..(Al-Qur’an)

Senin, 29 Desember 2014

SEKITAR TENTANG TERBENTUKNYA KELASKARAN DI YOGYAKARTA



SEKITAR TENTANG TERBENTUKNYA KELASKARAN
DI YOGYAKARTA

Oleh: Ramli Nawawi

Cikal bakal organisasi kemiliteran di Yogyakarta adalah dari sebuah organisasi pemuda yang lahir segera setelah berita Proklamasi Kemerdekan diterima di daerah ini. Sementara
Berita Proklamasi  Kemerdekaan  yang disiarkan Kantor Berita Domei Jakarta dapat diterima Kantor Berita Domei Cabang Yogyakarta pukul 12.00 siang tanggal 17 Agustus 1945 itu juga. Berita ini memang kemudian dirahasiakan oleh Jepang, tetapi sudah terlanjur diketahui oleh pegawai-pegawai kantor tersebut.

Organisasi yang lahir menyambut Proklamasi Kemerdekaan tersebut bernama Barisan (Badan) Penjaga Umum (BPU). Organisasi pemuda ini dipimpin oleh 3 orang, yakni Umar Slamet bekas Cudanco Bantul, S. Parman seorang anggota Kempeitai Jepang, dan Sudharto yang memimpin para pemuda pelajar Yogyakarta. Mereka yang bergerak dalam BPU ini umumnya terdiri dari para pelajar Sekolah Menengah, seangkan stafnya para perwira PETA (Pembela Tanah Air), serta bintaranya  terdiri dari para Kempeitai. Organisasi ini merupakan organisasi rahasia dan gerakannya bersifat illegal. Dalam usahanya organisasi ini telah berhasil mengumpulkan  senjata yang berasal dari tentara Jepang.sebanyak 16 pucuk karabijn dan beberapa geranat tangan sebagai modal perjuangan bersenjata selanjutnya..

Sedangkan organisasi kemiliteran yang resmi lahir berdasarkan penetapan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia adalah BKR (Badan Keamanan Rakyat). Pembentukan BKR Yogyakarta ini berlangsung seminggu setelah Proklamasi Kemerdekaan, yakni segera setelah Pidato Presiden Soekarno tanggal 23 Agustus 1945  yang menganjurkan agar perajurit-perajurit bekas PETA, Heiho dan Pelaut beserta para pemuda lainnya untuk masuk dalam Badan Keamanan Rakyat.

Sementara itu menyadari bahwa kemerdekaan yang baru diproklamasikan tersebut perlu ditegakkan dan dipertahankan, maka masyarakat Yogyakarta yang tidak tergabung  dalam BKR membentuk kelaskaran-kelaskaran lain. Organisasi kelaskaran tersebut  seperti BPRI (Badan Pemberontak Rakyat Indonesia) yang bermarkas di Jalan Gondomanan 13 Yogyakarta, DPRI (Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia) yang bermarkas di Jalan Ngabean 4 Yogyakarta, serta GL (Gabungan Laskar) yang bermarkas di Jalan Gondomanan 17 Yogyakarta.

Tanggal 5 Oktober 1945 Pemerintah Republik Indonesia mengeluarkan Maklumat  pembentukan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) yang anggota-anggota intinya barasal dari BKR. Karena itu TKR berarti merupakan perkembangan lebih lanjut dari BKR. Selanjutnya di Yogyakarta atas perintah Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII dibentuk Laskar Rakyat (LR) untuk membantu TKR melalui Maklumat No. 5 DIY tanggal 26-10-1945.

Dalam perkembangan selanjutnya TKR (Tentara Keamanan Rakyat) kemudian dirubah menjadi TNI (Tentara Nasional Indonesia) pada tanggal 3 Juni 1947. (HRN).      

Kamis, 27 November 2014

GERAKAN BARATIB BAAMAL



BARATIB BA AMAL

Disusun: Ramli Nawawi

Dalam Perang Banjar (Kalimantan Selatan) terdapat dua tahap aksi perlawanan rakyar Banjar terhadap kolonialisme Belanda. Secara keseluruan Perang Banjar itu berlangsung sejak tahun 1859-1905. Tetapi selama jangka waktu tersebut dapat dibagi atas dua tahap perlawanan, yaitu: 1859-1863 sebagai aksi ofensif, dan 1863-1905 sebagai aksi defensif. Gerakan Baratib Baamal termasuk tahap perlawanan aksi defensif yang merupakan satu dari episode-episode konflik bersenjata antara rakyat Banjar dengan kekuatan kolonial Belanda.

Dalam Gerakan Baratib Baamal tampak adanya penampilan kembali sentimen keagamaan yang kuat sekali dengan mengadakan upacara religi-mistik di dalam usahanya untuk membangkitkan dan mengobarkan kembali semangat dan kegairahan perang. Moral perjuangan yang nampaknya sedang menurun di lingkungan rakyat Banjar berhasil ditingkatkan kembali di dalam suatu pergerakan keagamaan sehingga melahirkan aksi-aksi ofensif baru di beberapa daerah dan penuh fanatisme keagamaan.

Dalam Perang Banjar dapat disatukan kekuatan yang diorganisir oleh elite sekular tradisional. Berhasil pula digerakkan kekuatan dibawah pimpinan elite religius sehubungan situasinya menjadi hangat kembali setelah ofensif menurun. Kekuatan masa rakyat yang membentuk kekuatan ofensif baru dibawah pimpinan elite religius ini dikenal dengan sebutan ”Baratib Baamal”
.
Secara etimologis Baratib Baamal itu terdapat dua pengertian kata, baratib yang berarti berzikir dengan menyebut: ”La ilaha illallah” berulang-ulang dengan jumlah yang sudah ditentukan, umpama dengan jumlah 70.000  kali. Sedangkan baamal artinya berbuat baik dengan melakukan amal perbuatan ibadah kepada Tuhan.
Baratib Baamal ialah memuji-muji Tuhan sambil memohon sesuatu, umpama mohon panjang umur, banyak rezeki atau memohon keselamatan. Adalah logis dalam menghadapi ancaman Belanda tersebut diperlukan moral dan kepercayaan atas kekuatan yang ada, yaitu kekebalan. Gerakan ini bersifat keagamaan, karena itu pimpinannya adalah seorang ”tuan guru’ atau ulama yang berpengaruh atau tokoh elite religius.

Praktek yang dilakukan oleh gerakan ini sebagai berikut: Para jamaah atau pengikut zikir tersebut, yaitu kaum muslimin, mula-mula berkumpul di langgar atau masjid dan dengan pimpinan seorang tuan guru, mereka berzikir dengan mengucap ”La ilaha illallah” (tidak ada Tuhan melainkan Allah) sebanyak sebelas kali, masing-masing dengan dilengkapi dengan pujian-pujian dan permohonan-permohonan.

Pujian-pujian itu antara lain bahwa Muhammad hamba Allah, Muhammad aulia Allah, Muhammad rasul Allah, Muhammad sifat Ullah, La ilaha illallah maujud Allah, dll
. Sedangkan permintaan-permintaan antara lain seperti: rezeki minta dimurahkan, bahaya minta dijauhkan, umur minta dipanjangkan, iman minta ditetapkan, dll.

Praktik berzikir berlangsung lama. Mereka seolah-olah lupa diri, tenggelam dalam rasa keasyikan agama yang tiada bandingnya. Pujian-pujian itu dan permohonan tersebut mula-mula bernada rendah kemudian meninggi, keras berupa jeritan-jeritan histeris. Badan terutama kepala mengikuti gerakan tertentu dan dengan mengucap puji pada Allah semesta. Dalam situasi demikian pula moral perjuangan ditingkatkan lagi sehingga siap menyerbu lagi tanpa menghiraukan resiko maut yang dihadapinya. Dalam kelompok yang jumlahnya ratusan mereka bergerak mencari musuh dan menghantamnya dengan penuh keberanian di tempat manapun mereka menjumpainya.

Perlengkapan persenjataan yang dipergunakan ialah tombak, parang, keris, dan ada juga beberapa pucuk senapan. Pakaian mereka jubah putih dan serban putih, sedangkan pimpinan mereka memilih seluruhnya kuning.

Dengan mengucap ”La ilaha illallah” mereka menyerbu musuh tanpa keragu-raguan sedikit pun dan tanpa menghiraukan maut yang mengancam mereka. Letak keberanian mereka ialah pada keyakinan bahwa tidak ada yang dapat memberi bekas kecuali Allah dan tidak ada Tuhan lain kecuali Allah. Fanatisme keagamaan yang sangat tinggi di samping dari tokoh tuan guru yang memimpin Baratib Baamal memberi semangat yang membaja pada pengikutnya.
Dengan menggunakan masjid sebagai pusat perjuangan, mereka bergerak dari satu desa ke desa lainnya dan mengajak rakyat untuk berjuang mengusir orang kafir. Medan operasi mereka adalah desa Kalua, Amuntai dan Alai yang terletak di daerah Hulu Sungai. Daerah ini disamping penduduknya terbanyak, tanahnya subur, juga semangat fanatisme agama paling tinggi.

Belanda terpaksa menggunakan ulama-ulama yang memihak Belanda dengan menyebarluaskan bahwa Gerakan Baratib Baamal adalah suatu pemalsuan terhadap agama Islam yang murni. Berzikir sebagai yang mereka lakukan adalah menyesatkan karena membuat orang percaya akan kekebalan diri. Yang akan menyeret rakyat yang tidak berdosa ke dalam lembah kesengsaraan akibat perbuatan yang sesat melawan pemerintah yang sah. Disamping itu Belanda mengancam pula dengan hukuman bagi orang yang menyembunyikan, mengambil bagian ataupun melindunginya.

Masyarakat Banjar adalah berjiwa religius. Sejak agama Islam masuk dalam abad ke 16, agama itu menjadi identifikasi sosiokultural dalam kehidupan keagamaan mereka. Dalam masyarakat yang demikian sentimen agama mudah dibangkitkan untuk kepentingan hal-hal yang sebenarnya tidak religius. Sejak semula sebelum pergumulan pisik itu meletus, sebenarnya faktor-faktor non religius lebih banyak tampil kedepan untuk menimbulkan kegelisahan sosial yang kemudian meningkat menjadi perlawanan atau pemberontakan. Dalam pergolakan tersebut aspek sekular dan religius bersifat saling komplementer.

Baratib Baamal termasuk pergerakan keagamaan, karena dalam usaha mencapai tujuannya gerakan ini mempergunakan cara-cara keagamaan dengan pimpinannya adalah pimpinan agama. Karakteristik dari gerakan ini adalah ”magico-mysticism” yaitu keyakinan diantara penganutnya tentang adanya kekebalan-kekebalan yang diperolah dengan melakukan rite-rite religi-mistik berupa berzikir dan beramal. Dari rite ini militansi mereka ditingkatkan. Karakteristik kedua ialah adanya keyakinan akan kekuatan supra natural atau magis yang dimiliki pimpinan religius mereka yang kharismatis. Karena kedua karakteristik inilah dalam tingkah laku militansi yang memuncak akan mengabaikan sikap hati-hati dan tidak lagi menghiraukan maut.
  
(RN: Harap naskah ini tidak diposting ke blog lain).

Senin, 24 November 2014

SEKILAS PERJALANAN SEJARAH KOTA BANJARMASIN



SEKILAS PERJALANAN SEJARAH KOTA BANJARMASIN

Disusun oleh: Ramli Nawawi

Kota Banjarmasin sekarang menjadi ibu kota Propinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarmasin termasuk kota tertua, pertama kali menjadi ibu kota kerajaan  dari Kesultanan Banjarmasin. Sultan Suriansyah, sultan pertama yang menjadikan kota ini sebagai pusat pemerintahan dan pusat perdagangan serta pusat penyebaran agama Islam sejak 24 September 1526.

Kota Banjarmasin terletak di bagian selatan dari Kalimantan Selatan dan terbelah dua oleh Sungai Martapura anak Sungai Barito. Kota Banjarmasin terletak di bawah permukaan laut hampir 0,50 m di bawah permukaan laut.

Pada Abad ke 15 sebelum menjadi Kota Banjarmasin, di daerah ini merupakan perkampungan beberapa kelompok etnis antara lain adalah etnis Dayak Ngaju dan etnis Melayu. Pemukiman penduduk waktu itu berada di sekitar Muara Cerucuk dan Kuwen. Perkampungan orang Melayu, oleh orang suku Dayak Ngaju disebut Banjarmasih. Banjar berarti kampung dalam bahasa Melayu, sedangkan Masih adalah sebutan dalam bahasa Ngaju untuk menyebut orang Melayu. Dengan demikian Banjarmasih berarti perkampungan orang Melayu. Banjarmasih adalah ibu kota dari Kesultanan Banjar dengan raja pertamanya Sultan Suriansyah, raja pertama yang menganut agama Islam.

Pada abad ke 16 dan 17 Banjarmasin sebagai perkampungan orang Melayu terletak di antara sungai-sungai. Sungai Barito dengan anak Sungai Sigaling, Sungai Pandai dan Sungai Kuwen. Sungai Kuwen dengan anak sungainya Sungai Keramat, Sungai Jagabaya dan Sungai Pangeran atau Pageran. Sungai-sungai tersebut pada daerah hulunya bertemu dan membentuk danau kecil bersimpang lima. Daerah inilah yang nanti menjadi daerah ibu kota Kerajaan Banjar, yaitu Banjaramasin. Pusat pertama terletak di antara Sungai Keramat dengan Sungai Jagabaya dengan Sungai Kuwen sebagai induk. Di sinilah tetletak rumah Patih Masih, patihnya orang Melayu.

Desa berubah menjadi sebuah bandar perdagangan pada tahun 1526 setelah  Kerajaan Daha yang dibawah Pangeran Tumenggung mengakui Sultan Suriansyah sebagai raja di Kerajaan Banjar, sebagian besar penduduk Daha diangkut sebagai tambahan penduduk ibu kota kerajaan. Rumah Patih Msih dijadikan keraton setelah dibesarkan dibuat Pagungan, Sitilohor dan Paseban.

Rumah-rumah dibangun di sepanjang tepi sungai dihubungkan satu dengan lainnya dengan titian sepanjang sungai dengan angkutan terdiri dari jukung atau perahu. Perahu atau jukung merupakan alat angkutan yang utama. Di samping rumah di tepi sungai terdapat lagi sejumlah rumah di atas lanting diikat dengan rotan ke pohon-pohon besar di tepi sungai.

Pada tahun 1612 kota ini diserbu oleh armada Belanda sehingga terpaksa ibu kota kerajaan dipindahkan ke Kayu Tangi dekat Telok Selong Martapura sekarang., sedangkan pusat kota dipindahkan ke Pamakuan, Kuliling Benteng. Dengan demikian kemudian terdapat sebutan untuk Banjar Lama dan Banjar Hanyar. Banjar Lama adalah bekas pusat  pemerintahan kerajaan yang ditinggalkan, sedangkan Banjar Hanyar adalah Kayu Tangi Martapura. Pada tahun 1663 Pangeran Surianata atau Pangeran Adipati Anom merebut kekuasaan. Pusat pemerintahannya dikembalikan ke Banjar Lama dengan pusat di daerah Sungai Pangeran.

Pada tahun 1677 Banjarmasin diserbu orang-orang dan pengikut Daeng Tello dibantu lanun orang Melayu, Soelongh. Keraton kembali musnah, tetapi musuh dapat dihalau. Pada tahun 1701 kembali Banjarmasin mengalami kehancuran dan pembakaran karena pertentangan dengan Inggeris, akibatnya Pulau Tatas menjadi sangat penting, sehingga sejak itu Pulau Tatas menggantikan tempat pusat kegiatan perdagangan menggantikan Banjarmasin di daerah Sungai Kuwen dan Sungai Pangeran.

Pada tanggal 4 Mei 1826 antara Kerajaan Banjar dengan Belanda diadakan kontrak dagang. Perjanjian itu membagi dua kota Banjarmasin. Daerah Pacinan Laut menyeberang ke Sungai Miai, ke Kuwen, Sungai Kelayan, Pemurus dan terus Pegunungan Meratus adalah daerah Kerajaan Banjar. Daerah Kerajaan Banjar ini kampung yang terpenting adalah kampung keraton, yang kemudian disebut Kampung Sungai Mesa. Di sekitar kampung ini terdapat rumah kediaman Menteri Besar Kiai Maesa Jaladeri, istana Sultan Tamjidillah, Balai Kaca. Berseberangan dengan istana Sultan Tamjidillah, diantaranya Sungai Martapura, terletak rumah Residen Belanda di Kampung Amerongan dan ke hilirnya terdapat Benteng Tatas, kesemuanya terletak di Pulau Tatas.

Kampung Amerongan adalah perkampungan orang Eropah, teratur, suasana lingkungan nyaman dengan penerangan lampu pada malam hari. Kampung Amerongan adalah kampung terbesar kedua setelah kampung Cina, Pacinan. Daerah Pulau Tatas inilah sampai menjelang abad ke 19 berkembang menjadi pusat kegiatan kekuasaan dan administerasi penjajah Belanda, baik sipil maupun militer.

Akhir Perang Banjar (1859-1905) membawa sejumlah kegiatan baru bagi Kota Banjarmasin. Antara Banjarmasin dengan Surabaya sarana hubungan laut Koninklijk Pakketvaart Maatschappij (KPM) memegang peranan baru lalu lintas laut. Untuk menampung volume kegiatan angkutan laut ini dibangun Boom Baru (pelabuhan) pada tahun 1861.

Boom ini terletak di pelabuhan lama sekarang di Sungai Martapura. Prasarana hubungan darat dibuat Pemerintah Belanda, yang guna dan tujuan dari hubungan darat ini ialah mempermudah ruang gerak militer Belanda. Jalan Banjarmasin – Martapura mulai dirintis melalui Pacinan Darat, Sungai Bilu Darat, Sungai Lulut, Sungai Tabuk, Panggalaman, Sungai Rangas terus ke Martapura yang sekarang dikenal dengan Jalan Martapura Lama.

(RN: Harap naskah ini tidak diposting ke blog lain).   
 .