Jumat, 14 Oktober 2016

proklamasi 17 mei 1949



MENGAPA DISUSUN DAN DIPROKLAMIRKAN
PROKLAMASI 17 MEI 1949

Oleh:
Drs. H. Ramli Nawawi

Pada masa perjuangan menegakkan Proklamasi 17 Agustus 1945, di Kalimantan Selatan oleh tokoh-tokoh pejuang di daerah ini telah dibentuk sebuah organisasi kemiliteran  ALRI (Angkatan Laut Republik Indonesia) Divisi IV (A) Kalimantan Selatan. Organisasi ini merupakan bagian dari Markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang berkedudukan di Mojokerto (Jawa Timur) dengan Panglimanya Letkol. Zakaria Madun dan sebagai Kepala Staf Mayor Firmansyah. Pelantikan Markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan ini berlangsung di Palace Hotel Malang pada tanggal 4 April 1946. Untuk daerah Kalimantan Selatan organisasi ini disebut Divisi IV (A), karena untuk Divisi IV (B) direncanakan untuk daerah Kalimantan Timur, dan Divisi IV (C) untuk daerah Kalimantan Barat.

ALRI Divisi IV (A) Kalimantan Selatan ini merupakan kesatuan tingkat Batalyon dengan nama Batalyon Gerakan Rahasia ALRI Div. IV (A) Pertahanan Kalimantan Selatan. Peresmian berdirinya Batalyon ALRI Div. IV (A) Pertahanan Kalimantan Selatan ini  pada tanggal 18 Nopember 1946 oleh Letkol. Asli Zuchri dan Letda Mursyid utusan dari Markas Besar ALRI Divisi IV Mojokerto. Sebagai Komandan Batalyon dilantik Hassan Basry.dan Batalyon ALRI Divisi IV (A) ini berkedudukan di Kandangan.

Bersamaan dengan terbentuknya Batalyon Gerakan Rahasia ALRI Divisi IV (A) Pertahanan Kalimantan ini, Belanda mulai melancarkan operasi kolonialnya. Menjelang Agresi Militer I (2-7-1947) yang dilancarkan di Jawa dan Sumatera, di Kalimantan Selatan tentara dan polisi Nica Belanda melancarkan aksi pembersihan terhadap satuan gerilya yang berkedudukan di sekitar Lapangan Terbang Samsudin Noor dan menggagalkan usaha sabotage yang dilancarkan pasukan gerilya kota di sekitar pelabuhan Banjarmasin.

Sementara itu Persetujuan Linggarjati yang ditandatangani  pada bulan Maret 1947  menetapkan bahwa Belanda hanya mengakui de facto Republik Indonesia atas Jawa-Madura dan Sumatera, sedangkan daerah lainya termasuk Kalimantan Selatan tetap berada dalam penjajahan Belanda.

Akibat politik dari Persetujuan Linggarjati Kalimantan Selatan terputus dengan Republik Indonesia yang beribukota di Yogyakarta. Karena Kalimantan Selatan berada di luar Republik Indonesia, maka jabatan gubernur Kalimnantan yang dijabat Ir. Pangeran Muhammad Noor dihapuskan. Demikian pula hubungan Batalyon ALRI Divisi IV (A) Pertahanan Kalimantan Selatan juga terputus dengan Markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang waktu itu pindan ke Tuban. Bahkan Markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Tuban dibubarkan. Sebagai gantinya dibentuk Brigade IX dari Seberang dengan komandannya Mayor Firmansyah.
Dalam situasi demikian maka tokoh-tokoh pejuang Kalimantan Selatan hanya ada satu pilihan yaitu harus mengorganisir kekuatan sendiri, kalau tidak dihancurkan oleh musuh. Dalam situasi putusnya hubungan dengan Markas Besar ALRI Divisi IV yang kemudian berubah menjadi Brigade IX tersebut, maka pada pertengahan tahun 1947 untuk kelanjutan perjuangan di Kalimantan Selatan terbentuk Markas Besar berkode RX-8 Divisi IV (A) Pertahanan Kalimantan.

Organisasi Markas Besar RX-8 ini dipimpin oleh Hassan Basry sebagai Komandan Batalyon, sedangkan Kepala Stafnya dipegang oleh H. Abrani Sulaiman,.dengan pusat Markas Besarnya di Birayang.

Dengan dibentuknya organisasi baru ini perjuangan bersenjata di Kalimantan Selatan ditingkatkan serta melakukan tindakan terhadap faktor-faktor yang melemahkan perjuangan, seperti pembersihan mata-mata  atau kaki tangan Belanda,
Organisasi baru ini juga kemudian berhasil merangkul kekuatan di luar ALRI dengan membentuk organisasi gabungan, yaitu: Sentral Organisasi Pemberontak Indonesia Kalimantan (SOPIK). Sehingga organisasi kemiliteran ini kemudian dikenal dengan SOPIK Divisi IV. Sebagai Komandan Batalyon dan Kepala Stafnya tetap dipegang Hassan Basry dan H. Abrani Sulaiman.

Kegiatan operasional militer dari Markas Besar SOPIK ALRI Divisi IV dimulai dengan melakukan pencegatan terhadap konvoi truk tentara Belanda di Hambawang Pulasan. Pertempuran ini langsung dipimpin oleh Kepala Staf H. Abrani Sulaiman dan merupakan pertempuran yang terbanyak mendatangkan korban dari pihak Belanda. Sebuah truk dari konvoi tersebut dapat ditembak dan jatuh terbalik masuk jurang yang mengakibatkan semua tentara Belanda dalam truk tersebut sekaligus tewas. Dari pihak ALRI dua orang gugur bernama Made Kawis, satu orang lagi tertangkap dan langsung ditembak mati oleh Belanda.

Setelah peristiwa pertempuran Hambawang Pulasan tersebut kontak senjata antara  SOPIK ALRI Divisi IV dengan Belanda terus terjadi. Menghindari serangan Belanda kedudukan Markas Besar SOPIK juga kemudian berpindah-pindah dari Haruyan ke Pagat, Haliau dan Hantakan, seterusnya di mana ada Pimpinan Umum dan Kepala Staf di situlah kedudukan Markas Besar. Serta sekaligus menjalankan taktik perang gerilya, yakni dengan menyerang tiba-tiba dan kemudian menghilang. Penyergapan musuh dengan tiba-tiba berupa penghadangan yang dikenal dengan istilah “penyanggulan”.

Sejak bubarnya Markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan yang berkedudukan di Tuban (Jawa Timur) yang merupakan induk ALRI Divisi IV (A) Peratahanan Kalimantan Selatan, sehingga di daerah ini sampai dengan terbentuknya Markas Besar SOPIK ALRI Divisi IV, usaha untuk melakukan penyusunan dan penyempurnaan organisasi territorial di daerah Kalimantan Selatan terus dilakukan. Sementara perlawanan terhadap Belanda terus dilakukan dengan membentuk Sektor-Sektor dan Pangkalan-Pangkalan yang siap berhadapan dengan tentara Belanda.

Kalau di daerah de fakto RI  Jawa dan Sumatera Belanada melancarkan Aksi Militer II (19 Desember 1948) dengan menyerbu Ibukota RI Yogyakarta, maka di Kalimantan Selatan 3 hari sebelumnya yakni tanggal 16 Desember 1948 NICA Belanda  menyatakan daerah ini dalam keadaan SOB (Staat van Oorlogen Beleg). Selanjutnya Belanda melakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh pejuang dan tokoh-tokoh pimpinan rakyat yang oleh Belanda dicurigai. (bersambung)

Untuk menandingi tindakan Belanda melakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh pejuang di daerah Kalimantan Selatan, Pimpinan Umum Markas Besar RX-8 SOPIK ALRI Divisi IV Petahanan Kalimantan Selatan tanggal 25 Desember 1948 memerintahkan serangan umum setentak tanggal 1 Januari 1949. Untuk menambah senjata beberapa satuan lebih dulu melakukan penyerangan terhadap pos-pos Belanda yang terpencil, seperti terhadap Onderneming Hayup tanggal 27-12-1948, pos Belanda Amuntai 28-12-1948, Paringin 29-12-1948.

Selanjutnya Serangan Umum dilaksanakan tanggal 1 Januari serangan atas Haruai, Negara 2 Januari, Tanjung 3 Januari, Ampah dan Tamiang Layang 4 Januari, Lapangan Kandis 9 Januari, Sungai Tabuk 9 Januari, Wawai 14 Februari, Tebing Rimbah 17 Februari, serta beberapa tempat lainnya. Penyerangan atau penghadangan terhadap konvoi militer Belanda di Tungkap Rantau banyak menimbulkan korban kedua belah pihak.        

Di tengah-tengah berkecamuknya perang perlawanan terhadap Belanda  ini Pimpinan Umum menunjuk Gt. Abdurrahman (Gusti Aman) sebagai korektor untuk memperbaiki susunan organisasi Markas Besar RX-8 SOPIK ALRI Divisi IV. Gusti Aman mengajak Munir untuk berangkat ke pedalaman dalam tugasnya sebagai Korektor Susunan, dengan membawa Konsep Rehabilisasi Divisi IV ALRI  (A) Pertahanan Kalimantan Selatan.

Pada pertengahan bulan Februari 1949 diadakan rapat anatara pimpinan-pimpinan gerilya
ALRI Divsi IV (A) Pertahanan Kalimantan Selatan. Hasilnya Markas Besar RX-8 Divisi IV (A) Peratahanan Kalimantan Selatan membentuk beberapa Markas Daerah yang membawahi Markas-Markas Pangkalan, dan tiap Markas Pangkalan mempuyai Seksi-Seksi.dengan berbagai tugas masing-masing. Di samping itu berusaha mengadakan hubungan dengan Pemerintah RI atau Pemerintah Darurat di Sumatera dengan jalan apapun.

Dalam bulan Maret 1949 berlangsung Rapat Umum bertempat di Malutu. Rapat ini dihadiri oleh utusan-utusan dari daerah-daerah di Kalimantan Selatan. Dalam rapat ini Budhigawis sebagai Komisaris Gerakan menjelaskan hal-hal mengenai organisasi, susunannya, dan rencana perjuangan selanjutnya.

Selanjutnya terjadi beberapa kali rapat-rapat terbatas dalam rangka penyusunan organisasi. Kemudian pada tanggal 9 ke 10 Mei 1949 berlangsung rapat di Durian Rabung (Padang Batung) yang dihadiri Pimpinan Umum Hassan Basry, Kepala Staf H. Abrani Sulaiman, Korektor Susunan Gusti Aman, P. Arya (Munir), Setia Budi, dan R. Sukadani. Karena terjadi kontak senjata rapat diteruskan besoknya di Pagat Batu, di mana Pimpinan Umum memberi petunjuk agar segala yang direncanakan dan telah dimulai perencanaannya, yakni program perjuangan dan program perbaikan ALRI Divisi IV tersebut, diteruskan di mana saja, dan apabila telah menjadi keputusan/kebulatan pendapat supaya dibawa kepada Pimpinan Umum di Niih untuk mendapatkan keputusan terakhir.

Setelah itu kelompok berpisah menjadi 3 bagian. Kelompok Hassan Basry ke Niih, Kelompok H. Abrani Sulaiman dan Budhigawis menuju Kalinduku, Haruyan, dan kelompok Gusti Aman, P. Arya, dan Hasnan Basuki ke Mandapai, Telaga Langsat, Haruyan.             

Tiba di Telaga Langsat Gusti Aman, P. Arya dan Hasnan Basuki meneruskan penyusunan program kerja. Susunan yang dihasilkan Pemerintahan berbentuk Gubernur Tentara, yaitu pemerintahan berbentuk militer sesuai dengan situasi perang. Karena pada saat itu sudah diketahui pula tentang adanya Pemerintahan Darurat di Sumatera (karena Yogyakarta Ibukota RI diduduki Belanda), maka perlu suatu pernyataan atau proklamasi bahwa di Kalimantan Selatan telah berdiri suatu Pemerintahan Militer sebagai persiapan menghadapi gagalnya Pemerintahan Darurat di Sumatera serta gagalnya Pemerintahan Pelarian di New Delhi. Sehingga Kalimantan dipersiapkan untuk dijadikan pusat Pemerintahan Republik Indonesia sebagai usaha kelanjutan menegakkan kemerdekaan Republik Indonesia.

Selanjutnya dalam rapat lanjutan tanggal 15 dan 16 Mei 1949 di Telaga Langsat yang juga kemudian dihadiri  H. Abrani Sulaiman dan Romansi, dibahas rumusan tentang teks proklamasi, personalia pemerintahan, program kerja bidang politik dan ekonomi yang akan dijalankan.

Teks proklamasi disusun bersama oleh Gusti Aman, P. Arya, H. Abrani Sulaiman dan Budhigawis. H. Abrani Sulaiman menambahkan kata-kata “Kalau perlu  diperjuangkan sampai tetesan darah yang penghabisan “. Lengkapnya proklamasi berbunyi:

                                                         PROKLAMASI
Merdeka!
Dengan ini kami rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan, mempermaklumkan berdirinya Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI melingkupi seluruh daerah Kalimantan Selatan menjadi bagian dari Republik Indonesia untuk memenuhi isi Proklamasi 17 Agustus 1945, yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta. Hal-hal yang bersangkutan dengan pemindahan kekuasaan akan dipertahankan dan kalau perlu diperjuangkan sampai tetesan darah yang penghabisan.
Tetap Merdeka.
                                                 
Kandangan, 17 Mei IV Rep….
Atas nama Rakyat Indonesia di Kalimantan Selatan

      dtt
                                                         
Hassan Basry

Pagi-pagi tanggal 17 Mei 1949 Teks Proklamasi serta berkas Susunan Personalia Pemerintahan Gubernur Tentara ALRI dibawa untuk ditandatangani Pimpinan Umum Hassan Basry yang berada di Niih oleh Gusti aman, P. Arya, Hasnan Basuki dan seorang pembantu bernama Dahlan. Pukul 5 sore rombongan tiba di Niih dan berjumpa dengan Pimpinan Umum Hassan Basry yang didampingi ajudannya Tobelo. Rombongan menyerahkan barkas Proklamasi dan berkas-berkas lainnya untuk dipelajari dan ditandatangani oleh Pimpinan Umum Hassan Basry.

Proklamasi 17 Mei tidak ditandatangani dan dibacakan pada tanggal 17 Mei itu, tetapi sekitar 3 hari kemudian dengan acara selamatan yang sederhana. Atas permintaan Pimpinan Umum Hassan Basry teks Proklamasi dibacakan oleh P. Arya di hadapan Pimpinan Umum Hassan Basry dan pimpinan AlRI lainnya. P. Arya yang pernah diwawancarai juga lupa tanggalnya yang tepat. Selain teks Proklamasi yang harus ditanda tangani oleh Pimpinan Umum Hassan Basry juga surat-surat penting antara lain surat Kepada Delegasi Pemerintah RI di Jakarta, surat Kepada Anggota Dewan Banjar yang dianggap progresif, dan berkas-berkas berkaitan dengan Pemerintahan Militer ALRI yang baru dibentuk.

Teks Proklamasi 17 Mei 1949 secara resmi dibacakan oleh Pimpinan Umum Hassan Basry dalam suatu upacara di Mandapai yang dihadiri oleh Pasukan Penggempur, anggota Markas Pangkalan terdekat dan masyarakat setempat. (HRN) .  
       


          

     

piagam tanda kehormatan


Rabu, 28 September 2016

22. takdir cinta



                                                  

  TAKDIR CINTA
Ceritera ini fiksi, kalau ada kesamaan nama,
tempat dan lainnya dibuat hanya kebetulan,
entri ini sambungan dari entri 21
Oleh: Ramli Nawawi

22. CINTA DALAM PENANTIAN (1)
Puasa sudah memasuki hari kesepuluh. Berarti Ali sudah kembali ke kampung dari kota tempatnya studinya. Jadi waktu itu sudah memasuki  hari minggu kedua dalam bulan berjalan.
”Sibuk apa ya Li kok nggak ada beritanya”, gumam Ana, pada pagi hari Minggu kedua bulan tersebut.
”Biar aku buat kejutan aja nih, mungkin dia Ali datang hari ini”, gumamnya lagi sendiri.
Ana lalu ke luar kamarnya, ketika ia berdiri di teras rumahnya ia melihat ada kepunakannya  yang masih usia 8 tahun Madi datang ada di pekarangan.
”Di, ikut tante yu”, ucap Ana sepontan.
”Kemana mba ”, sahut bocah kecil ini.
”Ayulah....., tunggu ..., tante siap-siap dulu”, bilang Ana setengah memaksa.
Selang sepuluh menit Ana sudah berpakaian rapi. Memang ia hanya ganti pakaian . Ana sudah biasa walaupun hanya di rumah ia selalu tampil dengan dandanan rapi.
Sebelum berangkat Ana menemui ibunya yang ada di ruang tengah, minta ijin bilang mau bertandang ke tempat teman perempuannya Hadijah bersama Madi keponakannya.  
Ana pergi mengambil kendaraannya yang ada di gudang di samping rummahnya.
“Ayu Madi naik”, bilang Ana kepada keponakannya, yang ia sendiri sudah ada di atas kendaraanya siap berangkat.
Dalam perjalanan Ana berpikir memang kemungkinan Ali akan datang menemuinya pada hari ini. Yang Ana agak kesal, mengapa sudah pulang kampung, sudah dalam satu kota, tapi tak ada beritanya. Ana memang main ke tempat Hadijah kawan sekelasnya dulu.

Dugaan Ana memang benar. Sekitar jam sepuluh pada hari Minggu tersebut, Ali  dengan kendaraannya memasuki pekarangan rumah Ana. Ibu Ana yang kebetulan ada di pekarangan rumah, melihat Ali masuk dan memarkir kendarannya, lebih dulu menyapa Ali.
”Nak Ali nggak janjian ya dengan Ana”, sapa ibunya Ana ketika Ali mendekatinya mengucapkan salam dan mencium tangan ibunya Ana.
”Nggak ma ”, sahut Ali singkat.
”Tadi Ana dengan keponakannya, bilang mau bertandang ke tempat Hadijah temannya,” bilang ibunya Ana.
”O... nggak apa-apa ma”, sahut Ali.
“Nak Ali mau masuk dulu mungkin hanya sebentar”,  ajak ibu Ana menawarkan Ali menunggu masuk rumah.
“Nggak ma, biar saya ada keperluan pergi dulu, nanti akan kembali”, terang Ali.      
Ali kembali mengambil kendaraannya dan menaikinya sambil bilang permisi kepada ibunya Ana. Selanjutnya Ali hanya berputar-putar dengan kendaraannya sambil sekali-sekali singgah di depan dua gedung bioskop yang pada setiap pagi  hari Minggu memutar filem nasional juga filem dari negara luar.

Sementara Ana yang pergi bertandang ke rumah teman perempuannya, hanya karena kekesalannya terhadap Ali, juga tidak lama, tidak sampai setengah jam. Ana dan kepunakannya  kemudian kembali ke rumahnya. Ketiba tiba dan masuk pekarangan rumahnya, ibunya masih ada di pekarangan rumah benah-benah tanaman yang ada di pinggir pekarangan .
“Tidak janjian ya Na sama Ali”, bilang ibunya ketika Ana sudah turun dari kendaraannya.
”Mengapa Ma”, sahut Ana singkat.
”Barusan saja tadi Ali datang, dan kubilang kau ke tempat temanmu, lalu dia bilang mau pergi dulu dan nanti akan kembali”, jelas ibunya Ana.
”Ali bilang akan kembali Ma?, sambung Ana.
”Katanya begitu”sahut ibunya.
Ana menurunkan Madi kepunakannya dari kendaraannya, sambil bilang:”Madi mau pulanga ya?”tanya Ana.
”Ya, tanate, Nek Madi mau pulang”, sapa Madi kepada neneknya.
”Hati-hati, jalannya di tepi aja”, pesan neneknya.
“Ya”, sahut Madi pendek.
Setelah menaruh kendaraan di samping rumah, Ana bersamaan dengan ibunya masuk ke rumah. Ibu Ana langsung ke ruang dapur, sedangkan Ana masuk kamarnya.

Mendengar pesan Ali kepada ibunya Ana, kalau ia akan datang lagi, Ana sengaja tidak ganti pakaian rumah. Mengingat bahwa Ali akan datang ia hanya merapikan dandanannya. Baru sempat duduk sebentar di kursi di kamarnaya, Ana mendengar ada kendaraan masuk pekarangan rumahnya. Ali melihat ada kendaraan Ana di samping rumah, Ali juga langsung memarkir kendaraannya di samping rumah Ana.
”Kayanya ada orang asing datang”, sambut Ana yang sudah berdiri di teras ketika Ali sudah ada di depan teras rumah.
Ali tidak menjawab, ia langsung melepas sepatunya, dan naik teras di mana Ana berdiri menantinya.
”Silakan masuk Ana sayang”, bilang Ali sambil memegang tangan Ana.
”O..ya, untuk hari inii tamunya itu Ana atau Ali”, sambung Ana.
”Hampir saja, kalau tadi aku yang duluan datang, ya tamunya you, tapi karena you yang duluan datang ya Ali lah tamunya”, ujar Ali.     
”Nyindir nih....:”, bilang Ana sambil keduanya bersamaan duduk berdampingan di kursi panjang yang biasa mereka lakukan.
”Nggak”, bilang Ali pendek.
”Ana tahu bukan itu jawabannya yang ada di hati you”, ujar Ana.
”Yang benar aku mestinya bilang apa”:, sungka Ali.
”Kecewa kan, you datang Ana nggak ada di ruamah”, ujar Ana menatap wajah Ali.
”Sedikit saja....”, bilang Ali.
”Iyakan .....Ali kasihku ...., tapi Ali ku kan sudah libur lama, kok nggak ada beritanya, apalagi menemui tunanganya”, balas Ana.
Ali tidak menjawab, ia hanya memandangi wajah Ana sambil menggenggam tangan tunangannya.
Ana juga hanya menunduk, ia telah berkata jujur, kalau ia tadinya kecewa mengapa ketika dalam suasana libur panjang, bahkan telah berada di kota yang sama, tapi malah tak ada beritanya.
Setelah beberapa saat tidak ada saling bicara, Ali kembali menggenggam tangan Ana yang masih duduk di sampingnya.
”Rindu ya Na”, ucap Ali singkat.
Ana hanya menjawab dengan senyuman.
”Inikan baru hampir jam sepuluh, kita jalan you Na”, ajak Ali.
Ana yang sudah terlepas kecewanya terhadap Ali, langsung mengiyakan, dan lalu bangkit minta ijin kepada ibunya.
”Bagaimana”, bilang Ali begitu Ana sudah masuk kembali ke ruang tamu
”Pesan mama ini puasa, jadi pergi jangan lama-lama”, ujar A na.   
(bersambung)

Senin, 26 September 2016

berakhirnya kekuasaan belanda di kalimantan selatan



BERAKHIRNYA KEKUASAAN BELANDA
DI KALIMANTAN SELATAM

Disusun oleh: Drs. H.Ramli Nawawi

Dalam tahun 1941, jauh sebelum pecah Perang Pasifik, orang-orang Jepang yang tinggal di Kalimantan Selatan telah dipanggil pulang ke tanah airnya. Bertahun-tahun mereka telah tinggal di daerah ini, sebagai perintis dan pelaksana kolone ke V pemerintahnya. Jumlah mereka tidak banyak, terdiri dari pengusaha perkebunan Danau Salak dan Pelaihari, pengusaha paberik karet Nomura, pengusaha toko N.ABE dan Takara, dokter Kojen kan, dokter gigi Shogenyi, tukang cukur dan tukang potret.     

Untuk menghadapi perang Pasifik, Belanda sibuk dengan mobilisasi. Orang Belanda, Cina peranakan, orang Belanda, dimasukkan ke dalam Stadswacht (Pasukan Pengawal Kota), Luchtbeschermings Dienst atau LBD (Penjaga Bahaya Udara), Afweer en Vernielings Corp (AVC-Pasukan Pelawan dan Pengrusak) serta kesatuan lain di bawah KNIL.Mobilisasi ini terjadi di tiap-tiap kota seluruh daerah Hulu Sungai dan sebagai pusatnya  di Banjarmasin.Mereka mengadakan latihan perang-perangan sehingga betul-betul Belanda sudah siap jika Jepang datang.

Ketika perang pecah, panik memuncak, sebagian besar orang-orang sipil Belanda dan Cina mengungsi bersama KNIL, dengan kapal ke Jawa. Pada tanggal 8 Pebruari 1942, berangkatlah rombongan pengungsi terakhir dengan kapal TOBA yang diperlengkapi dengan pelampung dan rakit-rakit , tambahan apabila ditenggelamkan oleh musuh. Untuk pertama kali rakyat menyaksikan serangan Jepang terhadap Catalina Belanda di atas Barito.

Ketika Balikpapan jatuh sebagian tentara Jepang menerobos hutan-hutan ke arah Hulu Sungai Utara dan naik ke Muara Uya bagian ter utara dari Kalimantan Selatan dan berbatasan dengan Kalimantan Timur. Tentara Jepang tiba di Tanjung dengan berjalan kaki, ada juga yang bersepeda yaitu sepeda yang dirampas dari penduduk waktu dalam perjalanan . Jumlah tentara Jepang yang datang itu cukup banyak dan segar-segar. Ketika sampai di Tanjung tentara Jepang tersebut mencari Idar, sebab sejak zaman Belanda Idar menjabat sebagai Pembekal. Oleh pimpinan tentara Jepang tersebut, Idar harus membantu setiap datang tentara Jepang yang lewat nanti dengan diberi tanda merah dengan huruf  dan bahasa Jepang. Tentara Jepang ini hanya berhenti selama 3 hari, rombongan meneruskan perjalanan ke Amuntai. Kurang lebih dua minggu kemudian datang lagi rombongan tentara Jepang. Mereka yang datang ini naik kuda, jadi tidak berjalan kaki. Sebagaimana tentara yang terdahulu, tentara inipun menemui Idar, dan karena sudah ada ban merah di lengan Idar, hubungan dengan Jepang tersebut berjalan dengan lancar.

Tentara Jepang tiba di Amuntai secara mendadak, tidak lewat jalan raya, tapi jalan sungai dengan perahu. Sehari sebelum tentara Jepang ini masuk kota, pemerintah Belanda membumihanguskan beberapa gudang karet, gudang beras dan yang bersifat vital lainnya. Belanda memperkirakan tentara Jepang yang datang tidak berdaya karenannya. Tentara Belanda, Polisi, Stadswacht  dan sebagainya tak berdaya sama sekali dan masing-masinng melarikan diri dengan membuang senjata ke sungai, sehingga Jepang masuk langsung bisa menyatukan diri denagan masyarakat.Masyarakat pinggiran kota di ajak ke kota mengangkut barang-barang dan membongkar toko segala bahan makanan, toko pakaian.  Dalam hal ini toko Cina menjadi sasaran pembongkaran.

Pada waktu itu yang memimpin kota Amuntai adalah seorang aspiran Controleur Belanda. Aspiran ini ditangkap Jepang dan ditembak, begitu pula dua orang polisi di muka jembatan Paliwara dan dilemparkan ke kali. Jepang menggunakan rumah Controleur tersebut sebagai asrama tentara Jepang. Tentara Jepang yang datang ke Amuntai ini mula-mula hanya 3 (tiga) orang yang menduduki kota Amuntai, kemudian datang lagi 5 (lima) orang dan yang tiga orang terdahulu datang berangkat lagi meneruskan perjalanan ke arah selatan, yaitu Barabai, begitu seterusnya silih berganti, dan seterusnya Banjarmasin.
(HRN, Peneliti Jarahnitra:  ”bersambung”)

Rabu, 17 Agustus 2016

kalimantan selatan sekitar proklamasi kemerdekaan 17-8-1945



KALIMANTAN SELATAN
SEKITAR PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17-8-1945

Oleh:
Drs. H. Ramli Nawawi

Bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hirosima dan Nagasaki telah memaksa Jepang untuk menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 15 agustus 1945. Peristiwa penyerahan ini di Indonesia sangat dirahasiakan oleh Jepang. Namun rakyat Indonesia yang selalu mengikuti perkembangan perang di Asia Timur Raya pada waktu itu sudah melihat tanda-tanda bahwa Jepang sudah tidak berdaya lagi.

Tidak terkecuali apa yang terjadi di Kalimantan Selatan pada saat berakhirnya kekuasaan Jepang tersebut. Ada beberapa peristiwa yang menunujukkan bahwa Jepang di daerah ini sudah tidak berdaya lagi.
 1. Ketika pesawat pembom Serikat menyebarkan selebaran di atas Kota Banjarmasin pada tanggal 15 Agustus 1945, kubu meriam penangkis serangan udara milik Jepang yang ada di Sungai Jingah tidak mengadakan reaksi apa-apa.  
 2. Sebagian dari selebaran Sekutu yang berisi permintaan agar Jepang menyerah tersebut dapat dipungut oleh rakyat, dan Jepang tidak melakukan tindakan apa-apa.
 3. Bahkan kemudian bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945 kubu meriam penangkis serangan udara yang terdapat di Sungai Jingah Banjarmasin dibongkar sendiri oleh Jepang.

Apabila peristiwa kekalahan dan menyerahnya Jepang yang sudah terlihat tanda-tandanya tersebut tetap merupakan rahasia untuk rakyat Indonesia, maka demikian pula halnya dengan peristiwa berlangsungnya Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta. Rakyat Indonesia tidak begitu saja dapat mengetahui bahwa wakil-wakilnya di Jakarta sudah memproklamirkan kemerdekaan dan Indonesia sudah bebas dari penjajahan negara manapun.

Apabila dari daerah-daerah di Indonesia ada wakil yang mengikuti kegiatan-kegiatan di Jakarta dalam rangka pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tersebut, maka tidak terkecuali dari daerah ini. Seorang tokoh daerah Kalimantan Selatan waktu itu bernama A.A. Hamidhan, yang pada masa Jepang berkuasa di daerah ini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi surat kabar Borneo Shimboen, pada tanggal 13 Agustus 1945 berangkat dengan kapal terbang Jepang ke Jakarta selaku Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dari daerah Kalimantan Selatan untuk menghadiri rapat-rapat dalam rangka pelaksanaan kemerdekaan Indonesia.

Wakl-wakil bangsa Indonesia yang secara diam-diam mendapat dukungan morel dari orang Jepang di Indonesia telah mempersiapkan akan mengadakan rapat sehubungan dengan kemerdekaan Indonesia ini pada tanggal 16 Agustus 1945. Namun karena tindakan para pemuda yang mempunyai pandangan lain telah melakukan “pengamanan” terhadap Bung Karno dan Bung Hatta, maka rapat yang telah disiapkan tidak jadi berlangsung.

Tetapi kemudian para pemuda yang telah mengambil alih kegiatan, mengumpulkan para wakil bangsa Indonesia termasuk Soekarno-Hatta dalam rapat tanggal 16 Agustus 1945 di rumah Laksamana Maeda, di mana disusun  teks Proklamasi yang diputuskan akan dibacakan besoknya tanggal 17 Agustus 1945 Demikian pula atas usul para pemuda pula agar teks Proklamasi tersebut hanya ditandatangani oleh Soekarno-Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia.

A.A. Hamidhan sebagai wakil daerah Kalimantan Selatan selain turut menghadiri upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan, juga mengikuti rapat-rapat dalam rangka menetapkan UUD 45, memilih Presiden dan Wakil Presiden, serta menetapkan pejabat-pejabat di daerah yang menjadi bangian dari Negara Indonesia Merdeka.

Sehubungan dengan di atas telah ditetapkan sebagai Gubernur Kalimantan yang pertama  adalah Ir. Pangeran M. Noor, sedangkan sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah ditunjuk Mr. Rusbandi dan Ketua Partai Nasional Indonesia Daerah Dr. Susudoro.

A.A. Hamidhan setelah selesai menghadiri rapat-rapat pada tanggal 20 Agustus 1945 kembali ke Banjarmasin dengan pesawat Jepang. Secara implisit A.A. Hamidhan membawa tugas-tugas dari Pemerintah Indonesia yang perlu segera disampaikan kepada masyarakat Kalimantan Selatan. Tugas itu adalah: (1) menyampaikan berita tentang Proklamasi Kemerdekaan, (2) membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah, (3) membentuk Partai Nasional Indonesia Daerah.  

Tapi sejarah berjalan lain, karena setibanya A.A. Hamidhan di Banjarmasin langsung mendapat pengawalan ketat dari penguasa Jepang. Rumah beliau dijaga dan tidak diperkenankan menerima tamu siapa juapun. Sikap dan tindakan Jepang yang berhubungan dengan perintah Sekutu agar tidak merubah status quo sampai dengan penyerahan kekuasaan di daerah ini, menyebabkan satu-satunya orang yang dapat memberikan penjelasan tentang kemerdekaan Indonesia tidak dapat berperan tepat pada waktunya.

Namun dari peristiwa lain yang menggambarkan kenekadan rakyat yang sudah sangat merindukan kemerdekaan ini, pada tanggal 20 Agustus 1945 itu juga berita Proklamasi Kemerdekaan telah menjadi pembicaraan masyarakat di Kandangan. Pada hari itu Borneo Shimboen Edisi Hulu Sungai pimpinan A. Basoeni telah memuat berita tentang kemerdekaan Indonesia berupa teks Proklamasi Kemerdekaan dan adanya UUD 1945. Berita ini sebelumnya telah dapat ditangkap melalui sebuah radio “gelap” (pada zaman Jepang semua radio dilak) milik A. Kusasi seorang ahli reparasi radio di Kampung Pandai Kandangan.     

Berita kemerdekaan yang telah disiarkan melalui surat kabar Borneo Shimboen edisi Hulu Sungai tersebut, kemudian dibacakan kembali dalam Pasar Malam Jepang yang berlangsung pada tanggal 20-30 Agustus 1945 di Kandangan.

Rakyat di daerah Hulu Sungai khususnya di Kandangan yang sejak zaman Pergerakan sudah aktif dalam kegiatan politik tersebut kemudian melakukan pemasangan bendera Merah Putih di rumah-rumah. Lagu Indonesia Raya pun berkumandang menggantikan lagu Kimigayo. Bersamaan dengan itu disebarkan selebaran yang berisi seruan agar rakyat mempertahankan dan menegakkan Pemerintah Negara RI yang telah diproklamirkan. Bahkan untuk kenang-kenangan telah didirikan sebuah tugu berbentuk “Lilin Menyala” di bawah pimpinan Hamli Tjarang sebagai tanda menyalanya api kemerdekaan. Tugu lilin menyala yang dibangun di depan Kantor Pemerintahan di Kandangan tersebut, kemudian dihancurkan oleh NICA setelah mereka berhasil berkuasa kembali di daerah ini.

Sementara itu di Banjarmasin oleh para pemuda pejuang juga telah dapat ditangkap berita peristiwa sekitar penyerahan Jepang dan kemerdekaan Indonesia melalui radio “gelap” milik Sunaryo dan Syahrul. Berita-berita yang dapat diikuti sejak tanggal 16 Agustus 1945 tersebut ternyata hanya sempat berkembang sampai pada tingkat bisik-bisik di antara sesama tokoh pergerakan di Kota Banjarmasin.

Sementara itu surat kabar Borneo Shimboen Banjarmasin pada tanggal 26 Agustus 1945 terbit dengan berita kemerdekaan Indonesia.  Borneo Shimboen terbitan No. 851 Minggu 26 Hatji-Gatsoe 2605 tersebut memuat tentang Pengangkatan Kepala Negara dan Bentuk Negara Indonesia Merdeka. Berita ini keluar setelah ada pembicaraan antara A.A. Hamidhan selaku Pimpinan Redaksi surat kabar tersebut dengan Menseibo yang masih banyak menentukan di daerah ini. Pembicaraan dalam rangka penyebaran berita proklamasi tersebut berisi tentang ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi. Bahwa yang disiarkan bukan Teks Proklamasi, tetapi tentang pengangkatan Kepala Negara dan Bentuk Indonesia Merdeka. Di samping itu A.A. Hamidhan dianjurkan oleh Menseibo agar meninggalkan Banjarmasin kembali ke Jawa. Di mana yang bersangkutan kemudian aktif di Jakarta membantu Mr. Kasman Singodimedjo yang menjabat sebagai Kepala Keamanan Daerah Jakarta.

Demikianlah berita kemerdekaan yang disiarkan melalui surat kabar Borneo Shimboen tanggal 26 Agustus 1945 tersebut dalam waktu singkat tersebar di seluruh pelosok daerah Kalimantan Selatan.

Di Banjarmasin berita tersebut mendapat sambutan hangat dari rakyat yang telah lama merindukan kemerdekaan. Penduduk Kota Banjarmasin pada hari itu banyak yang memasang bendera Merah Putih di halaman rumah mereka. Berbagai macam bahan dan ukuran bendera Merah Putih telah mewarnai kota Banjarmasin.

Pemasangan bendera Merah Putih tersebut tidak dilarang oleh Jepang. Sehingga sejak saat itu rakyat di daerah ini merasa seperti benar-benar telah mendapatkan kemerdekaan yang telah lama diharapkan. (HRN).



 

Kamis, 04 Agustus 2016

pengalaman pekerjaan dan karya tulis



 PENGALAMAN PEKERJAAN DAN KARYA TULIS

Nama: Drs. H. Ramli Nawawi, alumnus Fakultas Keguruan Jurusan Sejarah UNLAM Banjarmasin (1977). Pengalaman: Guru SMP Simpur 1961-1962, Guru SMPN 1 Barabai 1963-1964, Guru SMPN 1 Kandangan 1965-1967, Guru SMPN 7 Bjm 1968-1969, Guru SMPN 6 Bjm 1970-1976, Guru SMAN 3 Bjm 1977-1980, Kasi TT PSK/Jarahnitra 1981-1988, Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Tradisional Kanwil Depdikbud Prop. Kalsel. 1989-1996, Peneliti Muda, Peneliti Madya, Ahli Peneliti Muda, Ahli Peneliti Madya Jarahnitra pada BKSNT Yogyakarta 1967-2006.


KARYA-KARYA TULIS YANG DITERBITKAN

Buku-Buku Karya Tulis Sendiri:  
1.Dewan Banjar, Penerbit Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang  Banjarmasin, ISBN: 979-9464-02-1, th. 2000.

2.Peranan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Dalam Penyebaran Ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah di Kalimantan Selatan, Penerbit Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Yogyakarta, ISBN: 979-8971-02-7, th. 1998.

3.Ekspedisi Laut Dari Jawa Ke Kalimantan Selatan Pada Masa Revolusi Kemerdekaan (1945-1949), Penerbit BKSNT Yogyakarta, ISBN: 979-8971-01-9, th.1998.

4.Masjid Ampel, Sejarah, Fungsi dan Peranannya, Penerbit dalam Laporan Penelitian Jarahnitra, No. 018/P/1999, th. 1999.

5.Kehidupan Suku Bukit Loksado Di Kalimantan Selatan, Penerbit MSI Cabang Banjarmasin, ISBN: 979-9464-01-3, th. 2000.

6.Perjuangan Kaum Republikein Menuju Negara Kesatuan Republik Indonesia di Kalimantan Selatan, Penerbit MSI Cabang Banjarmasin, ISBN: 979-9464-00-5, th. 2001.

7..Masjid Besar Semarang Peranannya Dalam Pengembangan Islam, Penerbit MSI  Cabang Yogyakarta, ISBN: 979-9419-10-7, th. 2001.

8.Kiprah Perjuangan Tentara Pelajar dan Peranan Unsur Supra Natural Pada Masa Perang Kemerdekaan di Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 1945-1949, Penerbit MSI Cabang Yoyakarta, ISBN:979-9419-09-3, th. 2001.

9.Pondok Pesantren Tahaffudzul Qur'an Semarang Perkembangan dan Peranannya, Penerbit MSI Cabang Yogyakarta, ISBN: 979-9419-16-6. th. 2004.

10.Masjid Gala Peninggalan Sunan Bayat Keadaan dan Peranannya (1980-2002), Penerbit MSI Cabang Yogyakarta, ISBN: 979-9419-15-8, th. 2004.
  
11.Dugderan Di Semarang Suatu Kajian Sejarah Tradisi Budaya Sebagai Aset Wisata, Penerbit MSI Cabang Yogyakarta, ISBN: 979-9419-17-4, th. 2004.

12.K.H. Abdullah Umar Al Hafdz, Kehidupan, Pengabdian dan Pemikirannya,  Laporan Penelitian BKSNT Yogyakarta, th. 2004.

13.Quwwatul Islam Masjid Para Pedagang Banjar Di Kota Yogyakarta, Laporan Penelitian BKSNT Yogyakarta, th. 2005.


Sebagai Ketua Tim Penulis Buku-Buku:

1.Sejarah Sosial Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (IDSN) Jakarta, 1984.

2.Tata Kelakuan Di Lingkungan Pergaulan Keluarga Dan Masyarakat Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Peroyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah (IDKD) Banjarmasin,  1984.

3.Sejarah Kota Banjarmasin, Penerbit Proyek IDSN Jakarta, 1986.

4.Tingkat Kesadaran Sejarah Siswa SMTA dan Masyarakat di Propinsi Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek IDSN Jakarta, 1986.

5.Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya (IPNB) Banjarmasin, 1989..

6.Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek IPNB Banjarmasin, 1991.

7.Sejarah Pendidikan Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek Penelitian, Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya (P3NB) Banjarmasin, 1992.

8.Sejarah Pengaruh Pelita Terhadap Kehidupan Masyarakat Pedesaan Di Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek IDSN Jakarta, 1993.

.9.Dampak Sosial Budaya Akibat Menyempitnya Lahan Pertanian Kelurahan Pelambuan Propinsi Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek P3NB Banjarmasin, 1993.
  
10.Sisitem Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya (P2NB) Banjarmasin, 1994.

Sebagai Anggota Tim Peneulis Buku-Buku:

1.Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme Dan Kolonialisme Di Kalimantan    Selatan, Penerbit Proyek IDSN Jakarta, 1983.
2.Upacara Tradisional Upacara Kematian Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit  Bagian Proyek P3NB Banjarmasin, 1992.

3.Pembinaan Disiplin Di Lingkungan Masyarakat Kota Banjarmasin, Penerbit Bagian Proyek P2NB Banjarmasin, 1994.

4.Sejarah Perjuangan Rakyat Menegakkan Kemerdekaan Republik Indonesia Di Kalimantan Selatan (Periode 1945-1949), Penerbit Pemda Tinkat 1 Kalimantan Selatan, 1994.

5.Fungsi Keluarga Dalam Meningkatkan Kualitas sumber Daya Manusia Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Bagian Proyek P2NB Banjarmasin, 1995.

   6.Integrasi Nasional Suatu Pendekatan Budaya Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Bagian Proyek P2NB Banjarmasin, 1996.

   7.Dampak Globalisasi Informasi Dan Komunikasi Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Di Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Bagian Proyek P2NB Banjarmasin, ISBN 979-95571-1-9, th. 1998.

                                   (HRN: Banjarmasin-Yogyakarta)