Rabu, 24 Maret 2010

PERIHAL KOMUNITAS ORANG BANJAR DI YOGYAKARTA

Makalah pada Kongres Budaya Banjar II

Oleh: Drs. H. Ramli Nawawi

I. PENDAHULUAN

Komunitas orang Banjar (Kalimantan Selatan) yang berdomisili di Propinsi DIY (Daerah Istimewa Yogyakarat) saat ini diperkirakan ribuan orang lebih . Secara pasti jumlahnya memang sulit untuk diinventarisir dari data kependudukan. Orang Banjar yang berdomisili di propinsi ini mereka memang terpencar di berbagai lokasi di DIY. Secara umum di berbagai Kabupaten / Kodya terdapat keluarga asal Banjar. Tetapi yang terbanyak terdapat di Kodya Yogyakarta dan Kabupaten Sleman.

Orang Banjar yang berdomisili di Propinsi DIY ada yang merupakan komunitas pendatang yang secara beransur-ansur datang ke daerah kesultanan ini sudah ratusan tahun yang lalu. Mereka adalah para pedagang Banjar yang lama kelamaan kemudian menetap tinggal di DIY. Kelompok lain adalah para pedagang baik yang membuka usaha dagang kayu bangunan asal Kalimantan atau mereka yang membuka rumah makan atau warung masakan Banjar, serta para pegawai negeri baik yang dipindahtugaskan ke daerah ini, atau memang mereka yang diangkat sebagai pegawai negeri dan dosen termasuk para karyawan swasta yang ada di wilayah DIY. Selain itu ada pula ratusan mahasiswa dan mahasiswi asal Kalimantan Selatan yang tinggal dan berstudy di DIY. Keseluruhan orang Banjar yang berdomisili di DIY kecuali sebagian mahasiswa umumnya sudah ber KTP DIY.

Khusus bagi komunitas orang Banjar sebagai pedagang, yang datang di Yogyakarta sebagai para pedaggang intan pada ratusan tahun yang lalu, sampai saat ini mereka masih berdomisili di tempat perkampungan-perkampungan mereka dulu seperti di Kampung Katandan yang terletak tidak jauh dari pusat perekonomian Pasar Beringharjo. Selain itu komunitas pertama orang Banjar ini masih terdapat di Kampung Suryatmajan, Kauman, Tegalpanggung, Gembelaan, Cokrodirjan, juga secara sporadis ada di beberapa kampung lainnya.
Kelompok komunitas pendatang pertama ini umumnya mereka selain kawin mawin dengan sesama warga asal Banjar, juga sudah berkawin mawin dengan penduduk asli setempat. Saat ini Komunitas oarang Banjar pendatang pertama ini umumnya mereka adalah warga Banjar yang sudah lahir di bumi perantauan ini.

Berbeda dengan orang Banjar yang datang di DIY yang membuka usaha dagang kayu bangunan dan warung-warung masakan Banjar atau sebagai pegawai negeri dan dosen serta karyawan-karyawan swasta, walaupun mereka juga ber KTP DIY, umumnya mereka masih utuh sebagai keluarga Banjar yang berada di perantauan. Demikian juga para mahasiswa dan mahasiswi asal Banjar, umumnya mereka masih tinggal berkelompok sesama asal Banjar. Seperti yang tinggal di asrama-asrama Kalsel, atau yang tinggal di rumah-rumah kost-kost-an milik warga asal Banjar.

Warga Banjar di DIY ini secara sosial masih berinteraksi sesama warga perantau, umumnya melalui kegiatan-kegiatan sosial dan keagamaan. Kakabayo (Karukunan Kulawarga Banjar-Yogya) selalu mengadakan kegiatan pengajian rutin bulanan khusus warga Banjar. Warga Banjar juga umumnya senantiasa bertakziah manakala ada warga Banjar di DIY yang meninggal dunia.

Secara khusus warga Banjar yang tergabung dalam organisasi Kakabayo ini setiap tahun setelah Idul Fitri selalu menyelenggarakan pertemuan akbar dalam acara Halal Bilhalal warga Banjar yang berdomisili di Yogyakarta. Acara ini biasanya di hadiri pula oleh para pejabat di daerah Kalimantan Selatan, seperti Gubernur dan beberapa Bupati / Walikota dari Kalimantan Selatan.

II. SEJARAH MASUKNYA ORANG BANJAR KE KESULTANAN YOGYAKARTA

Sejak berdirinya Kerajaan Banjar sudah banyak pedagang Banjar yang berlayar membawa dagangan hasil bumi ke pelabuhan-pelabuhan di pantai utara Jawa. Kemampuan orang Banjar membuat jung atau kapal dari bahan kayu ulin, memberikan banyak kesempatan bagi para pedagang Banjar untuk berlayar membawa dagangan mereka ke tempat tujuan. Jiwa dagang orang Banjar konon merupakan warisan dari nenek moyang orang Banjar yang datang dari Negeri Keling, Empu Jatmika dari kasta Waisye (pedagang) mencari tanah yang panas dan wangi (Hasan Bondan: Suluh Sejarah).

Para pedagang Banjar tersebut umumnya sudah mempunyai hubungan tetap dengan pedagang-pedagang dari luar seperti dari Jawa, Makasar, Melayu, Cina dan Arab. Jenis barang dagangan yang dibawa pedagang Banjar ke luar Kalimantan atau yang dibeli pedagang dari luar adalah berupa hasil perkebunan rakyat seperti kopra, karet dan lada. Hasil hutan yang juga dijualbelikan adalah rotan dan damar. Sementara untuk hasil kebun rakyat berupa karet dan kopi. Sedangkan dari hasil tambang yang banyak terdapat di Kalimantan Selatan seperti batu bara, serbuk emas, biji besi, tembaga, dan yang banyak dijual pedagang Banjar ke berbagai kota di Jawa adalah intan dan berlian ( R.Z. Leirissa: Sejarah Sosial Daerah Kalsel).

Intan yang dijual ke Jawa bahkan ke Singapura itu, ditambang oleh penduduk yang umumnya bermukim di lokasi-lokasi yang tanahnya mengandung intan. Tempat-tempat yang terkenal sejak dulu banyak mengandung intan terdapat di daerah Martapura (Kabupaten Banjar), seperti di Desa Cempaka, Karang Intan, Awang Bangkal, Sungai Besar dan Matraman. Sejak dulu pula di lokasi-lokasi tersebut terdapat kegiatan pendulangan oleh penduduk yang dilakukan secara berkelompok (H. Harun Arsyad: wawancara).

Mendulang intan memerlukan kesabaran dan keuletan. Kelompok pendulang yang beranggotakan biasanya 5 orang untuk mengerjakan satu lubang, kadang-kadang berbulan-bulan tidak mendapatkan satu biji intanpun. Namun biasanya mereka tidak berputus asa, hingga akhirnya dapat juga beberapa butir intan mentah. Umumnya hasil penjualan yang didapat para pendulang tidak seberapa, kecuali mereka mendapatkan biji intan yang beratnya berpuluh-puluh karat, dan hal itu jarang terjadi.

Lain halnya dengan para pedagang intan dan berlian, mereka umumnya orang-orang berduit yang punya modal, atau setidak-tidaknya sebagai seorang sales kepercayaan dari seorang pebisnis intan dan berlian dari kota Martapura atau Banjarmasin. Para pedagang intan dan berlian yang memasarkan barang-barang tersebut dengan secara langsung menawarkan kepada pembeli, mereka disebut penggurijaan.

Para penggurijaan umumnya hanya bermodal kecil, barang yang mereka bawa seperti intan dan berlian juga perhiasan emas lainnya umumnya barang titipan dari para pedagang kaya. Di samping para pedagang kaya banyak pula para penggurijaan yang membawa intan dan berlian untuk dipasarkan ke kota-kota besar di luar Kalimantan. Kota-kota yang banyak dikunjungi para pedagang Banjar tersebut seperti Surabaya, Semarang, Jakarta, Bandung dan Surakarta (H. Harun Arsyad: wawancara).

Khusus tentang kedatangan para pedagang intan dan berlian dari Martapura dan Banjarmasin ke Surakarta (Solo) di Jawa Tengah, perdagangan mulai ramai sejak kota ini menjadi ibukota Kerajaan Mataram (1746). Para pedagang intan dan berlian yang datang ke Surakarta menjadi bertambah ramai ketika para penggurijaan Banjar banyak pula yang datang mengadu nasib ke kota Kesunanan tersebut.

Para penggurijaan yang mencari pembeli untuk mendapatkan harga yang menguntungkan biasanya harus tinggal berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan di kota Surakarta. Karena itu banyak kemudian para penggurijaan mengontrak rumah, atau bahkan kemudian mereka membeli atau membangun rumah di kota Surakarta ini. Demikian lama berlangsung sehingga akhirnya banyak orang Banjar yang kemudian bermukim di kota Surakarta.

Di Surakarta (Solo) terdapat Kampung Jayengan, sebuah perkampungan warga Banjar. Salah seorang pedagang intan asal Martapura yang merintis lahirnya Kampung Jayengan bernama Anang Atu. Kegiatan jual beli intan ini kemudian diteruskan oleh anaknya bernama Haji Yusuf yang kemudian membangun gudang penggosokan intan di Kampung Jayengan. Gudang Penggosokan intan tersebut bernama Penggosokan Intan M. Saleh Yusuf, diambil dari nama anaknya Muhammad Saleh.

Muhammad Saleh juga setelah menamatkan sekolahnya di Mambaul Ulum Solo, meneruskan usaha orang tuanya mengelola penggosokan intan M. Saleh Yusuf yang dibangun orang tuanya. Muhammad Saleh juga giat memasarkan berlian hasil penggosokannya, berkeliling ke kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya dan Yogyakarta.

Para penggurijaan intan dan berlian dari Banjar khususnya dari Martapura yang sebelumnya mundar-mandir menjual batu-batu permata ke Surakarta (Solo), kemudian banyak yang meneruskan perjalanannya ke kota Yogyakarta, setelah kota ini menjadi ibu kota Kesultanan Ngayogyakarta. Kerajaan Mataram Surakarta berdasarkan Perjanjian Gianti (1755) dibagi dua menjadi Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Ngayogyakarta. Sebagai sultan pertama di Kesultanan Ngayogyakarta dijabat oleh Mangkubumi yang kemudian bergelar Sultan Hamengku Buwono I.

Seperti halnya Surakarta (Solo) ibukota Kerajaan Mataram yang sebelumnya merupakan tempat tujuan para pedagang intan dan berlian, maka sejak berdirinya Kesultanan Ngayogyakarta, maka Yogyakarta pun semakin ramai dikunjungi para pedagang dan penggurijaan intan, termasuk juga para pedagang intan dan berlian dari Belanda. Di samping itu dari keluarga keraton sendiri banyak yang suka mengoleksi batu-batu permata.

Situasi kehidupan dagang di Yogyakarta yang semakin ramai akhirnya mengundang pedagang-pedagang intan dan berlian dari Martapura dan Banjarmasin semakin banyak datang ke Yogyakarta. Di antara beberapa pedagang dari Banjar ini sudah mulai ada pula yang menetap di Yogyakarta. Mereka umumnya tinggal di kawasan Kampung Katandan yang tidak jauh dari Pasar Beringharjo, di mana sehari-hari mereka melakukan jual beli barang dagangannya (H. Harun Arsyad: wawancara).

Para pedagang intan dari Banjar yang telah tinggal di Yogyakarta tersebut beberapa orang juga sudah melakukan usaha penggosokan intan secara tradisional di rumah-rumah mereka. Kegiatan penggosokan intan tersebut terdapat di beberapa rumah warga Banjar yang bermukim di kampung Katandan (H.M. Rozi Amin: wawancara).

Dengan semakin ramainya perdagangan intan dan berlian serta batu-batu permata lainnya di Yogyakarta, semakin ramai pula para pedagang intan dari Banjar yang datang membawa dagangannya. Sehingga memasuki tahun 1900-an sudah banyak orang Banjar yang menetap di beberapa kampung di Yogyakarta, seperti di kampung Suryatmajan, Kauman, Tegalpanggung, Gembelaan, Cokrodirjan, Dagen, Susrodipuran, Brotokusuman, bahkan secara sporadis tersebar di beberapa kampung lainnya di Yogyakarta (H.Harun Arsyad dan Abd. Murad: wawancara).

III. PARA PEDAGANG INTAN MEMBANGUN MASJID KALIMANTAN DI PUSAT KOTA YOGYAKARTA

Warga Banjar yang sudah tinggal diberbagai kampung di Yogyakarta sejak tahun 1900-an tersebut umumnya keluarga para pedagang intan yang berasal dari Martapura. Kota Martapura yang dijuluki kota serambi Mekah di Kalimantan Selatan ini memang warganya dikenal sebagai orang-orang yang taat beragama. Kota Martapura juga pada abad ke 18 menjadi pusat penyebaran Islam di Kalimantan Selatan. Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (1709-1802) adalah ulama besar yang mendalami Islam selama 30 tahun di Mekah dan Madinah telah menanamkan pondasi keislaman kepada warga Banjar dimulai dari Martapura.

Karena itulah para pedagang intan dari Martapura yang merupakan komunitas pertama yang menjadi penghuni kampung-kampung Banjar di Yogyakarta tersebut adalah warga yang taat menjalankan ibadah keagamaan. Menurut seorang warga Banjar kelahiran Martapura tahun 1927 H.M. Harun Arsyad yang mulai menetap di kampung Patuk Yogyakarta sejak tahun 1953, mengatakan bahwa tradisi orang Banjar khususnya warga Martapura, di mana mereka bermukim selalu ada pengajian agama bersama. Pengajian-pengajian itu berupa kegiatan Yasinan pada setiap malam Jum'at, pengajian memperdalam dan menambah pengetahuan keislaman (babacaan), tadarus Al Qur'an, pengajian pada peringatan atau perayaan Hari-Hari Besar Islam (H. Harun Arsyad: wawancara).

Para pedagang intan dan berlian asal Martapura yang beraktifitas di Pasar Beringharjo, ketika itu apabila mau melaksanakan shalat zuhur dan shalat asar berjamaah harus ke Masjid Agung yang ada di lingkungan keraton kesultanan yang jaraknya cukup jauh. Karena itu lahir keinginan adanya tempat untuk melaksanakan ibadah shalat barjamaah tersebut yang tidak jauh dari Pasar Beringharjo. Sehingga kemudian mereka bersepakat untuk membangun sebuah musalla (langgar) dengan dana patungan (kumpulan) dari sesama para pedagang intan asal Banjar tersebut.

Sebagai pedagang intan dan berlian warga Banjar ini umumnya mempunyai hubungan dekat dengan beberapa pedagang atau pengoleksi batu-batu permata dari keluarga Kesultanan Ngayogyakarta. Melalui kalangan keluarga kesultanan inilah para pedagang Banjar yang dipelopori olah H. Hasan kemudian melakukan pendekatan kepada Sultan Yogya untuk mendapatkan izin membangun musalla (langgar) yang letaknya tidak jauh dari Pasar Beringharjo.

Dalam tahun 1940-an sewaktu Sultan Hamengku Buwono IX telah memangku jabatan sebagai Sultan Ngayogyakarta, ketika utusan Banjar dengan diantar seorang keluarga keraton menghadap Sultan ke istana, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menghadiahkan sebidang tanah untuk membangun musalla di kawasan kampung Katandan yang tidak jauh dari Pasar Beringharjo. Di lokasi itulah para pedagang asal Banjar dengan swadaya dan bergotong-royong kemudian dapat membangun sebuah musalla kecil berukuran 8m x 8m yang dikenal sebagai langgar Kalimantani (H.M. Rozi Amin: wawancara).

Nama Kalimantani untuk langgar yang dibangun warga Banjar ini semula diberikan oleh Bapak Andik, tetuha warga Banjar di Yogyakarta waktu itu. Sampai tahun 1950 ketika langgar tersebut mulai difungsikan sebagai masjid untuk melaksanakan shalat Jum'at namanya masih Kalimantani, yakni Masjid Kalimantani (H.M. Harun Arsyad: wawancara).

Perubahan nama masjid Kalimantani menjadi masjid Quwwatul Islam berlangsung pada tahun 1953 atas usulan K.H. Anwar Musaddad seorang warga Banjar yang ketika itu menjadi Ketua Takmir masjid. Bersamaan dengan itu pula dilakukan penambahan bangunan masjid pada bagian timur yang luasnya 8m x 6m. Karena warga sekitar masjid dan para pedagang lainnya yang ikut shalat Jum'at semakin banyak, kemudian tanah sisi utara masjid yang luasnya sekitar 12m x 8m juga diberi atap guna menampung jamaah yang ikut Jum'atan di Masjid Quwwatul Islam ini (H.M. Rozi Amin: wawancara).

Menurut H.M. Rozi Amin, bahwa anggota kepengurusan Takmir Masjid Quwwatul Islam sudah sejak dulu mengikutsertakan masyarakat Yogya di sekitar masjid, tetapi untuk menghargai warga Banjar sebagai pendiri masjid, maka sejak awal sampai sekarang Ketua Takmir Masjid Quwwatul Islam selalu dipegang oleh warga asal Banjar (Kalsel).

IV. KEBUDAYAAN BANJAR DALAM KEHIDUPAN ORANG BANJAR DI YOGYAKARTA

Dari berbagai keterangan warga Banjar di Yogya dan pengamatan lapangan tampak bahwa unsur-unsur budaya Banjar yang hidup dalam keluarga-keluarga Banjar di Yogyakarta pola pemertahanan atau pewarisan adat budaya dalam keluarga berlangsung secara informal.

Bagi keluarga Banjar kelahiran Banjar yang tinggal di DIY, apalagi keluarga itu suami isteri asal Banjar, dalam keluarga tersebut tetap berlaku tata budaya Banjar walaupun mereka tinggal di lingkungan warga dari berbagai etnis lainnya.

Sementara dalam keluarga campuran, bapak Banjar dan ibu Jawa, atau sebaliknya, keberadaan adat budaya Banjar dalam keluarga sebagian masih dipengaruhi oleh peran orang tua yang asal Banjar. Dalam hal ini peran bapak dan ibu yang mencontohkan dalam hal berbicara ketika setiap mereka berkomunikasi dengan para orang tua mereka, atau ketika berkumpul dengan warga Banjar lainnya, secara informal mewariskan dan mencontohkan berbagai istilah-istilah panggilan serta adat perilaku yang banyak pula diikuti oleh anak-anak dalam keluarga mereka.

Sejauh mana keberadaan kebudayaan Banjar dan keterikatan warga Banjar di DIY terhadap adat budaya Banjar, dapat diamati dari beberapa hal yang terkandung dalam unsur-unsur budaya Banjar umumnya, baik yang berwujud idea, aktifitas, dan benda budaya (Koentjaraningrat: Persepsi Kebudayaan Nasional).

1. Unsur bahasa
Bahasa yang dipakai dalam keluarga Banjar di DIY banyak ditentukan dari formasi perkawinan yang terjadi. Kalau keluarga suami isteri orang Banjar yang bermukim di Yogyakarta, maka bahasa Banjar dan istilah-istilah panggilan ulun-pian, abah mama (uma), nini kayi, dominan dipakai dalam keluarga. Sementara keluarga yang terdiri dari perkawinan campuran suami Banjar isteri Jawa atau sebaliknya, bahasa dan istilah-istilah panggilan yang dipakai dalam keluarga juga terjadi campuran
.
Berikut gambaran pemakaian bahasa dan istilah-istilah panggilan yang dipakai keluarga Banjar di Yogyakarta yang suami orang Banjar dan isteri orang Jawa:

Bahasa yang dipakai: ada suami yang lebih dominan bicara bahasa Banjar diikuti isteri dan anak campur bahasa Jawa. Ada keluarga yang pakai bahasa Jawa campur bahasa Indonesia.
Pengganti diri sendiri biasa dipakai: kulo, ulun. Untuk panggilan kepada yang lebih tua biasa dipakai: pian, panjenengan.

Panggilan kepada orang tua laki-laki adalah: ayah, papah, bapa. Panggilan kepada orang tua perempuan adalah: mamah, ibu
.
Panggilan kakek umumnya di pakai: kayi
Panggilan nenek: umumnya dipakai: nini, eyang putri (Anang Bustani, H. Bukhari: wawancara).

2. Unsur kepercayaan 

Orang Banjar sejak dulu sudah dikenal di berbagai daerah di Indonesia sebagai orang yang taat beragama. Orang Banjar memang umumnya beragama Islam yang kuat, karena agama Islam telah ditanamkan di masyarakat Banjar sejak ratusan tahun yang lalu oleh Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari (1709-1802) seorang ulama besar kelahiran Martapura. Sehingga agama Islam merupakan agama orang Banjar yang senantiasa diwariskan kepada anak cucu oleh keluarga Banjar, tak terkecuali yang bermukim di Yogayakarta.

Sehubungan dengan itulah orang Banjar baik yang lahir di Yogyakarta, atau sejak muda telah menjadi penduduk Yogya umumnya orang-orang yang taat ibadah. Mereka tergabung dalam jamaah-jamaah pengajian agama, tadarus Al Qur'an (M. Anang Bustani: wawancara), umumnya mempunyai kemampuan yang cukup tampil sebagai imam masjid. Bahkan seorang warga Banjar bernama H. Anang Acil (74 th) yang tinggal di Kompleks Pertamina Purwomartani dituakan masyarakat sebagai tokoh agama tempat belajar Al Qur'an dan ilmu agama Islam lainnya oleh warga muslim di sekitarnya (Samsul Wijayadi: wawancara).

3. Unsur kesenian

Kesenian Banjar yang populer seperti madihin, musik panting dan lagu-lagu Banjar tetap disukai oleh keluarga Banjar di Yogyakarta. Ketika dalam even Halal Bil Halal yang diselenggarakan Kakabayo, warga Banjar antusias manakala ditampilkan kesenian Banjar, seperti madihin yang dibawakan oleh Jon Tralala atau lainnya, musik panting oleh group mahasiswa Banjar di Yogyakarta, ataupun ketika warga Banjar yang tampil membawakan lagu-lagu banua.

H. Bukhari Ketua Kakabayo mengaku memiliki kaset atau CD lagu-lagu Banjar. Lagu-lagu ciptaan H. Anang Ardiansyah seperti Paris Barantai, Kambang Goyang dan lainnya, banyak disukai warga Banjar di Yogyakarta (H. Bukhari: wawancara).

4. Unsur organisasi sosial

Sebagai wadah memperkuat silaturrahmi warga Banjar di Yogyakarta telah terbentuk organinasi yang semula bernama KATABAYO (Karukunan Tatuha Banjar Yogya), kemudian untuk bisa merangkul warga Banjar tua-muda yang tinggal di Yogyakarta nama organisasi tersebut dirubah menjadi KAKABAYO (Karukunan Kulawarga Banjar Yogya). Organisasi ini didirikan di tahun 1960-an, salah seorang pendirinya Bapak Husaini Majedi

Kegiatan organisasi ini sebelumnya pernah menangani pembangunan asrama-asrama mahasiswa Banjar di Yogyakarta. Ada 4 asrama mahasiswa yang pembangunan dan pengelolaannya pernah ditangani organisasi warga Banjar ini, yaitu Asrama Lambung Mangkurat di Jalan Sangaji, Asrama Pangeran Suriansyah di Baciro, Asrama Pangeran Antasari di kawasan Jalan Colombo, dan Asrama Pangeran Hidayatullah di kawasan Kotabaru. Keempat asrama mahasiswa Banjar tersebut sekarang dibawah binaan Pemerintah Daerah Propinsi Kalimantan Selatan. Saat ini hampir semua Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Kalimantan Selatan telah membangun asrama mahasiswanya masing-masing, seperti Asrama Hantarukung oleh Pemda Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Asrama Balangan oleh Pemda Kabupaten Balangan, dan lainnya .

Kakabayo juga secara rutin mengadakan pertemuan dan pengajian (ceramah agama) setiap bulan. Dalam kegiatan ini selain acara siraman rokhani keislaman, juga disampaikan informasi-informasi tentang situasi daerah Kalimantan Selatan (H. Bukhari: wawancara).

5. Unsur mata pencaharian.

Komunitas warga Banjar di Yogyakarta dimulai oleh datangnya pedagang-pedagang intan dan berlian ke Kesultanan Ngayogyakarta sejak pertengahan abad ke 18 yang lalu. Budaya mata pencaharian berdagang batu-batu permata ini sampai saat ini masih diwarisi oleh sebagian anak-cucu para pendatang awal tersebut. Hal itu dapat dilihat dari adanya toko-toko emas berlian di kawasan perbelanjaan Molioboro milik warga Banjar, di samping beberapa pedagang batu-batu permata yang setiap hari menggelar dagangannya di emperan pertokoan kawasan Molioboro.
.
Bapak Anang Bustani (55 th) kelahiran Martapura yang sejak masih kecil dibawa orang tua pindah ke Yogyakarta, saat ini dia salah seorang dari beberapa warga Banjar di Yogyakarta yang mewarisi pekerjaan sebagai pedagang batu-batu permata di kawasan Molioboro. Beberapa pedagang batu-batu permata yang menggelar dagangannya di Molioboro adalah orang Banjar asal Martapura (Anang Bustani: wawancara).
Mata pencaharian warga Banjar di DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) lainnya, yang berkaitan dengan kekhasan banua adalah toko atau usaha dagang kayu Kalimantan. Ada puluhan toko kayu Kalimantan di DIY pemiliknya adalah warga dari Banjar. Mereka berasal dari berbagai daerah di Kalimantan Selatan, seperti dari Alabio, Amuntai, Nagara, Barito Kuala, dan lainnya.

Para pemilik toko-toko kayu Kalimantan ini adalah termasuk kelompok warga Banjar pencari kerja. Mereka para pedagang yang umumnya telah berpengalaman ketika di tempat asalnya di Banjar ikut membantu orang tua atau keluarga yang berusaha jual-beli kayu bahan bangunan. Sehingga kemudian setelah bermukim di Yogya meneruskan pengalaman berusaha di bidang jual beli kayu bangunan pula. Umumnya mereka adalah warga Banjar yang datang ke DIY pada sekitar tahun 1990-an (Samsul Wijayadi: wawancara).

Usaha warga Banjar lainnya yang berkaitan dengan khas budaya Banjar adalah usaha rumah makan atau warung masakan Banjar. Meno utama rumah makan masakan Banjar yang ada di DIY adalah soto Banjar atau nasi sop. Selain itu tersedia juga nasi kuning, pundut nasi, buras, dan ada pula wadai-wadai seperti roti pisang, bingka dan lainnya. Di samping itu dilengkapi juga yang lebih umum seperti itik dan ayam goreng atau bakar
.
Pedagang-pedagang warung atau rumah makan masakan Banjar ini terdapat di berbagai sudut kota Yogyakarta. Ada warung masakan Banjar yang dibangun di depan rumah penjualnya, atau di warung-warung bongkar pasang yang dibangun di torotoir jalan. Dari beberapa rumah masakan Banjar yang banyak dikunjungi keluarga atau mahasiswa asal Banjar adalah Rumah Makan Khas Banjar BAMARA yang terdapat di Jln. Baru Lembah UGM Karang Malang dan Rumah Makan KINDAI di Jln. Jembatan Merah Gejayan. Kedua rumah makan ini juga ramai dikunjungi mahasiswa-mahasiswi asal berbagai daerah Indonesia lainnya.

Usaha membuka  rumah makan atau warung makan masakan Banjar di DIY dilakukan oleh warga Banjar yang setelah tinggal di Yogya melihat prospek baik berusaha di bidang masakan Banjar karena melihat warga Banjar apalagi mahasiswa-mahasiswi Banjar cukup banyak di Yogyakarta. Rumah Makan Khas Banjar Bamara milik warga Banjar yang sebelumnya study di Yogya dan kemudian menjadi dosen di salah satu Perguruan Tinggi di Yogyakarta. Sedangkan Rumah Makan Kindai milik warga Banjar yang setelah menyelesaikan kuliahnya mendirikan rumah makan masakan Banjar.

Adanya bidang-bidang usaha atau mata pencaharian warga Banjar di Yogyakarta yang berkaitan dengan kekhasan kehidupan banua Banjar tersebut, merupakan gambaran bahwa orang-orang Banjar di Yogya masih dan tetap membanggakan budaya banua di bidang mata pencaharian.

6. Unsur sistem pengetahuan

Kemampuan ibu-ibu warga Banjar yang berdomisili di Yogya dalam membuat masakan Banjar merupakan pengetahuan warisan yang berasal dari ibu dan nenek mereka orang Banjar. Di samping itu para suami orang Banjar di perantauan seperti di Yogya mengaku tetap dan selalu doyan dengan masakan-masakan Banjar, seperti masak habang, masak kicap hintalu, gangan asam, tarung babanam, dan sebagainya. Dalam keluarga Banjar di Yogya walaupun isteri bukan orang Banjar tetapi umumnya bisa membuat masakan-masakan Banjar, karena mereka diajari atau belajar dari mertuanya yang orang Banjar (H. Bukhari: wawancara).
Di segi lain dipakainya nama-nama tokoh sejarah atau pahlalawan negeri Banjar untuk nama-nama asrama mahasiswa Banjar di Yogyakarta, seperti Lambung Mangkurat, Sultan Suriansyah, Pangeran Hidayatullah, Pangeran Antasari, dan peristiwa Hantarukung, menggambarkan bahwa warga Banjar di Yogyakarta hormat dan bangga terhadap tokoh-tokoh sejarah daerahnya, yang secara inflisit tahu dan menghayati bagian-bagian dari sejarah leluhurnya.

7. Unsur teknologi

Para pedagang batu-batu permata orang Banjar yang menggelar dagangan mereka di Molioboro, adalah orang yang mempunyai ketrampilam menggosok intan dan berbagai batu permata lainnya. Keahlian atau ketrampilan menggosok intan dan berbagai batu permata tersebut adalah warisan dari para pendahulu mereka. Di Yogyakarta penggosokan termasuk membuat bentuk berbagai batu-batu permata dengan alat penggosokan tradisional di rumah masing-masing.

Berbeda dengan di pasar permata di Solo penggosokan batu permata dilakukan di lokasi tempat berjualan, sebagian para penggosok batu-batuan tersebut juga orang Banjar. Para penjual batu-batu permata ini juga membuat berbagai bentuk bingkai cincin, baik bingkai cincin untuk pria juga cincin untuk wanita. Kalau di Solo masih ada para penggosok berbagai batu permata orang Banjar masih melakukan penggosokan, maka di Yogyakarta kegiatan penggosokan sudah mulai ditinggalkan, karena keterbatasan waktu para pedagang batu permata di Yogya lebih banyak membeli hasil olahan dari Solo, Lombok, Sukabumi (Anang Bustani: wawancara).

Sementara kain atau pakaian sasirangan yang dibuat dengan teknologi khas Banjar, pada umumnya warga Banjar di Yogya memiliki, sebagai gambaran bahwa orang Banjar di Yogya masih terikat dengan sesuatu yang khas budaya Banjar. Pada even-even khusus keluarga Banjar di Yogya juga biasa mengenakan pakaian sasirangan (H. Bukhari: wawancara).

V. PENUTUP

Dalam kehidupan warga Banjar di Yogyakarta keberadaan budaya Banjar dalam keluarga berlaku dan berlangsung secara alamiah, tidak ada pola atau sistem yang diprogramkan secara formal, tetapi secara informal setiap orang tua keluarga Banjar umumnya masih melakukan tata cara tradisi dan adat-istiadat Banjar dalam keluarga, sehingga secara tidak langsung kemudian diwarisi oleh anak-anak atau turunannya, termasuk juga ideologi atau pandangan hidup yang sebelumnya juga diterima dari orang tua mereka.
Umumnya juga dalam kesempatan-kesempatan berkumpul para orang tua diperantauan berceritera tentang kampung halaman ibu bapak atau nenek kakek mereka, tak terkecuali tentang tata cara kehidupan juga adat istiadat di masyarakat asal kampung halaman mereka. Ketika sebuah keluarga menyaksikan berbagai peristiwa budaya yang mereka temukan di perantauan, orangg tua dalam keluarga biasa pula menggambarkan perbedaan dan persamaan dengan budaya Banjar yang ada di kampung halaman asal mereka tanah Banjar.

Begitulah gambaran budaya Banjar dalam komunitas orang Banjar perantauan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pengaruh budaya lingkungan khususnya dalam pemakaian bahasa, kecuali dalam keluarga suami-isteri Banjar bahasa Banjar masih dominan dipakai, maka dalam keluarga suami isteri campuran Banjar Jawa atau lainnya bahasa dan istilah-istilah yang dipakai juga sudah campuran.

Orang Banjar di Yogya umumnya mengerti bahasa Jawa, tetapi sebagian pendatang baru tidak lancar berbahasa Jawa, apalagi bahasa Jawa yang dipakai masyarakat Yogya umumnya bahasa kromo inggil (alus) di samping kromo madya dan ngoku, karena itu sebagian orang Banjar di Yogya lebih memilih berkomunikasi di masyarakat menggunakan bahasa Indonesia.

Yogyakarta, 25-3-2010

Jumat, 19 Maret 2010

bagian dari biografiku

Nama kecilku itu Ramli dan Nawawi itu nama orang tuaku yang kucantumkan di belakang namaku ketika aku lulus sarjana. Aku sekarang pensiunan peneliti pada Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta tahun 2006.
Sejak masuk SR (Sekolah Rakyat ) kelas I sekaligus sore harinya aku juga belajar di Sekolah Arab. Juga setiap malam sesudah Magrib atau Isya orang tuaku mengajariku membaca Al Qur’an hingga tamat.
Setelah itu aku dicarikan guru Al Qur’an yang terpandang fasih di desaku, Tuan Guru H. Sapdin (H.A. Sani) guru Al Qur’an yang menguasai tajwid dan pernah tinggal dan belajar di Mekah. Aku dan temanku berempat diberi waktu belajar sesudah shalat Subuh. Karena itu satu jam sebelum waktu Subuh kami harus sudah menuju Langgar yang ada di samping rumah guru. Setiap subuh kami saling memanggil-manggil teman yang terlambat bangun sebelum berangkat, dan lebih sering jalan kaki daripada naik sepeda.
Selesai shalat Subuh berjamaah, kami mengambil Al Qur’an. Sekali belajar hanya sebanyak setengah halaman. Guru menanyakan bunyi awal dari ayat yang kemaren yang sudah dibaca dan disuruh hafal di rumah. Kemudian dengan hafal guru melafazkannya. Selanjutnya kami disuruh menutup Al Qur’an dan bergiliran kami satu-satu melafazkannya pula di bawah pengawasan guru. Begitulah setiap Subuh.
Agar aku lebih fasih membaca dan membunyikan huruf-huruf Al Qur’an, aku dicarikan lagi oleh ayahku seorang guru mengaji lain. Setiap hari Minggu aku naik sepeda dengan seorang temanku pergi kepada Guru Anwar di Langgar Tandik di Desa Wasah Hulu kurang lebih 2 km dari tempat tinggalku, juga untuk berguru membaca Al Qur’an.
Waktu itu kalau di SR setelah kelas VI dinyatakan tamat, tapi di Sekolah Arab di tempatku ketika itu hanya ada sampai kelas V, kelas terakhir yang bisa diikuti dengan waktu yang tidak terbatas. Siapa yang sudah sampai ke kelas V ia lalu bergabung dengan mereka yang lebih dewasa yang sudah ada di tingkat tersebut. Karena ditingkat ini sudah mempelajari berbagai cabang ilmu agama dengan memakai “kitab kuning”. Bersamaan dengan tamat SR aku dan teman-teman mengajiku juga tidak berlanjut lagi. Karena kami harus melanjutkan sekolah yang ada di kota, sesuai dengan kemauan masing-masing.
Setamatnya di SR aku mengikuti test masuk Sekolah Guru B (SGB). Aku lulus test dan diterima di SGBN Kandangan. Pada kewartal pertama dari hasil ulangan umumku nilai raportku memenuhi syarat untuk pelajar berikatan dinas dan masuk asrama. Sehingga aku tinggal bersama-sama kawan-kawan di bawah asuhan seorang Bapak asrama. Di SGB aku hanya 3 tahun, karena test dan hasil ulangan umum aku memenuhi syarat untuk di terima di Sekolah Guru A Negeri (SGAN) Barabai. Ketika itu di Barabai baru diresmikan berdirinya SGAN, sehingga mulai tahun ajaran 1958/1959 waktu itu semua pelajar dari SGBN yang ada di Hulu Sungai tidak lagi ke SGAN Banjarmasin.
Tamat dari SGA tahun 1961 langsung menerima SK mengajar di SDN tapi ditugaskan di SMP Swasta Simpur (Kandangan).
Beberapa bulan kemudian tepatnya tanggal 26 Nopember 1961 aku melangsungkan pernikahan dengan seorang guru SDN bernama Yohana. Begiru cepatnya aku melangsungkan pernikahan, tak lain karena kami sudah bertunangan selama tiga tahun. Dia kawanku waktu di SGBN Kandangan dulu dan menjelang aku ke SGAN Barabai kami resmi dipertunangkan. Masuk SGB tahun ajaran 1955/1956 sampai tahun ajaran 1957/1958. Selanjutnya masuk SGA tahun ajaran 1958/1959 dan lulus tahun ajaran 1960/1961.
Aku diperbantukan mengajar di SMP Simpur hanya sekitar 2 tahun . Selanjutnya tanpa melalui permohonan, awal tahun 1964 datang lagi SK dan panggilan untuk mengajar di SMPN I Barabai. Aku pun pindah ke Barabai, tapi baru beberapa bulan mengajar di Barabai aku ditawari oleh Bapak A. Gafuri yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Inspektorat SMP Wilayah Hulu Sungai untuk pindah ke Kandangan.
Kembalinya aku Ke Kandangan waktu itu segera kumanfaatkan untuk masuk PGSLP 2 tahun, sehingga setelah tamat impassing pangkatku ke DD/II. Selanjutnya ketika aku sudah mengajar di SMPN I Kandangan, pada saat-saat menjelang terjadinya G30S/PKI aku sering dan berkali-kali dihubungoi oleh orang-orang dari partai golongan agama maupun yang lainnya. Ketika itu semua orang umumnya menjadi anggota salah satu partai, termasuk para guru. Aku yang tidak berpartai waktu itu sering dan berulang-ulang dihubungi kawan-kawan baik dari partai Islam dan lainnya. Menghadapi kasus seperti itu aku dan beberapa guru yang senasib sepakat untuk tidak masuk partai yang sudah ada di Kandangan waktu itu. Aku dan seorang kawan ditugasi ke Banjarmasin untuk menghubungi pengurus Partai Persatuan Tharbiyah Islamiah Daerah Kalimantan Selatan di Banjarmasin, untuk meminta Buku Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga partai untuk dipelajari, dan bila sudah mempelajarinya akan membentuk kepengurusan partai tingkat cabang di Kandangan.
Akhirnya kami sepakat dan secara resmi bardirilah PERTI (Persatuan Tharbiyah Islamiah) Cabang Kandangan. Untuk menjabat ketua kami menunjuk seorang guru yang sudah senior, beliau bersedia walaupun tidak bisa aktif. Aku sendiri ditetapkan kawan-kawan menjabat sebagai ketua Bidang Politik. Ketika terjadi Peristiwa G30S/PKI anggota kami masih terbatas, sehingga dalam kegiatan rapat-rapat umum mengutuk G30S/PKI kami harus kerja keras mendatangkan kawan-kawan dari kampung. Alhamdulillah semua berjalan lancar, dan aku sempat juga dapat giliran jaga pikat malam mengawasi tahanan PKI yang ditahan di rumah Penjara Kandangan.
Sekitar penghujung tahun 1966 ada permintaan dari Pemda Hulu Sungai Selatan agar partai kami mengusulkan nama seorang calon untuk mewakili PERTI dalam DPR Tingkat II HSS. Ketika itu kawan-kawan meminta aku duduk di Dewan sebagai wakil PERTI. Tapi aku merasa masih terlalu muda, dan karena teman yang lain juga tidak ada yang bersedia, aku meminta seorang guru seniorku, dan beliau bersedia. Setelah berjalan beberapa bulan kawan-kawan protes karena wakil kami banyak menyuarakan hal-hal yang bertentangan dengan nurani anggota. Kali ini aku dipaksa untuk menggantikan dengan sanksi kalau aku menolak mereka akan keluar dari keanggotaan. Atas dasar itulah aku kemudian dilantik sebagai anggota DPR Tk. II HSS.
Tapi dalam waktu yang tidak lama juga, aku kemudian mendapat panggilan dari Kepala Inspeksi SMP di Banjarmasin untuk kuliah di IKIP Malang dengan status ijin belajar. Karena bukan tugas belajar maka aku minta dipindahkan ke IKIP Banjarmasin saja dan disetujui.
Tahun 1968 aku dipindahkan mengajar di SMPN 7 km 2 Jalan A. Yani yang waktu itu belajarnya siang, dan waktu pagi aku bisa kuliah. Sejak itu aku menyerahkan keanggotaanku sebagai anggota Dewan kepada seorang anggota pengurus PERTI yang juga guru SMPN. Keikutsertaan wakil PERTI di Dewan kemudian berakhir ketika PERTI kemudian secara nasional digabungkan dalam PPP (Partai Persatuan Pembangunan).
Tahun 1971 aku dipindahkan ke SMPN 6 di Jalan Ade Erma Nasution (Pacinan). Alhamdulilah tahun 1972 aku sudah lulus Sarjana Muda (BA). Ketika itu aku bilang sama isteri bermaksud untuk kembali ke Kandangan, tapi aku bilang juga kalau dosenku yang juga Dekan Fakultas Keguruan UNLAM waktu itu Drs. M. Idwar Saleh meminta aku untuk terus kuliah ke tingkat doktoral. Isteriku mendukungku agar aku terus kuliah saja. Sehingga aku ikut mendaftarkan diri untuk kuliah di tingkat doktoral sejarah.
Waktu itu masih berlaku sistem tingkat bukan sistem semester. Khusus untuk mata kuliah sejarah dosen-dosen kami tidak pernah mengumumkan hasil tentamen (ujian) tertlis yang diadakan fakultas. Setiap mata kuliah pokok sejarah selalu diuji secara lisan, dan dalam catatanku tidak ada di antara kami yang lulus hanya sekali maju, bahkan umumnya setelah berkali-kali, dan tentamen umumnya juga di rumah dosen yang bersangkutan, waktunya bisa pagi, sore atau malam.
Inilah tantangan yang membuat teman-teman seangkatanku dari semula berjumlah 20-an orang, yang berhasil lulus sarjana hanya 3 orang. Sebenarnya ada satu teman yang juga sudah semua lulus tentamen mata kuliah, tapi gagal dalam menyelesaikan thesis. Dia juga guru SMP seperti aku. Sedangkan dua temanku lainnya, seorang yang waktu kuliah sudah berstatus asisten dosen, seorang lagi Kepala SMAN yang waktu kuliah di titipkan di Bidang PMU Kantor Wilayah Depdikbud Kalsel, dan setelah lulus menjadi dosen sejarah di FKg UNLAM pula. Mau tahu, mereka adalah Dra. Kesuma Sekarsih dan Drs. H.A. Gazali Usman. Kata salah seorang dosenku ketika aku sudah lulus, seorang sarjana itu tidak cukup hanya teruji intlektualnya tapi yang lebih penting mental dan moralnya, makanya katanya waktu itu untuk lulus sarjana itu tidak mudah.
Ketika Upacara Wisuda aku sudah mengajar di SMA, karena tahun 1976 aku dimutasikan dari SMPN 6 ke SMAN 3. Kami di Wisuda tahun 1977, yang waktu itu UNLAM Pusat di Jln. Jend. Sudirman pertama kali melakukan acara yang wisudawannya memagai baju toga.
Beberapa waktu setelah lulus sarjana aku diminta untuk menjadi Kepala SMPN II Kandangan. Namun ketika itu aku lebih memilih pindah ke bidang administrasi di Kanwil Depdikbud Kalsel, dan ternyata boleh.
Oleh Kepala Bagian Kepegawaian Kanwil H. Anwar Fauzi yang juga dulu guruku ketika di SGBN Kandangan, aku ditanya mau ikut di Bidang mana. Karena dulu waktu mengajar di SMPN I Kandangan dulu aku ditugaskan menjadi pembina Pramuka sekolah, dan aku sempat mengikuti pendidikan pramuka DADIKA I dan DADIKA II, maka aku memilih Bidang Generasi Muda, dan Kepala Bidangnya menerimaku. Tetapi belum sempat menerima SK, aku dipanggil lagi oleh Kepala Bagian Kepegawaian Kanwil, bahwa Kepala Bidang PSK (Permuseuaman Sejarah dan Kepurbakalaan) Drs. Yustan Aziddin yang juga dulu guruku di SGBN Kandangan, meminta aku harus membantu di Bidang PSK. Memang ketika aku di SGB aku sudah dekat dengan Drs. Yustan Aziddin. Bahkan berkat dorongan beliau waktu itu ada 2 buah sajak karanganku yang dimuat di Majalah Mimbar Indonesia (Kabar dari Kota dan Indonesia Tanah Airku). Beliau juga guru seni suara kami, yang juga mengikutsertakan aku dalam group paduan suara yang kadang tampil dalam acara kegiatan sekolah atau lainnya. Aku juga pernah diikutsertakan dalam Lomba Lagu Keroncong antar pelajar se kabupaten. Waktu itu aku memilih membawakan lagu Keroncong Senja, dan tidak berhasil mendapatkan nomor kejuaraan. Pengalaman itu aku ulangi ketika aku di SGA, aku memilih Keroncong Persembahanku, dan ketika itu hanya berhasil sebagai juara II, sekedar ingin mencoba saja.
Kemauan untuk mencoba ini pula ketika aku masih mengajar di SMAN III aku coba mengirim naskah ke Harian Banjarmasin Post dan ternyata umumnya dimuat (salah satunya berjudul Tidak Puas, yakni sorotanku tentang pendidikan di sekolah). Munculnya namaku di koran yang diasuh guruku Drs.Yustan Aziddin tersebut dan juga mungkin karena jurusan sejarahku sehingga beliau memintaku masuk ke Bidang PSK.
Aku menjadi karyawan di Bidang PSK Kanwil Depdikbud Kalsel mulai awal tahun 1979. Bersamaan dengan itu pula pimpinanku yang waktu itu selain menjabat sebagai kepala bidang juga menjadi Pimpro IDKD (Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah) menunjuk aku sebagai Ketua Aspek Penelitian dan Penulisan Sejarah Daerah, yang saat itu bertema Sejarah Revolusi Kemerdekaan Indonesia (1945-1949) Daerah Kalimantan Selatan. Sebagai sarjana junior waktu itu timbul juga kekhawatiranku kalau hasil penelitian dan penulisan sejarah yang bakal dibaca juga oleh pelaku-pelakunya serta bakal disebar ke seluruh tanah air tersebut tidak sebagaimana mestinya. Ketika itu sebenarnya ada 5 aspek penilitian, yakni selain Sejarah Daerah, juga Adat Istiadat Daerah, Geografi Budaya Daerah, Cerita Rakyat Daerah dan Permainan Rakyat Daerah Kalimantan Selatan. Untuk ketua-ketua aspeknya pimpinanku menunjuk dosen-dosen senior dari UNLAM. Karena itu aku perlu menghadap dosen sejarahku Drs. M. Idwar Saleh untuk minta petunjuk dan bahkan bantuan beliau. Tidak kusangka ternyata beliau bersedia membantu dan bahkan bersedia menjadi anggota tim. Sehingga untuk kelengkapan tim ini aku menghubungi teman kuliahku dulu Drs. A. Gazali Usman, yang juga bersedia menjadi anggota tim penelitian dan penulisan naskah Sejarah Revolusi Kemerdekaan Indonesia (1945-1949) Daerah Kalsel tersebut.
Sebelum memulai kegiatan kami para ketua aspak berlima bersama Kepala Bidang PSK dipanggil ke Jakarta untuk mendapatkan pengarahan tentang kegiatan yang akan dilakukan serta dibekali metode penelitian secara singkat. Sehingga ketika kami turun lapangan dalam rangka pengumpulan data sudah membawa cara-cara sebagaimana yang diberikan. Sehubungan dengan pengumpulan data sejarah tim kami lebih banyak melakukan wawancara terhadap para pejuang yang masih hidup waktu itu. Untuk itu kami bertiga perlu mengunjungi para pejuang yang ada di semua kabupaten di Kalimantan Selatan. Naskah hasil penelitian dan penulisan kami selesai pada akhir Desember 1979. Awal tahun 1980 setiap ketua aspek kemudian mempresentasikan naskahnya dalam Sidang Evaluasi Naskah di Jakarta yang dihadiri selain para Evaluator juga para ketua aspek yang sama dari seluruh Indonesia. Alhamdulillah naskah sejarahku bisa diterima para Evaluator tanpa perombakan dan penambahan data. Ini pengalaman pertama aku terjun kebidang penelitian dan tulis menulis naskah buku.
Awal tahun 1981 aku diangkat mengemban jabatan eselon IV sebagai Kepala Seksi Tenaga Teknis Bidang PSK menggantikan seniorku yang memasuki masa pensiun. Aku tidak pernah meminta jabatan kepada atasanku. Apalagi ketika aku masuk instansi ini Kepala Bagian Kepegawaian yang juga guruku sewaktu aku di SGB itu pernah berpesan kepadaku, agar aku tidak mencari dan meminta jabatan, tapi aku dipesani untuk berprestasi saja. Karena kata beliau kalau prestasiku baik ibarat kesebelasan bola pasti kamu akan dimasukkan sebagai pemain inti. Inilah pesan yang terus aku pegang selama aku bekerja sebagai pegawai negeri.
Sebenarnya sejak aku masuk di Bidang PSK setiap kegiatan lapangan yang dilakukan pimpinan aku selalu dikutsertakan. Masalahnya setiap selesai kegiatan lapangan, walaupun tidak ditugaskan aku selalu membuat tulisan berupa naskah singkat tentang kegiatan lapangan tersebut yang aku serahkan kepada Kepala Bidang, dan besoknya sudah terbit di Harian Banjarmasin Post. Beritanya tentang penemuan benda-benda purbakala atau perihal keadaan obyek-obyek kepurbakalaan, juga pertemuan dengan tokoh-tokoh pelaku sejarah.
Tahun 1986 Bidang PSK dipecah menjadi Bidang Permuseuman dan Bidang Jarahnita (Sejarah dan Nilai Tradisional). Aku termasuk dalam Bidang Jarahnitra dengan jabatan yang sama Sebagai Kepala Seksi Tenaga Teknis. Ketika itu aku sudah 5 tahun berada dalam jabatan eselon IV, sementara beberapa kawanku sudah ada yang diangkat dalam jabatan eselon III sebagai Kepala Kandep Dikbud di Kabupaten. Bersamaan dengan itu pada suatu saat santai ketika aku mengikuti kegiatan pimpinanku, beliau bilang kalau aku tidak diijinkan dipromosikan karena sudah disiapkan untuk menggatikannya. Sehubungan dengan itulah aku berada di jabatan eselon IV sekitar selama 8 tahun. Baru pada tahun 1989 bersamaan dengan pimpinanku di SK kan sebagai Pengawas, SK jabatanku sebagai Kepala Bidang Jarahnitra juga terbit.
Ketika berstatus sebagai Pembantu Pimpinan selama 2 tahun dan sebagai Kepala Seksi selama 8 tahun, aku selalu ditunjuk oleh Pimpinan Proyek sebagai ketua tim penelitian baik aspek sejarah atau aspek nilai tradisonal. Bahkan di samping itu secara khusus aku sering ditunjuk untuk menjadi ketua tim penulisan yang anggota timnya langsung dari Direktorat Jarahnitra Jakarta. Sehingga aku kadang menerima tamu pribadi yakni peneliti dari pusat tersebut. Selama 10 tahun itu aku bersama tim sudah banyak menghasilkan naskah penelitian yang sebagiannya telah diterbitkan, baik oleh proyek daerah maupun oleh proyek pusat.
Tahun 1989 dalam Keputusan Gubernur Kepala Daerah Kalsel. No. 412 Tahun 1989 tanggal 7 Nopember 1989 yang ditandatangani Ir. H. M. Said, aku diikutsertakan dalam tim penelitian dan penyusunan naskah Sejarah Perjuangan Rakyat Menegakkan Kemerdekaan RI Di Kalimantan Selatan yang diketuai H. Akhmad Sutan Madar dan Drs. H. A. Gafuri. Naskah ini baru bisa diterbitkan pada tahun 1994, karena harus melalui rapat-rapat sleksi data bersama dengan para tokoh-tokoh pelaku sejarah bersangkutan, serta konsepnya lebih dahulu diseminarkan yang dihadiri para pelaku perjuangan dari seluruh kabupaten se Kalimantan Selatan.
Dalam masa sibuk kegiatan penelitian dan penulisan naskah proyek IDKD maupun P2NB tersebut, di samping tugas-tugas rutin kantor lainnya, aku penah juga mengirimkan makalah untuk seminar di Jakarta dan diterima. Ini pengalaman pertamaku menjadi pemakalah pada seminar tingkat nasional, yakni Seminar Sejarah Nasional III di Jakarta tahun 1981. Makalah yang kusampaikan waktu itu tentang Masuknya Agama Islam ke Kalimantan Selatan. Kemudian pada tahun 1982 aku kembali menjadi pemakalah dalam seminar Sejarah Lokal yang diadakan di Denpasar Bali. Ketika itu aku menyampaikan makalah tentang Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan. Kemudian kecuali pada Seminar Sejarah Nasional IV di Medan aku absen, selanjutnya aku selalu dapat hadir pada Seminar Sejarah Nasional V tahun 1990 di Semarang, Kongres Kebudayaan tahun tahun 1991 di Jakarta, Diskusi Sejarah Lokal 1994 di Jakarta, Kongres Nasional Sejarah Indonesia VI di Jakarta tahun 1996, Konperensi Nasional Sejarah Indonesia VII tahun 2001 di Jakarta, menjadi pemakalah pada Lokakarya Nasional Pembangunan Berwawasan Budaya yang diselenggarakan Pusat Study Pariwisata UGM di Yogyakarta, serta yang baru berlangsung Konperensi Nasional Sejarah Indonesia VIII tahun 2006 di Jakarta.
Ketika menjabat sebagai Kepala Bidang Jarahnitra dari tahun 1989 sampai dengan yahun 1996 dalam kegiatan penelitian aku hanya bisa menjadi anggota tim. Hal ini sehubungan dengan jabatanku juga sebagai pimpinan bagian proyek yang saat itu bernama IPNB (Inventarisasi Pembinaan Nilai-Nilai Budaya). Namun selama itu juga selain hanya sebagai anggota tim penelitian di daerah, aku juga banyak menerima kegiatan penelitian yang langsung ditugaskan dari Direktorat Sejarah Jakarta. Semua naskah hasil kegiatan penelitian baik yang dari proyek di daerah maupun yang langsung ditugaskan dari pusat setiap tahun 2 atau 3 naskah juga diterbitkan di daerah, sedang sebagian lagi diterbitkan oleh proyek pusat di Jakarta.
Begitulah ketika menjelang akhir tugasku sebagai Kepala Bidang Jarahnitra dalam suatu pertemuan rapat sinkronisasi bidang-bidang dan lembaga-lembaga kebudayaan dalam lingkungan Depdikbud secara berseloroh aku bilang kepada teman-teman para Kepala Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional yang ada di Indonesia, yang umumnya kami sudah cukup lama baik, lebih-lebih mereka yang pernah sama-sama mengikuti SEPADYA selama 4 bulan di Sawangan Bogor, bahwa siapa yang bersedia menerimaku kalu aku mau jadi peneliti. Semua kawan-kawan ternyata bilang bersedia bahkan ada beberapa daerah memintaku karena di Balai Kajiannya belum cukup tenaga peneliti sejarahnya.
Kemudian aku memilih Balai Kajian Jarahnitra (Sejarah dan Nilai Tradisonal) Yogyakarta dengan pertimbangan mencapainya lebih mudah serta ada putriku yang mau kuliah di Yogya waktu itu. Tanggal 20 Juni 1995 secara resmi kukirimkan surat permohonan untuk diterima menjadi tenaga fungsinal peneliti kepada Kepala Balai Jarahnitra Yogyakarta. Tanggal 27 Juni 1995 aku terima surat memintaku untuk segera mengajukan permohonan mutasi dan menyerahkan bukti-bukti usulan penetapan angka kredit (ijazah dan buku-buku hasil penelitian). Sewaktu aku lapor kepada Direktur Jarahnitra di Jakarta Dr. Anhar Gonggong, prinsipnya beliau setuju tapi bertanya mengapa tidak ke Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisonal Pontianak (untuk Kalimantan hanya ada di Pontianak). Ketika itu kubilang bahwa ke Pontianak lebih sukar dan lebih besar biayanya, karena pesawat dari Banjarmasin tidak ada yang langsung, tapi ke Jakarta dulu atau setidaknya lewat Balikpapan yang penerbangannya tidak tiap hari. Akhirnya dengan pertimbangan demi perkembangan karirku pada bulan Nopember 1995 usul pindahku ke Balai Kajian Jarahnitra Yogyakarta disetujui.
Awal tahun 1996 aku mengajukan usul ke LIPI lewat Balitbang Depdikbud Jakarta disertai copy seluruh naskah-naskah hasil penelitian yang diterbitkan. Setelah dinilai di Balitbang berkasku di kirimkan ke LIPI untuk penilaian selanjutnya. Alhamdulillah hasil penilaian di LIPI juga memenuhi syarat untuk diangkat dalam jabatan peneliti, dan pangkat regulerku IV/b waktu itu. Memasuki awal tahun 1997 aku resmi menjadi PNS fungsional Peneliti Bidang Sejarah dan Nilai Tradisional pada Balai Kajian Jarahnitra Yogyakarta. Beberapa hasil penelitian lapangan karyaku yang diterbitkan ketika aku menjadi peneliti pada Balai Kajian Jarahnitra Yogyakarta, tahun pertama tentang: Ekspedisi Laut Para Pejuang Kemerdekaan dari Jawa ke Kalimantan. Selanjutnya sesuai dengan wilayah tugas Balai Kajian Jarahnitra Yogyakarta, aku hanya diperkenankan melakukan penelitian di Propinsi DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sehingga sesuai dengan naluri keagamaanku sejak itu aku mengambil obyek-obyek yang bisa menambah keimananku, seperti penelitian dengan obyek Masjid Sunan Ampel Surabaya, Masjid Besar Kauman Semarang, Masjid Sunan Bayat Klaten, Peranan Supranatural Dalam Perjuangan Kemerdekaan 1945-1949 di Yogyakarta. Pesantren Tahaffudhul Qur’an Semarang, Upacara Dugderan Menyongsong Puasa Ramadhan di Semarang, Riwayat Hidup K.H. Abdullah Umar Al Hafidz Semarang, dan Quwwatul Islam Masjid Para Pedagang Banjar di Yogyakarta. Beberapa buku yang juga diterbitkan ketika itu sekrepsi sarjana muda ku yang berjudul Dewan Banjar, dan thesis ku Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Penyebar Ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah Pada Abad Ke 18 Di Kalimantan Selatan, dan tentang Kehidupan Masyarakat Dayak Bukit Losado, serta Perjuangan Rakyat Menentang Federalisme di Kalimantan Selatan. Sedangkan buku-buku proyek hasil tim yang kuketuai antara lain: Sejarah Kota Banjarmasin. Sejarah Pendidikan Daerah Kalimantan Selatan, Sejarah Sosial Daerah Kalimantan Selatan, Pengaruh Penyempitan Lahan Pertanian di Kalimantan Selatan, dan lain-lain. (Lengkapnya bisa dilihat pada posting 8-4-09 judul Pengalaman dan Karyatulisku).
Dengan pendidikan keagamaan yang diarahkan orang tuaku sewaktu mudaku membuat aku tidak canggung ketika berada di lingkungan masyarakat yang agamis. Sejak tahun 1982 aku dan keluarga tinggal di Kompleks Beruntung Jaya Jln Hayam Wuruk Banjarmasin, aku ikut aktif dalam kegiatan pembangunan Masjid As Saadah di kompleks tersebut. Bahkan selama beberapa tahun aku dipercaya menjabat Wakil Ketua Pengurus masjid. Demikian pula ketika aku pindah ke Yoyakarta sebagai peneliti, ketua takmir masjid Al Ikhlas di Perumahan Citra Ringin Mas Purwomartani Yogyakarta, tempat aku dan keluarga tinggal, juga aku diminta untuk ikut dalam kegiatan-kegiatan peribadatan di masjid.
Sebagai orang Banjar yang tinggal di Yogyakarta aku pernah juga diundang untuk menjadi pemakalah dalam Kongres Budaya Banjar I tahun 2007 di Banjarmasin yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Kalimantan Selatan. Waktu itu makalah yang kusampaikan berjudul Para Pedagang Intan Perintis Komunitas Warga Banjar di Kesultanan Yogyakarta. Data-data tentang itu kebetulan sebelumnya aku pernah melakukan penelitian ketika menulis naskah berjudul Quwwatul Islam Masjid Para Pedagang Banjar di Kota Yogyakarta.
Insya Allah pada awal April 2010 ini sudah berada di Banjarmasin dan bisa memenuhi permintaan Panitia Kongres Budaya Banjar II (4-7 April 2010) menyampaikan makalah sesuai judul permintaan Sejarah Orang Banjar dan Pola Pemertahanan Kebudayaan di Perantauan (perihal komunitas orang Banjar di Yogyakarta). Sampai di sini dulu lah.....