Sabtu, 26 Oktober 2013
Jumat, 25 Oktober 2013
Kamis, 24 Oktober 2013
UNSUR KEPERCAYAAN DALAM MASYARAKAT BANJAR DI KALIMANTAN SELATAN
Oleh: Drs. H. Ramli Nawawi
Kalimantan Selatan tidak hanya dihuni oleh suku bangsa Banjar. Ada pula
suku bangsa Bakumpai yang mengaku dan diakui juga sebagai orang Banjar, tetapi
mengembangkan bahasa sendiri (bahasa Bakumpai) yang berbeda sekali dengan
bahasa Banjar. Juga di daerah pegunungan sebelah timur terdapat kelompok
masyarakat terasing yang dinamakan orang
Bukit, yang digolongkan kedalam suku Dayak. Penamaan orang Bukit ini lebih mengacu
pada daerah tempat tinggal mereka yang berada di perbukitan.
Masyarakat suku Banjar yang merupakan penghuni terbesar di daerah ini
menganut ajaran agama Islam yang kuat. Upacara keagamaan dapat dilihat baik
pada acara-acara resmi pemerintah maupun yang dilakukan masyarakat umum.
Namun jauh sebelum agama Islam masuk dan berkembang di Kalimantan Selatan,
kebanyakan penduduknya menganut kepercayaan lama yang bersumber dari lingkungan kehidupan
mereka sendiri. Kemudian datang agama Hindu dan dengan cepatnya berkembang di
seluruh kawasan daerah Kalimantan Selatan. Agama ini menjadi anutan dan
tuntunan kehidupan dengan mendirikan candi-candi sebagai manifestasi dari
keberadaannya.
Bukti peninggalannya adalah situs bangunan Candi Agung yang terdapat di Amuntai
Kabupaten Hulu Sungai Utara dan situs Candi Laras yang terletak di Margasari
Kabupaten Tapin. Sehingga unsur kepercayaan yang dahulu pernah dianut masih
juga tertinggal di masyarakat. Dalam beberapa hal unsur-unsur itu tercampur
dalam kepercayaan menurut agama Islam. Tetapi selama hal itu tidak bertentangan
dengan syariat Islam, masih dikerjakan sebagai suatu tradisi yang wajar.
Sebagai penganut Islam yang taat, suku bangsa Banjar membangun
tempat-tempat ibadah seperti Masjid, Langgar (Surau), dan tempat-tempat
pendidikan Islam yang khusus dibangun oleh masyarakat setempat. Pengaruh agama
Islam bergerak jauh ke pedalaman, yang juga ikut mempengaruhi mitologi rakyat
dari suku bangsa yang ada.
Namun demikian seperti disinggung di atas, faktor kepercayaan lama pada
zaman nenek moyang, yang bersumber pada unsur-unsur kosmologi tetap melekat
baik secara disadari atau pun tidak. Memang sukar untuk mengukur sampai sejauh
mana indikasi unsur kosmologi itu melekat dalam kehidupan masyarakat Kalimantan
Selatan, tapi hal itu masih dapat dilihat atau dirasakan dalam beberapa
tindakan kehidupan sehari-hari.
Masyarakat Kalimanatan Selatan yang hidup dalam lingkungan adat istiadat
sepertinya juga tidak mengerti mengapa mereka harus melakukan tindakan yang
dilazimkan oleh adat. Misalnya, orang mau saja mengadakan atau melakukan
sesuatu yang sudah menjadi suatu keharusan agar tidak mendapatkan kemurkaan
atau kutukan dari yang dianggap mereka menciptakan peraturan yang sudah
diadatkan tersebut.
Masyarakat Kalimantan Selatan baik sukubangsa Banjar maupun kelompok
sukubangsa Dayak umumnya juga melaksanakan berbagai adat istiadat yang telah
berpola, terutama upacara daur hidup. Contohnya, seorang isteri dari masa
kehamilan pertama jika telah mencapai tujuh bulan diadakan acara mandi-mandi
yang disebut “mandi tian mandaring”. Ketika lahir dilakukan palas bidan,
bapalas “baayun”, diteruskan upacara tasmiah, sunatan. Setelah dewasa ada
upacara perkawinan, yang didahului dengan serangkaian adat yang berlaku, mulai
basusuluh, badatang, pelaksanaan akad nikah, sampai hari perkawinan penuh
dengan aturan-aturan yang diadatkan.
Demikian pula halnya kematian, dilaksanakan serangkaian upacara yang telah diberlakukan dalam kehidupan
masyarakat pendukung budaya yang bersangkutan. Dalam masyarakat suku Banjar
upacara kematian berlangsung beberapa urutan, yaitu mulai turun tanah, meniga
hari, menujuh hari, menyelawi, meampat puluh hari dan menyeratus. Dan setiap
tahun dilaksanakan haulan. Tentu saja dalam kaitan ini dibacakan zikir dan doa
kepada arwah yang meninggal secara Islam.
Dalam masyarakat sukubangsa Banjar juga mengenal adanya kelompok yang
sangat kuat kesatuannya. Hal ini masih dapat ditemui hingga sekarang. Kesatuan
itu biasa disebut dengan perkataan “bubuhan”, yang rasa kesatuan sosial dan
sifat gotong royongnya kuat sekali.
Pengertian bubuhan kalau dalam ilmu Antropologi sama dengan keluarga luas,
yaitu suatu keluarga yang terdiri dari lebih dari keluarga inti yang seluruhnya
merupakan sistem kesatuan sosial yang sangat erat yang biasanya tinggal dalam
satu rumah atau satu pekarangan. Sejak zaman Hindia Belanda bubuhan-bubuhan
tidak lagi tinggal dalam satu rumah atau satu pekarangan melainkan telah
menyebar ke pemukiman yang saling berjauhan.
Biasanya seorang yang terpandang, mungkin karena memiliki kekayaan atau
kedudukan yang tinggi dalam kehidupan sosial masyarakat kemudian dipakai
menjadi nama bubuhan, misalnya bubuhan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari
(penyebar ajaran Islam abad 18 di Kalimantan Selatan).
Diantara kelompok bubuhan ini ada ada yang percaya bahwa mereka dapat
menarik garis keturuanan bilateral sampai tokoh zaman dahulu yang sulit ditelusuri silsilahnya dengan
urut. Tokoh tersebut dipercaya menurunkan Sultan-Sultan Banjar atau seorang
pejabat kesultanan. Kadang-kadang bubuhan mempunyai benda-benda pusaka yang
menjadi lambang keunggulan, atau ada pula yang mempunyai sumber air (sumur)
keramat yang berfungsi menghubungkan bubuhan dengan tokoh tertentu melalui
dongeng atau legenda. Misalnya legenda sumur datu sebagai tempat Datu Taruna
menyimpan harta pusaka.
Kepercayaan demikian itu selalu disertai dengan keharusan bubuhan yang
bersangkutan untuk melakukan upacara tahunan yang disebut aruh tahun atau
tradisi yang berlaku. Seperti yang pernah dilakukan kelompok masyarakat bubuhan
turunan Datu Taruna di Desa Barikin Kabupaten Hulu Sungai Tengah
menyelenggarakan upacara “Manyanggar Banua” disertai berbagai keharusan atau
pantangan sehubungan dengan kepercayaan tersebut (yang pernah penulis ikuti
kegiatannya pada tahun 1980-an).
Pada beberapa kelompok bubuhan dengan setia melakukan aruh tahun walaupun
tidak jelas adanya tokoh nenek moyang yang dapat ditelusuri asal muasalnya. Akan
tetapi mereka yakin dengan menjiwai mantra atau mamangan tertentu merasa dapat
berhubungan dengan nenek moyang mereka.
Selain itu bagi sebagian masyarakat sukubangsa Banjar hutan belantara,
semak belukar dan gunung bukan semata-mata dihuni oleh makhluk bumi melainkan
juga didiami oleh makhluk gaib, binatang gaib, datu dan sebagainya. Lingkungan
kehidupan manusia merupakan personifikasi dunia gaib, sehingga di kalangan
sebagian masyarakat Banjar dikenal istilah bumi lamah dan untuk bumi rata
adalah dunia bagi mahluk gaib yang bertempat tinggal di hutan belukar, tanah
rawa dan lain sebagainya.
Adanya kepercayaan yang demikian itu bubuhan orang Banjar yang mendiami daerah tertentu mengadakan
upacara setahun sekali, yaitu upacara yang berkaitan dengan lingkungan. Para
petani dalam lingkungan persawahan mengadakan selamatan padang atau menyanggar
padang sebelum memulai kegiatan bertani. Para nelayan di pantai Pagatan
Kabupaten Tanah Bumbu setiap tahun menyelenggarakan Upacara Mapantari Tasi
dengan harapan mendapatkan tangkapan ikan yang lebih banyak di tahun mendatang.
Demikian juga sebagai contoh lain para pendulang intan melaksanakan kegiatan
selamatan (menyanggar) di lokasi pendulangan sebelum melaksanakan kegiatan
pendulangan.
Demikianlah, kebudayaan dan adat
istiadat yang ada dan tumbuh di Kalimantan Selatan cukup banyak variasinya
sesuai dengan keadaan kelompok sukubangsa dan kepercayaan yang mereka anut. Meskipun
sesungguhnya keberadaan budaya dan adat istiadat itu sudah diketahui, namun
tidak dengan begitu saja bisa diterima oleh semua pihak karena keterikatan pada
pemahaman masing-masing individu dan kelompok. Apalagi jika budaya dan adat
istiadat itu hendak dikaitkan dengan agama dan kepercayaan penganutnya secara
murni dapat menimbulkan persoalan yang berbau SARA dalam kehidupan masyarakat. Untuk
itu diperlukan kearifan kita dalam memahaminya supaya kehidupan bermasyarakat
selalu harmonis walaupun berbeda budaya, agama dan kepercayaan.
(HRN: maaf naskah ini jangan dicopy ke blog lain).
(HRN: maaf naskah ini jangan dicopy ke blog lain).
Jumat, 18 Oktober 2013
PINTU-PINTU SORGA
Disusun oleh: Ramli Nawawi
Sahabatku,
Salah satu
dari kalimat doa kita ketika selesai melaksanakan shalat tarwih dan witir pada
bulan Ramadhan adalah berbunyi : as alukal jannata wa a’uzubika minan naar, atau:
Allahumma tiqni minan naar, wa ad hilnal jannata ya rabbal alamiin. Doa kita
tersebut pa intinya memohon kepada Allah SWT agar terhindar dari siksa api
naraka dan memohon kepada Allah Tuhan pemilik alam ini untuk bisa masuk ke
sorgaNya.
Sahababatku,
Kalau kita
mau menyimak isi Al Qur’an, maka Allah SWT telah banyak menggambarkan tentang
keindahan surga, tentang kenikmatan yang didapatkan di surga, juga kesenangan
yang didapatkan di surga.
Bagaimana
keindahan surga telah dilukiskan Allah SWT dalam Surah Ad-Dahr (masa):
…
“Apabila
engkau lihat di sana,
sehingga engkau lihat nikmat (kesenangan yang tidak terhingga) dan kerajaan
yang besar”.
Sedangkan nikmat bagi orang-orang yang
berada di dalamnya, digambarkan Allah SWT pada ayat 51 dan 52 Surah Ad-Duchan:
…
“Sesungguhnya orang-orang yang takut
kepada Allah, berada dalam tempat yang sentosa (aman). Yakni dalam surga yang
bermata air”.
Demikian pula tentang kesenangan dalam
surga digambarkan sebagaimana firman-Nya pada Surah Assaffat: ayat 41,42,43:
…
“Maka bagi
mereka itu rezeki yang terang, yakni beberapa buah-buahan, sedangkan mereka
dimuliakan, dalam surga kesenangan”.
Sahabatku,
Kalau
demikian gambaran keindahan, nikmat dan kesenangan yang diberikan Allah SWT
bagi orang-orang yang berhasil memasuki surganya Allah tersebut, maka tidak
heran kalau orang-orang kemudian berusaha untuk mendapatkan kuncinya agar bisa
juga masuk ke surganya Allah tersebut.
Kunci surga
tentu saja bukan seperti kunci bangunan seperti yang kita bayangkan. Menurut
banyak ulama, yang dimaksud dengan kunci surga adalah pernyataan dua kalimah
syahadat dari seseorang. Maka dengan
dua kalimah syahadat itu seseorang akan berhak memasuki surga.
Jadi kunci surga itu adalah berupa ikrar
dan keyakinan hati seseorang: bahwa:” tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa
Muhammad SAW adalah nabi dan utusan Allah”. Tapi belum cukup bahwa seseorang
itu bertuhan, atau mengaku percaya pada tuhan. Atau sekedar mengakui
bahwa: “alam semesta ini ada penciptanya”.
Tidak cukup
seseorang hanya bertuhan kepada Allah SWT, sementara dia masih menuhankan
benda-benda lain seperti kuburan, keramat, orang sakti, keris, arwah nenek
moyang, dll.
Inti dari
kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah adalah bahwa seseorang tidak
mengakui adanya segala macam tuhan dan kekuatan , kecuali hanya Allah saja.
Yang kedua
dari konsep sahadat adalah bahwa seseorang tidak cukup hanya kagum dan memuji
seorang Muhammad SAW. Tetapi harus mengakui bahwa Muhammad SAW itu adalah
seorang manusia yang mendapatkan wahyu dari Allah SWT. Dan isi wahyu itu adalah
sebuah aturan hidup yang harus dijadikan
sebagai pandangan hidup.
Tanpa
keyakinan atas hakekat atau inti dari syahadatain, maka surga tidak bisa
dimasuki oleh siapapun, karna kunci surga adalah syahadatain.
Sahabatku,
Untuk memasuki
surga, Allah SWT menyediakan beberapa pintu, sebagaimana firman-Nya, dalam
Surah Az-zumar ayat 73:
…….
“ Dan
orang-orang yang bertaqwa kepada Allah dibawa ke dalam surga
berombong-rombongan, sehingga apabila mereka sampai ke surga itu sedang
pintu-pintunya telah terbuka, dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya:
“Kesejahteraan atasmu. Berbahagialah
kamu. Maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya”.
Sahabatku,
Dalam sebuah
hadist disebutkan bahwa jumlah pintu surga itu ada 8 buah.
Hadist yang diriwayatkan Bukhari, dari Sahal
bin Saad r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, “ Di surga ada 8 pintu, salah
satunya pintu yang disebut Ar-Rayyan yang tidak bisa dimasuki kecuali hanya orang-orang
berpuasa
Masing-masing pintu dikhususkan buat
orang-orang yang mengamalkan jenis ibadah dan ketaatan tertentu dengan kualitas
yang baik. Tentunya orang itu juga sudah punya kunci surga dan pahala ibadahnya
tidak berkurang dengan banyaknya dosa yang harus ditebusnya.
Oleh para ulama, dikumpulkan keterangan
itu dan berhasil disusun daftar nama-nama pintuitu:
- Pintu Muhammad SAW atau pintu taubah
- Pintu shalat
- Pintu puasa (Ar-Rayyan)
- Pintu zakat
- Pintu haji dan umrah
- Pintu Jihad
- Pintu sadekah
- Pintu silaturrahmi
Demikian pula surga punya derajatnya
masing-masing. Surga yang paling tinggi derajatnya adalah Surga Firdaus Al A’la.
Posisinya ada di bawah Arsy Ar Rahman.
Dari surga Firdaus itu keluar mengalir sungai-sungai surga besar yang empat, yaitu sungai susu,
sungai madu, sungai khamar, dan sungai air.
Al Firdaus ini adalah tempat untuk nabi
Muhammad SAW nanti, serta orang-orang yang mendapat syafaat dari beliau.
Derajat yang berada di bawah Firdauas
adalah surga Illiyyin, yaitu untuk
para nabi dan para syuhada. Termasuk juga orang-orang yang sabar dari bala dan
penyakit, serta orang-orang yang mencintai di jalan Allah.
Sandaraku,
Semoga setelah kita menunaikan ibadah
puasa Ramadhan dan ibadah puasa sunah lainnya, kemudian menjadi orang yang
senantiasa berada di jalan Allah, maka kita mohon pintu Ar Rayyan terbuka untuk
kita untuk masuk ke sorganya Allah tersebut. Amin.
Jumat, 20 September 2013
SEKILAS TENTANG KOTAMADYA BANJARMASIN
SEKILAS TENTANG KOTAMADYA BANJARMASIN
IBU KOTA PROPINSI KALIMANTAN SELATAN
Oleh: Ramli Nawawi
Secara geografis Kotamadya Banjarmasin terletak di
antara 3° 15 LS sampai dengan 3° 22 LS dan 114° 98 BT, pada ketinggian rata-rata
0,16 meter di bawah permukaan air laut. Karena itu pada waktu terang bulan air
laut bagian selatan naik ke sungai, pantai, dan menggenangi jalan-jalan yang
rendah permukaannya di Kotamadya Banjarmasin.
Air laut yang naik ini disebut ”banyu pasang”. Jika banyu teramat dalam disebut
pasang ramban, dan kalau pasang terjadi dua kali sehari semalam disebut ”pasang
pin dua”. Pada waktu musim kemarau panjang, air pasang ini naik membawa air
asin, yang diucapkan oleh orang Banjar muara atau kuala sebagai ”masin”. Hal
ini pula menurut versi penduduk setempat
melahirkan nama Banjarmasin.
Sebagaimana daerah lain yang letaknya dekat dengan
daerah garis khatulistiwa, Banjarmasin termasuk daerah yang berudara panas,
iklim tropis, lembab dan umumnya banyak turun hujan, rata-rata tiap bulan 6-15
hari dengan curah hujan rata-rata 2000-2700 mm, terbesar dalam bulan
Desember/Januari dan terkecil dalam bulan Juli/Agustus. Masing-masing dapat disebut musim timur yang
menghembuskan angin yang membawa hawa panas dan musim barat yang membawa hawa
dingin dan mengandung basah. Keadaan suhu rata-rata di antara 26° C hingga 34°
C. Sesuai dengan keadaan alamnya Banjarmasin dialiri oleh banyak sungai besar
dan kecil yang kesemuanya dimanfaatkan untuk sarana perhubungan antar kota,
desa dan daerah. Diantaranya adalah Sungai Barito yang terbesar, Sungai
Martapura dan sungai-sungai kecil lainnya.
Dekat muara Sungai Barito terdapat pulau-pulau,
yaitu Pulau Bakut, Pulau Kambang, Pulau Tempurung, Pulau Tamban, Pulau Alalak
dan Pulau Kaget. Di antara pulau-pulau itu Pulau Kambang yang terkenal dipandang
keramat oleh sebagian orang dari suku tertentu
di Kalimantan Selatan. Pulau ini seluruhnya didiami oleh kera-kera yang
dipandang keramat, diberi sesaji, kemenyan, makanan dan buah-buahan. Kotamadya
Banjarmasin sendiri terletak pada sebuah pulau atau delta yang disebut Pulau
Tatas, letaknya tidak jauh dari Muara Sungai Barito.
Kotamadya Banjarmasin saat ini di sebelah utara
berbatasan dengan Daerah Tingkat II Kabupaten Barito Kuala, di sebelah selatan
dengan Daerah Tingkat II Kabupaten Tanah Laut, , di sebelah timur dengan Daerah
Tingkat II Kabupaten Banjar, dan di sebelah barat dengan Sungai Barito wilayah
Kabupaten Barito Kuala.
Kotamadya Banjarmasin mempunyai luas lebih kurang
72.0776 km² atau 7.207,76 ha, dengan
rincian sebagai berikut: tanah bangunan
1.861,85 ha (25,8%), tanah perkebunan 1.980,20 ha (27,5%), tanah
persawahan 2.746,81 ha (38,1%), jalan/sungai 426,26 ha (5,9%), dan
rawa-rawa/tanah kosong 192,54 ha (2,7%) * data 1990. Pusat kota terletak di
suatu dataran delta di muara cabang Sungai Barito dan keadaan tanahnya hampir
seluruhnya merupakan rawa-rawa dan kadang-kadang digenangi air.
Hoone, seorang ahli geologi yang melakukn
penelitian tentang Kota Banjarmasin, berkesimpulan bahwa pada kedalaman 4,5 meter
sampai dengan 11 meter, jenis batuannya empuk, hitam, lumpur dan tanah liat
dengan batang pohon rapuh. Pada kedalaman 26 meter sampai 33 meter, ditemukan
tanah merah, tanah liat warna kelabu .Sampai kedalaman itu merupakan bentuk
batas-batas geologis. Sampai kedalaman 50 meter terdapat olioceenlogen di atas
Zaman Kuartair. Untuk menentukan batas alluvial dan diluvial menemui kesulitan,
karena kekurangan bukti-bukti konkret.
Keadaan penggunaan tanah akan selalu berubah
sesuai dengan perkembangan kota. Dengan bertambahnya jumlah penduduk di masa
mendatang akan menunjukkan, bahwa penggunaan tanah perkebunan, persawahan dan
tanah kosong lainnya akan berangsur-angsur berkurang, dan sebaliknya
tanah-tanah bangunan akan bertamabah. (RN, Sejarah Kota Banjarmasin).
Jumat, 23 Agustus 2013
mengerti sejarah
MENGERTI SEJARAH MENDIDIK
ORANG BERTINDAK ARIF
Oleh: Drs. H. Ramli
Nawawi
Mungkin sebagian banyak orang Indonesia
tahu tentang ungkapan “sejarah adalah cermin kehidupan”. Maksudnya apabila
seseorang belajar dan memahami sejarah, ia akan bisa mengetahui kesalahan-kesalahan
atau kekurangan-kekurangan suatu tindakan yang perlu diperbaiki, atau
sebaliknya tentang kebenaran dan keunggulan yang perlu dipertahankan atau
ditingkatkan, bahkan dipakai untuk bertindak ke depan.
Sementara itu untuk menentukan
sikap ke depan, tanpa melihat kenyataan-kenyataan yang dihadapi saat ini, tidak
akan memperoleh hasil yang diharapkan. Demikian juga dalam mempelajari dan
memahami keadaan masa kini, tidak akan tepat tanpa mengetahui dan memahami
peristiwa-peristiwa yang terjadi sebelumnya.
Karena itu dalam pendidikan
sejarah dikenal “sistem tiga deminsi”, yakni dengan membahas
peristiwa-peristiwa masa lalu, kemudian menganalisa peristiwa-peristiwa yang
sedang berlangsung (masa kini), maka orang akan melihat gambaran gambaran masa
yang akan datang. Dengan demikian orang yang belajar sejarah dengan benar akan
dapat membuat kemungkinan-kemungkinan yang harus dilakukan untuk memasuki masa
depan.
Tidak bisa dimungkiri juga bahwa ada kaitan berantai antara satu generasi
dengan genarasi berikutnya. Umumnya apa yang diwarisi generasi masa kini adalah
hasil perjuangan, tindakan, atau prilaku generasi sebelumnya. Sehubungan dengan
hal tersebut sejarah bisa mewariskan kebanggaan bagi generasi berikutnya, atau
sebaliknya mewariskan suatu kebencian terhadap pendahulunya.
Berkaitan dengan hal tersebut di atas, mungkin bisa kita simak bagaimana
sikap dan tindakan mereka yang dikatagorikan sebagai putra-putra terbaik bangsa
pada masa hidupnya. Kita mengenal tokoh-tokoh seperti Jenderal Sudirman, Jenderal
A. Yani, Ki Hajar Dewantara, dan beberapa tokoh lainnya yang berjasa bagi bangsa Indonesia ini, bukankah mereka
itu mewariskan kebanggaan di hati anak cucunya, bahkan di hati bangsa Indonesia
pada umumnya.
Tetapi bagi mereka yang keliru
langkah, seperti (maaf bagi yang belum baca, karena ada pencopot yang merubah judul dan penulis dan masuk ke blog ybs).
Bagi mereka yang menyadari bahwa
sejarah akan mewariskan kebanggaan atau kebencian terhadap dirinya, bahkan
sadar pula bahwa tidak hanya kebencian tetapi juga penderitaan bagi pewaris
mereka yang salah langkah pada masa hidupnya itu, maka bagi orang-orang yang
mengerti sejarah hal itu adalah suatu pendidikan yang bisa membuat seseorang
berlaku arif dalam berbuat dan bertindak dalam hidupnya.
(RN: disusun dari berbagai sumber).
Kamis, 22 Agustus 2013
Langganan:
Postingan (Atom)