Kamis, 14 Mei 2009

Mampir di Monumen Yogya Kembali

MAMPIR DI MONUMEN YOGYA KEMBALI

Oleh:
Drs. H. Ramli Nawawi

Di Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini ada terdapat sekitar 20 buah monumen yang tersebar di 5 kabupaten/kodya. Pada umumnya monumen-monumen tersebut mengacu pada peristiwa sejarah perjuangan dan menegakkan kemerdekaan Indonesia. Dari berbagai monumen tersebut pada kesempatan ini kita akan mampir dan berbicara sepintas tentang Monumen Yogya Kembali yang terletak di Jalan Lingkar Utara, Dusun Jongkang, Desa Sariharjo, Kecamatan Ngaklik, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Monumen Yogya Kembali dibangun pada tanggal 29 Juni 1985. Nama tersebut diambil dari peristiwa sejarah ditarikmundurnya tentara Belanda dari Ibukota Negara RI Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949 dan kembalinya Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta dan para pimpinan negara lainnya pada tanggal 6 Juli 1949 di Yogyakarta.

Seperti disebutkan dalam sejarah bahwa setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1945 situasi di Jakarta Ibukota Negara RI tidak aman. Para pimpinan negara tidak bisa bekerja dengan baik karena adanya rongrongan tentara Sekutu (Inggeris-Gurkha). Karena itu Pemerintah Pusat memutuskan memindahkan Ibukota Negara RI dari Jakarta ke Yogyakarta mulai tanggal 4 Januari 1946.

Namun usaha Belanda untuk berkuasa kembali terus berlangsung. Perjanjian Linggarjati tidak membawa hasil, tentara Belanda kemudian melakukan Agresi Militer I (2 Juli 1947), dan dilanjutkan dengan Agresi Militer II (19 Desember 1948). Kota Yogyakarta diduduki tentara Belanda dan mereka menawan Presiden Soekarno, Wakil Presiden Moh. Hatta, serta para Menteri yang kemudian mengasingkan mereka ke luar Pulau Jawa.

Sejak itu pula bangsa Indonesia berjuang terus. Tentara Republik melakukan gerilya di bawah pimpinan Jenderal Sudirman, dan juga para pemimpin negara melakukan diplomasi lewat berbagai perundingan. Kota Yogyakarta secara seporadis selalu mendapat serangan dari Tentara Republik. Sebagai puncak Tentara Republik Indonesia melakukan Serangan Umum pada tanggal 1 Maret 1949 dan berhasil menduduki Kota Yogyakarta selama 6 jam.

Peristiwa ini membuka mata dunia bahwa Tentara Republik Indonesia masih ada dan masih sanggup berjuang untuk melawan tentara penjajah Belanda. Sehubungan dengan itu Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam sidangnya pada tanggal 23 Maret 1949 mengambil keputusan agar penjajah Belanda mengosongkan wilayah Republik Indonesia dimulai dari Kota Yogyakarta sebagai Ibukota Nerara RI.

Peristiwa tersebut kemudian dilanjutkan dengan berlangsungnya perundingan yang menghasilkan Persetujuan Roem-Royen yang salah satu isinya tentang dibebaskannya Yogyakarta dari pendudukan tentara Belanda. Sehubungan dengan itu mulai tanggal 24 Juni 1949 tentara Belanda ditarik keluar dari Kota Yogyakarta. Penarikan tentara Belanda ke luar Kota Yogyakarta tersebut berakhir pada tanggal 29 Juni 1949, sehingga tanggal tersebut dinyatakan sebagai kembalinya Kota Yogyakarta sebagai Ibukota Negara RI. Peristiwa tersebut kemudian disusul dengan kembalinya para pemimpin Republik Indonesia ke Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 1949.

Monumen Yogya Kembali berbentuk kerucut dengan ketinggian 31,80m didirikan di atas lahan seluas 49920m2. Lokasi ini dipilih oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, konon terletak di garis poros antara Gunung Merapi-Monumen Yogya Kembali-Tugu Pal Putih-Kraton-Panggung Krapyak-Laut Selatan. Poros yang dikenal sebagai “Sumbu Imajinir” yang sampai saat ini masih dihormati oleh masyarakat Yogyakarta. Monumen Yogya Kembali diresmikan pembukaannya oleh Presiden Suharto pada tanggal 6 Juli 1989.

Setiap pengunjung Monumen Yogya Kembali sebelum masuk ke ruang bangunan monumen, maka di plaza monumen dapat menyaksikan replika pesawat Curing dan pesawat Guntai serta beberapa meriam yang dulu pernah digunakan oleh Angkatan Perang RI. Hal yang perlu diketahui juga adalah pada dinding yang menghadap ke utara terdapat nama-nama 422 orang pahlawan dari daerah perjuangan Wehrkreis III (Yogyakarta) yakni mereka yang gugur antara tgl. 19 Desember 1948 hingga 28 Juni 1949.

Monumen Yogya Kembali merupakan sebuah monumen museum. Bangunan yang berlantai 3 ini memiliki benda koleksi yang lengkap menggambarkan berbagai peristiwa sejak Proklamasi Kemerdekaan 17-8-1945 hingga peristiwa-peristiwa sekitar pengakuan kedaulatan oleh Belanda atas Indonesia pada tanggal 27 Desember 1949.

Di Lantai I, ada terdapat 4 ruang museum berisi koleksi yang berkaitan dengan perstiwa perang kemerdekaan. Bahkan sebelum kita masuk ke ruang-ruang museum tersebut, kita dihadapkan pada beberapa patung pejuang dan sarana-sarana perang lainnya. Termasuk juga ada beberapa patung pahlawan nasional yang pernah melakukan perlawanan terhadap Belanda, seperti patung Imam Bonjol, Nyi Ageng Serang, Tengku Umar, Tyut Nya Dien, serta beberapa jenis meriam (senjata) yang pernah dipakai pada masa perang kemerdekaan.

Ruang Museum 1, merupakan ruang pamer dengan thema “Sekitar Proklamasi Kemerdekaan”, dengan benda-benda koleksi mulai sekitar Proklamasi sampai dengan Pemberontakan PKI Madiun tahun 1948. Di ruangan ini terdapat 28 buah panel dan vitrin dari berbagai peristiwa kegiatan perjuangan bangsa Indonesia, seperti pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17-8-1945 yang berlangsung di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, suasana Rapat Umum menyambut kemerdekaan di Lapangan Ikada Jakarta, tentang bambu runcing serta tokoh kharismatik K.H. Subchi dari Parakan, situasi Yogya sewaktu menyambut berita Proklamasi serta peristiwa-peristiwa sekitar dan sesudah proklamasi, berbagai senjata yang dipergunakan pada masa revolusi, berbagai pasukan kekuatan pendukung revolusi (PETA,TP,dll), berbagai panji divisi APRI, foto-foto perjuangan di bidang politik diplomasi, berbagai senjata api dalam perang kemerdekaan. Terakhir tentang peristiwa pemberontakan PKI Madiun (18 September-30 September 1948), foto-foto para korban serta usaha-usaha penumpasannya.

Ruang Museum 2, merupakan ruang pamer dengan thema “Ruang Gerilya dengan Sistem Pertahanan Rakyat Semesta”. Di ruang ini terdapat barang-barang koleksi tentang perjuangan bangsa Indonesia dalam membela, menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan pada waktu Agresi Militer II tanggal 19-12-1948.

Dalam ruangan ini ada 17 panel dan 8 vitrin berisi antara lain foto-foto dan benda yang berkaitan dengan peristiwa setelah Agresi Militer II, seperti tentang ditawannya Presiden dan Wakil Presiden serta para pejabat lainnya (Presiden ke Prapat kemudian ke Bangka, Wakil Presiden ke Bangka), tentang peranan Tentara Pelajar (TP), peranan Media massa dan sarana komunikasi, perlengkapan/peralatan yang dipakai Jenderal Sudirman, peranan Sultan Hamengku Buwono IX, foto-foto tentang KMB dan kembalinya kekuasaan atas Ibukota Yogyakarta, pelantikan Presiden RIS tanggal 17-12-1949, serta tentang berbagai kegiatan Prresiden Soekarno.

Ruang Museum 3, merupakan ruang pamer dengan thema “Seputar Pelaksanaan Serangan Umum 1 Maret 1949”, yakni berupa foto-foto, benda-benda bersejarah dan replika, seperti tentang pendudukan lapangan terbang Maguwo dan Ibukora RI Yogyakarta oleh Militer Belanda, situasi Perang Rakyat Semesta/gerilya, tentang peran Letnan Kolonel Suharto sebagai Komandan Wilayah Wehrkreis III, tentang peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, dan berbagai barang yang dipakai pada masa perjuangan.

Ruang Museum 4, merupakan ruang pamer dengan thema “Yogya Sebagai Ibukota Negara RI”, antara lain terdapat patung Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta dan beberapa tokoh lainnya, teks Proklamasi, foto-foto kegiatan Presiden dan Wakil Presiden selama di Yogyakarta, serta beberapa barang yang pernah digunakan selama revolusi.

Di Lantai II, terdapat koleksi-koleksi dalam bentuk relief dan diorama. Ada terdapat 40 buah relief yang menggambarkan peristiwa dari Proklamasi Kemerdekaan tanggal 17 Agustus 1945 sampai dengan Presiden Soekarno kembali dari Yogyakarta ke Jakarta tanggal 28 Desember 1949.

Sementara diorama ada 10 buah yang menggambarkan peristiwa dari penyerbuan Tentara Belanda terhadap lapangan terbang Maguwu pada Agresi Militer II tanggal 19 Desember 1948 hingga penarikan tentara Belanda dari Yogyakarta tanggal 29 Juni 1949 dan peristiwa Peringatan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Yogyakarta tanggal 17 agustus 1949.

Di Lantai III, yang disebut Garbha Graha atau Ruang Hening yang luasnya 1.121m2 terdapat di bagian puncak bangunan monumen. Ruang ini berfungsi untuk kontemplasi pengunjung setelah menyaksikan berbagai penyajian dan visualisasi data sejarah perjuangan bangsa di Lantai I dan Lantai II. Diharapkan para pengunjung dapat mensyukuri karunia Tuhan dan mohon agar para syuhada yang gugur dalam memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini diterima oleh Tuhan YME. Di ruang ini terdapat juga berupa unit bendera pusaka, relief simbolik tentang perjuangan fisik dan diplomatik, serta pesan pejuang untuk generasi penerus. (HRN, peneliti sejarah&nilai tradisional)

Tidak ada komentar: