Minggu, 22 Januari 2017

berakhirnya kekuasaan belanda di kalimantan selatan (2)



BERAKHIRNYA KEKUASAAN BELANDA DI KALIMANTAN SELATAN (2)
(sambungan)
Oleh: Drs. H. Ramli Nawawi
Situasi vacum pemerintahan ini, karena pemerintah Belanda tidak ada lagi, sedangkan Jepang belum mengatur pemerintahan ( yang ada hanya beberapa  orang serdadu Jepang) kesempatan tersebut digunakan oleh beberapa orang pencuri, dan yang terutama menjadi sasaran adalah orang Cina. Orang-orang Cina ada yang lari ke kampung menyelamatkan diri dan diantara mereka ada yang masuk Islam.
Berita tentang kedatangan tentara Jepang ini yang didesuskan dalam jumlah yang besar, menimbulkan hati kecut bagi Belanda di daerah sebelah selatannya. Berita pendudukan kota Amuntai ini menyebabkan kota selanjutnya , Barabai, Kandangan, Rantau, Mar tapura membuka seluas-luasnya  terhadap kedatangan Jepang. Tak ada satupun perlawanan yang etrjadi.
Baru saja terdengar bahwa kota Amuntai telah jatuh ke tangan Jepang, KNIL dan pemerintah sipil Belanda  melarikan diri ke daerah Dayak Besar, sehingga membiarkan seluruh wilayah Kalimantan Selatan jatuh ke tangan Jepang tanpa perlawanan apa-apa. Untuk menyerahkan kota Banjarmasin kepada Jepang , ditugaskan kepada Wali Kota Banjarmasin Van der Meulen dan kepada Javache Bank Konig. Pembumihangusan terhadap kota pun dilaksanakan oleh AVC pada malam Minggu tanggal 9 dan 10 Februari 1942 kota Banjarmasin menjadi lautan api , seluruh kendaraan militer dirusak dan di jejer di jalan Simpang Sungai Bilu, jembatan Coen di ledakkan, satu-satunya jembatan yang menyeberangi sungai Martapura  sehingga menggetarkan seluruh kota. Begitu pula percetakan ”Suara Kalimantan”  betul-betul dibumihanguskan, dirusak mesin-mesinnya, sedangkan letter-letter  yang masih merupakan zetsel yang ada dalam raam, dibuang ke sungai. Sementara itu percetakan De Endracht yang mencetak” Borneo Post” dan ”Bintang Borneo”, bukan dirusak, akan tetapi turut terbakar dalm komplek toko-toko dan pasar yang dibakar  oleh tentara Belanda (Vernielingscorps). Percetakan ”Suara Kalimantan” memang satu-satunya yang menentang penjajahan, karena itu dinomorsatukan untuk dibumihanguskan. Sedang percetakan lain seperti BanjarmasinsheDrukkery hanya dibuka bagian-bagian pentingnya saja, seperti  piringan tinta dan rol tinta bagian tersebut disembunyikan agar tidak dapat dipergunakan dengan segera oleh Jepang.
Pengrusakan seperti ini juga  berlaku di seluruh Kalimantan Selatan, begitu juga yang terjadi di Barabai.
 Akan tetapi sebelum kota Banjarmasin diserahkan terlebih dahulu kota dibumihanguskan oleh AVC dengan baik.. Seluruh persediaan bensin dekat  masjid Jami, bensin kapal terbang di Banua Anyar, bensin di Bagau, karet di gudang-gudang  Mac Laine Watson di Ujung Murung, bangunan Port Tatas dibakar habis. Sentral  Listrik ANIEM dan pabrik karet Hoktong  hancur sampai tinggal pondasinya saja.            
Rakyat dikerahkan untuk mengangkut persediaan beras di gudang Borsumy dan Big Five lainnya serta diakhiri dengan penggedoran toko-toko Cina dan rumah Belanda yang kosong.
Seluruh alat kekuasaan Belanda  menghilang setelah membuka pakaian seragamnya.
Tentara Rikugun  Jepang (Angkatan Darat)yang datang memasuki Banjarmasin lewat Hulu Sungai pada tanggal 13 Februari 1942 , sebagian datang dengan sepeda, sebagian lagi berjalan kaki. Serah terima kota tidak jadi dilaksanakan karena alasan politik bumi hangus AVC. Walikota Van der Meulen dan Kela Borneo Internaat Smith dan seorang Cina  yang menyambut Jepang dipancung di atas sisa-sisa reruntuhan jembatan Coen.
Tiga hari kemudian barulah Jepang memulai konsolidasi kekuasaannya yang dilakukan  mula-mula oleh Rikugun (Angkatan Darat) yang dikenal oleh rakyat dengan sebutan ”Cap Bintang”, kemudian diambil oper oleh Kaigun (Angkatan Darat).
 (bersambung). (HRN).

Sabtu, 31 Desember 2016

abu umamah




ABU UMAMAH


Abu Umamah ibnu Jarrah;” Wahai Sahabatku, sesungguhnya aku tidak pernah iri

 dan dengki terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Setiap malam sebelum

 tidur aku selalu membersihkan hatiku dari:

-ujub, takabur, kebencian dan rasa dendam

Abu Umamah ibnu Jarrah  tidak terkenal  dan sehebat seperti Abu Darda, Abdurrahman bin

 Arif, Salman Al Farisi, dll., tapi derajatnya  di mata Allah dan RasulNya sangat tinggi.

suku banjar



 SUKU BANJAR
Disusun: Drs. H. Ramli Nawawi
Kata “Banjar” berasal dari kata Banjarmasih. Banjarmasih adalah nama  sebah kampung di muara Sungai Kuwin, anak Sungai Barito. Muara Kuwin terletak antara Pulau Kembang dan Pulau Alalak. Banjarmasih bersal dari dua kata ”banjar” dan ”masih”. Banjar berarti kampung , sedangkan kata ”masih” adalah berasal dari nama kepala suku Melayu yang oleh orang suku Dayak Ngaju disebut Oloh Masih yang maksudnya dalah orang Melayu. Disebut Oloh Masih karena kepala sukunya disebut Patih Masih. Dengan demikian Patih masih berarti Patihnya Orang Melayu.

Orang-orang Melayu memang sejak zaman sebelum datangnya Agama Islam ke Kalimantan dan juga sebelum terbentuknya Kerajaan banjar, telah membuat pemukiman di sekitar muara Kuwin. Mereka berdampingan hidup dengan suku-suku Dayak di sekitarnya. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang kepaka syku yang disebut Patih. Dengan demikian disamping terdapat Patih Masih yaitu Patihnya Orang Melayu terdapat pula Patih Kuwin , Patih Balit, Patih Balitung dan Patih Muhur.

Dengan demikian di muara Kuwin terdapat lima kelompok suku bangsa yang hidup berdampingan secara damai dan terdapat persahabatan antara kelima suku tersebut. Dalam hal ini Patih Masih rupanya lebih menonjol  dianatara kelima  Patih itu, karena Patih Masih membuat sebuah bandar yang dikenal juga sebagai bandar Patih Masih. Di Bandar ini bertemu segala suku bangsa dan terjadi kontak hubungan dagang antara suku dan terjadi pula kontak antar budaya antar suku.   .

Dalam Sejarah Banjar diketahui bahwa bandar dari Patih Masih yang dikenal pula sebagai ”BANDAR MASIH”  yang terletak di kampung ”BANJARMASIH” merupakan tempat transaksi perdagangan suku Banjar dengan pedaganga dari Nusantara, dari Jawa, Palembang,Bugis, Cina, Arab dan India.

Kata ”Banjarmasih” ini lambat laun berubah menjadi Banjarmasin. Perubahan ini diakibatkan oleh catatan resmi Belanda . Dalam surat tahun 1664 nama Banjarmasih masih dipakai Belanda seperti : ”Pangeran Suryanata in Banjarmach (masih). Pangeran Ratu in Banjarmach (masih). Prince Banjarmach dan sebagainya”.

Dalam tahun 1733 kota ini sudah berubah menjadi Banjermasing, dan tahun 1845 menjadi Banjarmasin.

Kata ”Banjar” lambat laun tidak lagi berarti kampung tetapi menjadi sebutan untuk menyatakan identitas suatu negeri, bahasa, kerajaan, suku, orang dan sebagainya.

Suku Banjar asal mula berada di hulu aliran sungai Tabalong di utara dari Negara Daha. Perpaduan etnis lama kelamaan menimulkan perpadual kultural. Dalam penggunaan bahasa yang dikenal sebagai bahasa Banjar, terdapat unsur bahasa Melayu dominan sekali. Melalui periode Negara Daha masuk kebudayaan Jawa Timur dari daerah Kediri Utara, disamping itu masuk pula unsur budaya dari Majapahit. Pada permulaan abad ke 16 terjadi perebutan keraton dan pusat pemerintahan berpindah ke sebelah hilir Sungai Barito, yaitu Muara Kuwin dengan nama  Kerajaan Banjarmasin. Penduduk kota baru ini erjadi perpaduan antara penduduk Dayak Oloh Ngaju dan Oloh Masih atau orang Melayu.

Kerajaan Banjarmasin adalah sebuah kerajaan yang mendapat pengaruh dominan dari agama Islam, sehingga kemudian agama Islam dijadikan sebagai agama kerajaan. Disamping itu Kerajaan Banjarmasin adalah sebuah kerajaan Maritim yang mengandalkan kehidupan kerajaan dari hasil perdagangan. Maksudnya pedagang-pedagang Nusantara dan pedagang asing ke Banjarmasin menyebabkan terjadinya percampuran budaya, dan budaya itu dikenal sebagai budaya Banjar, penduduknya disebut Orang Banjar dan bahasanya dikenal sebagai bahasa Banjar.

Budaya Banjar sebagai kebudayaan kelompok, kebudayaan lokal adalah manifestasi cara berpikir dari sekelompok orang di daerah Kalimantan Selatan yang didominasi oleh budaya Islam. Penduduknya yang mayoritas beragama Islam dan sangat fanatik menganut ajaran Islam tersebut  menybabkan budaya luar yang bertentangan dengan agama maupun budaya lokal sisa-sisa kebudayaan lama tidak bisa berkembang. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa agama Islam adalah sebagai indikator dan sekaligus sebagai filter bagi masuknya budaya luar atau budaya  lokal yang muncul yang bertentangan dengan agama Islam.

Ada pendapat beberapa sarjana tentang siapa sebetulnya Suku Banjar atau Orang Banjar itu. Diantaranya adalah:

MenurutMallinkrodt  dalam Het Adatrecht van Borneo, Suku Banjar itu adalah suatu namayang diberikan untuk menyebut suku-suku Melayu yang terutama berasal dari daerah penguasaan Hindu –Jawa yang sebagian besar berdiam di pesisir Kalimantan Selatan, Timur dan Barat.

Menurut  J.J. Ras dalam Hikyat Banjar study in Malay Historigraphy mengatakan bahwa konsentrasi koloni Melayu yang pertama terdapat di daerah  Tabalong yang kemudian berkembang menjadi Suku Banjar. Mereka memasuki bagian Timur Teluk Besar itu dengan lereng-lereng kaki Pegunungan Meratus sebagai pantainya, danau, dataran rendahnya kemudian disebut  daerah Benua Lima dan Benua Empat. Dalam wilayah inilah golongan Melayu itu berbaur dengan Oloh Maanyan, Orang Bukit, melahirkan inti pertama suku Banjar yang kemudian mendirikan Kerajaan Tanjung Pura dengan ibu kota Tanjung Puri yang mungkin sekali  terletak  di daerah Tanjung sekarang.

Menurut Douglas Miles dalam Cutless and cresent moon, acase study in social and political change in outer Indonesia, mengatakan bahwa  Orang Banjar dengan sebutan suku Melayu Banjar sebagai kelompok orang  yang tinggal di bandar-bandar yang telah mengembangkan pemukiman  berkelompok disebabkan mereka mampu bekerjasama terutama dalam mengerjakan  pekerjaan  pertanian  Pekerjaan bertani  memerlukan tenaga terutama pada musim panen, karena itu kerja sama kelompok saling tolong menolong sangat diperlukan sekali. Suku Banjar ini mempunyai sifat yang agak tertutup dengan identifikasi yang kuat trhadap Islam  dan insentitas serta pelaksanaa ritus yang ketat dan juga ditandai oleh spesifikasi ekonomi dalam lingkaran pasar. Keterbukaan suku Melayu Banjar menjadi jelas bilaman mereka mengemukakan syarat-syarat bagi anggota baru yaitu mereka meninggalkan hak dan kewajiban dalam persekutuan lama.

Menurut Moh. Idwar Saleh bahwa manusia Banjar itu berasal dari tiga kelompok. Mereka tidak berasal dari satu suku tetapi membentu satu group dari kelompok Banjar Muara yang didominasi oleh suku Dayak Ngajo, kelompok Banjar Hulu yang didominasi oleh suku Bukit dan kelompok suku Banjar Batang Banyu yang didominasi suku Dayak Maanyan. Ketiga jenis ini telah memberikan unsur-unsur budayanya pada manusia suku banjar, sehingga banyak atau sedikit unsur-unsur budaya asalnya masih tampak pada manusia Banjar sekarang.

Menutut Tjilik Riwut , hidupnya suku Banjar di pelbagai daerah banyak bercampur baur dengan orang Dayak. Orang Bakumpai-Marabahan adalah salah satu contoh campuran orang Banjar dengan suku Dayak Ngajo, walaupun mereka lebih banyak mereka mengidentifikasikan dirinya orang Banjar daripada sebagai orang Dayak Ngajo.

Ciri khas orang Banjar ialah suku Banjar secara umum dilahirkan sebagai orang Islam, atau bahwa orang Banjar beragama Islam. Meskipun mereka asalnya dari suku Dayakngajo, tetapi apabila mereka menganut agama Islam, mereka merasa orang Banjar, demikian menurut H. A. Gazali Usman  dalam Sistem Politik dan Pemerintahan Orang Banjar”.

Proses sejarah dalam perjalanan pembentukan khas kebudayaan kelompok suku bbanjar ini adalah akibat  lingkungan alam Kaimantan Selatan yang penuh sungai adaptasi lingkungan oleh tiga kelompok-kelompok Ngaj0, Maanyan dan orang Melayu/orang Bukit, namun budaya Melayu dan kepercayaan terhadap agama Islam mendominasi dalam pembentukan budaya Banjar tersebut. Kelangsungan kebudaya Banjar setiap kelompok dibentuk oleh pendidikan dan kebiasaan yang diberikan oleh masyarakatnya, dipengaruhi oleh perubahan-perubahan geomorfologis yang berlangsung sejak masa purba pada saat laut sampai ke kaki Pegunungan  Meratus. Saat itu Kalimantan dikenal sebgai Nusa Tanjung Negara atau Pulau Hujung Tanah. Hal itu masih terlihat pada daerah sebelah selatan  dari Kalimantan Tengah sekarang dari Muara Tewegh sampai Sampit masih berada di bawah permukaan laut  yang dikenal sebagai  Tanah Besar Barito atau Barito Besar      ( Sumber:Integrasi Nasional Suatu Pendekatan Budaya Kalsel: Gazali Usman, Ramli Nawawi, Fahrurazie).            
      

Selasa, 29 November 2016

lahirnya organisasi pemuda pelajar di yogyakarta



  LAHIRNYA ORGANISASI PEMUDA PELAJAR  DI YOGYAKARTA
Oleh: Drs. H. Ramli Nawawi
Lahirnya organisasi kepemudaan pertama di Indonesia juga berkaitan erat dengan aktifitas dan peran pelajar. Karena Budi Utomo sebagai suatu organisasi modern dibangun oleh pemuda-pemuda yang juga berstatus sebagai pelajar, yakni pelajar Sekolah Dokter Jawa. Sesudah itulah kemudian bermunculan berbagai organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan. Dalam perkembangannya kemudian, dengan adanya kesadaran bahwa pemuda Indonesia itu pada hakekatnya adalah satu, maka lahirlah Kongres Pemuda yang selanjutnya menghasilkan Sumpah Pemuda tahun 1928.

Organisasi pelajar Indonesia pertama terbentuk dengan nama Persatuan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI). Sebenarnya anggota organisasi ini terdiri dari para mahasiswa. Tetapi istilah mahasiswa waktu sebelum perang belum lazim dipergunakan.

Pada masa pendudukan Jepang, semua organisasi dilarang termasuk organisasi PPPI. Untuk gantinya khusus organisasi pelajar, Jepang membentuk organisasi barisan pelajar yang disebut Gakuto-tai. Sedangkan anak-anak muda yang tidak bersekolah digiring oleh Jepang untuk masuk barisan Seinendan dan Keibodan. Mereka semua mendapat latihan semi militer ala Jepang, seperti baris berbaris, gerak badan, melakukan latihan perang-perangan dan lain sebagainya. Tujuannya jelas, yakni sehubungan dengan Jepang memerlukan tenaga para pemuda tersebut untuk menghadapi serbuan Sekutu yang bisa terjadi setiap saat.

Sementara itu di Yogyakarta, setelah beberapa Sekolah Menengah dibuka kembali, timbul hasrat dari beberapa pemuda pelajar sekolah lanjutan tersebut untuk mempererat rasa persatuan  di antara mereka. Sehubungan dengan itu ketika berlangsung perayaan usia satu tahun Sekolah Menengah Dagang hasrat tersebut diutarakan dan telah mendapat dukungan dari siswa SMT (Sekolah Menengah Tinggi), SGL (Sekolah Guru Laki-laki), dan SKP (Sekolah Kepandaian Putri).

Selanjutnya usaha pembentukan organisasi pelajar tersebut semakin kuat dengan adanya organisasi Gerakan Benteng Perjuangan Jawa (GBPJ) yang meliputi seluruh daerah Mataram. Organisasi yang menggerakkan masyarakat yang secara lahiriah berarti memperkuat benteng pertahanan rakyat ini, tampaknya mendapat dukungan  dari pemerintah Jepang. Sehubungan itu kantor Pemerintah Jepang Setempat (Kooti) menyerukan dan menganjurkan supaya seluruh Yogyakarta mengikuti gerakan tersebut. Situasi inilah yang melicinkan terbentuknya organisasi pelajar pertama di Yogyakarta yang bernamaGASEMMA (Gabungan Sekolah Menengah Mataram). Organisasi ini semula hanya merupakan organisasi gabungan olah raga biasa. Tetapi kemudian menjadi besar dan mendapat pengakuan sebagai sebuah organisasi “superior” setelah GASEMMA dalam suatu layatan olah raga ke Solo dan Bandung atlit-atlitnya berhasil mengalahkan atlit-atlit yang tergabung dalam Gabungan Sekolah Menengah Bandung maupun Gabungan Sekolah Menengah Solo.

Organisasi GASEMMA ini dalam perjalanannya sempat redup karena tekanan-tekanan yang diberikan penguasa Jepang. Kegiatan mereka di bidang olah raga dan kebudayaan semakin berkurang. Bahkan kemudian tenaga mereka banyak digunakan secara cuma-cuma dalam Kinrohoshi (kerja bakti) untuk kepentingan Pemerintahan Jepang. Tekanan dan paksaan yang dialami para pelajar ini ternyata memberikan kesadaran yang menimbulkan keinginan untuk lepas dari kekangan. Mereka menghendaki menjadi orang berprakarsa dan berjiwa hidup.

Aktifitas pelajar Yogyakarta ini baru mulai tampak lagi ketika menjelang peringatan Hari Kartini bulan April tahun 1945 bertempat di Gedung Sekolah Menengah Putri, para ketua-ketua murid Sekolah Menengah seluruh Yogyakarta berkumpul dan mengadakan peringatan Hari Kartini tersebut. Kesempatan ini mereka gunakan untuk merencanakan  reorganisasi pelajar-pelajar Sekolah Menengah di kota ini.

Sehubungan dengan hal di atas dalam rapat ketua-ketua murid Sekolah Menengah di Yogyakarta pada tanggal  8 Mei 1945 berhasil dibentuk susunan pengurus GASEMMA sebagai berikut:
Ketua: Soekardi (STM)
Wakil Ketua: Soetan Iljas (SDM)
Penulis I: Dwidjo Hardjosoebroto(SMT)
Penulis II: Poepoe Ratnasari (SGP)
Bendahara I: Soerasmijah (SMP)
Bendahara II: Mochammad Bachar (SGM)
Pembantu Umum: Moentalib (TS).          

Kegiatan GASEMMA dalam perkembangannya kemudian untuk menjalin kontak dengan para anggotanya tidak lagi melalui sekolah tetapi melalui Rukun Tetangga. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, langkah GASEMMA semakin nyata. Ikatan antar pelajar meningkat menjadi keinginan akan suatu ikatan  pelajar seluruh Indonesia. Sehubungan dengan hal itulah kemudian organisasi ini merencanakan akan mengadakan Kongres Pemuda Pelajar. Usaha ini dimulai dengan dibentuknya sebuah panitia yang diketuai oleh Sukardi, Ketua GASEMMA, dan dibantu oleh wakil-wakil dari berbagai Sekolah Tingkat Pertama di Yogyakarta. Kongres berlangsung tanggal 25 sampai 27  September 1945, dan mendapat kunjungan  dari Sultan Hamengku Buwono IX dan Paku Alam VIII.

Kongres yang diikuti wakil-wakil pelajar dari berbagai kota di tanah Jawa tersebut, bertujuan antara lain untuk membentuk serikat pemuda-pemuda pelajar serta membulatkan tekad perjuangan pemuda untuk kepentingan rakyat Indonesia. Dari keputusan-keputusan kongres ini yang terpenting dapat disusunnya Pengurus Besar organisasi yang diketuai oleh Anto Sulaiman dari Sekolah Kedokteran Jakarta. Pengurus  Besar dimaksud berkedudukan sebagai pengurus pusat, dan akan diikuti oleh pembentukan organisasi-organsasi pelajar dari berbagai daerah. Sehubungan dengan itulah  GASEMMA Yogyakarta sejak tanggal 27 September 1945 tersebut kemudian berubah menjadi Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) Yogyakarta.
(Sumber: Kiprah Perjuangan Tenttara Pelajar dan Peranan Unsur Supra Natural Pada Masa Perang Kemerdekaan di Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 1945-1949: Drs. H. Ramli Nawawi).    

Senin, 24 Oktober 2016

Sabtu, 15 Oktober 2016

23. takdir cinta



TAKDIR CINTA
Ceritera ini fiksi, kalau ada kesamaannama,
tempat dan lainnya dibuat hanya kebetulan,
entri ini sambungan dari entri 22.

Oleh: Ramli Nawawi

23. CINTA DALAM PENANTIAN (2)
“Bagaimana ijin nya mama tadi Na”, tanya Ali.
“lengkapnya gini, kalau pergi jangan lama-lama ini lagi puasa”, jelas Ana.
”Okey”, bilang Ali.

Ali dan Ana keluar pintu bersamaan. Sementara Ali mengambil kendaraan di samping rumah, Ana menunggu di pekarangan..
”Ayu Na naik”, ajak Ali ketika kendarannya sudah  di samping Ana berdiri.
”Kemana ni Li”, tanya Ana begitu ia sudah duduk di sadel di belakang Ali.
”Udah, pegang erat-erat aja, nanti jatuh diambil orang”, jawab Ali.
”Kencangnya gini ya”, bilang Ana sambil mencubit pinggang Ali.
”Aduuh, bukan kencang cubitnya Na, tapi erat pegangnya”, bilang Ali sepontan.
”Ooh, gini”, bilang Ana sambil melingkarkan tangannya ke pinggang Ali.
”Ya gitu Ana sayang..”, puji Ali.

Kali ini Ali membawa Ana pergi jalan-jalan tidak ke arah pusat kota, tapi ke arah pinggiran kota Kandangan. Karena itu Ali mengarahkan kendaraannya belok kanan dari pekarangan rumah Ana. Sampai di ujung Jalan Durian Sumur, Ali  belok kiri memasuki Jalan Gerilya. Setelah menempuh jarak kurang lebih setengah kilometer Ali menghentikan kendaraannya di pekarangna luas bangunan sebuah sekolahan. Karena lagi libur puasa tidak ada kegiatan di komplik sekolahan ini.
”Kok ada apaan Li berhenti disini”, celetuk Ana.
“Tapi you tahukan tempat ini”, sahut Ali.
“Ya tahulah, tempat sekolah kita dulu”, bilang Ana.
”Ingat ya Na, yang mana pintu ruang kelas you, dan masih ingat nggak yang mana pintu ruang kelas aku”, tanya Ali.
”Masa sudah lupa,  bangunan kiri ni itu pintu yang ke 4 ruang kelas kami. Ruang kelas you itu bangunan yang menghadap jalan ni pintu
yang paling tengah, di samping pintu itu dulu waktu istirahat you sering berdiri berduaan dengan seorang cewe, ya ganti-ganti, tapi  ada yang istimewa waktu itu tampaknya”, balas Ana.
”You sering perhatikan itu”, tanya Ali.
”You ge er ya Li”, bilang Ana.
”Ge er apa Na:”, tukas Ali.
”Ge er tu gede rasa disukai banyak teman cewe”, sahut Ana.
”Tapi Ali kan hanya pernah sekali menulis surat cinta, dan itu  hanya untuk Ana”,.jelas Ali.
”You percaya kan Li, Ana juga hanya pernah sekali membalas surat cinta, dan itu hanya untuk Ali”, jawab Ana.
”Percaya lah, karena Ali tahu waktu itu ada orang yang gagal mengharap cintanya Ana”, ujar Ali.
Sudah lah Li, ya di sekolah inilah dulu cinta kita tumbuh dan bersemi hingga kini, memang kadang ada reak-reak masalah, tetapi kita selalu menang terhadap masalah kan Li”, jawab Ana.
”Udah yu Li, kita jalan yu, dikirain orang apa lama-lama berdiri di sini”, sambung Ana.
”Okey, ayu naik Na dan pegang yang erat”, bilang Ali yang sudah di atas kendaraannya.
”Kemana lagi Li”, bilang Ana sambil naik duduk di sadel di belakang Ali.
”Tenang Na, ini kita ke Jalan Singakarsa yu, tapi coba lewat Jalan Pemuda”, jawab Ali.
”Nggak kelamaan ya Li”, Ana mengingatkan pesan ibunya.
Ali tidak menjawab pertanyaan Ana. Setelah melewati Jalan Parendra, Ali membelokkan kendaraannya menuju Jalan Pemuda.
Ketika sampai di  ujung Jalan Pemuda sebelum menyeberang perampatan jalan, Ana minta berhenti di tepi jalan persis di sampng bangunan gedung Balai Rakyat.
”Apain Na  berhenti di sini”, ujar Ali.
”You sudah lupa ya, di bangunan ini kita pernah berhadir pada acara malam perpisahan sekolah kita”, sahut Ana.
”Peristiwa apa ya Na”, tanya Ali, padahal dia ingat semua.
”You kan nyanyi Cinta Hampa di acara perpisahan itu”, ujar Ana.
”Waduh lupa Na”,  ujar Ali pura-pura lupa.
”Memang waktu itu you benar mau meninggalkan Ana ya Li”, ujar Ana.
”Ali galau Na waktu itu, karena Ana sejak rekreasi ke Pantai Takisung, Ana  kayanya sudah tak acuh sama Ali”, jawab Ali.
”Ali kan mau melanjutkan sekolah, tapi tak pernah bilang sama Ana’, jelas Ana.
”Wah itu peristiwa lama, udah Na naik dulu, tujuan kita kan ke Jalan Singakarsa”, ujar Ali.
Tanpa bicara Ana naik duduk di sadel kendaraan, hatinya sedih mengingat peristiwa itu. Selama dalam perjalanan baik Ali maupun Ana tidak bicara apa-apa. Ketika melewati sebuah rumah asrama puteri tempat tinggal Ana dulu, Ali berucap: “Asrama you dulu Na”, kata Ali.
Ana tidak merespon ucapan Ali. Ia justeru ingat kelanjutan peristiwa sehabis selesai malam perpisahan sekolahnya dulu itu.

Setelah berjalan kurang lebih lima belas menit, Ali menghentikan kendaraannya. Tapi karena rumah asrama Inderakila tempat tingal Ali dulu tampak terkunci, Ali meneruskan ke asrama Darmapala yang berjarak kurang lebih dua puluh lima meter di sebelahnya, Ali berhenti di halaman asrama tersebut.
”Apain Li singgah disini”, ujar Ana.
”Mau suwan sama bibi asrama yang tinggal di bagian belakang asrama ni”, ujar Ali.
Bersamaan dengan ucapan Ali, bibi asrama tampil di pintu papilyun asrama.
“Ali ya, lama ngak kesini nih”, ujar bibi asrama.
“Kenal sama Ana ya bi”, bilang Ali menunjuk ke arah Ana.
”Kenallah, yang sering kan datang di asrama sebelah, tapi pernah juga dengan temannya kesini”, jawab bibi.
”Silakan masuk, ya silakan mau duduk dimana saja, tapi tak ada minuman kan lagi puasa nih”, sambung bibi sambil meninggalkan Ali dan Ana.
”Santai disini aja yu Na”, bilang Ali sambil mengajak Ana duduk di kursi di ruang tengah asrama.
”Pernah ke asrama ini ya Na”, sambung Ali setelah mereka duduk sejajar berdampingan.
”Ya pernah dulu menemani kawan Ani menemui bapa asrama ini”, ujar Ana                                               
”Tapi kalau ke asrama sebelah sering kan Na”, sungka Ali.
”Seingat you Ana berapa kali ya datang ke asrama you”, tukas Ana.
”Lupa, tapi yang tak pernah terlupakan, you datang besoknya setelah acara malam perpisahan dulu”, ujar Ali.
”Karena waktu pulang acara malam perpisahan Ana minta you tunggu besoknya kan di asrama, untuk memastikan apakah Ali tu memang akan meninggalkan Ana”, jelas Ana.
”Ya tak pernah terlupakan, karena pertemuan itu menyelesaikan  kesalahpahaman antara kita”, bilang Ali.
”Iyakan Li, kalau Ana tidak datang waktu itu, tidak ada Ana bersama Ali hari ini”, bilang Ana yang waktu itu berusaha menyelamatkan cinta mereka.
”Takdir cinta kita Na, tak akan terpisahkan”, ujar Ali sambil merapat ke Ana dan memeluknya.
”Puasa Li”ujar Ana mengingatkan.
”Udah, pulang yu Na, aku suwan dulu sama bibi”, kata Ali.
Ali masuk ke belakang bagian asrama suwan sama bibi, sementara Ana keluar menunggu di pekarangan. Sebentar Ali sudah juga di pekarangan. Ali menaiki kendaraannya, dan minta Ana naik di belakangnya.
”Pegang Na”, ujar Ali sambil memacu kendarannya, pulang ke rumah Ana.
(bersambung)                                                                                                                                   i