Rabu, 17 Agustus 2016

kalimantan selatan sekitar proklamasi kemerdekaan 17-8-1945



KALIMANTAN SELATAN
SEKITAR PROKLAMASI KEMERDEKAAN 17-8-1945

Oleh:
Drs. H. Ramli Nawawi

Bom atom yang dijatuhkan Amerika Serikat di Hirosima dan Nagasaki telah memaksa Jepang untuk menyerah tanpa syarat kepada Sekutu pada tanggal 15 agustus 1945. Peristiwa penyerahan ini di Indonesia sangat dirahasiakan oleh Jepang. Namun rakyat Indonesia yang selalu mengikuti perkembangan perang di Asia Timur Raya pada waktu itu sudah melihat tanda-tanda bahwa Jepang sudah tidak berdaya lagi.

Tidak terkecuali apa yang terjadi di Kalimantan Selatan pada saat berakhirnya kekuasaan Jepang tersebut. Ada beberapa peristiwa yang menunujukkan bahwa Jepang di daerah ini sudah tidak berdaya lagi.
 1. Ketika pesawat pembom Serikat menyebarkan selebaran di atas Kota Banjarmasin pada tanggal 15 Agustus 1945, kubu meriam penangkis serangan udara milik Jepang yang ada di Sungai Jingah tidak mengadakan reaksi apa-apa.  
 2. Sebagian dari selebaran Sekutu yang berisi permintaan agar Jepang menyerah tersebut dapat dipungut oleh rakyat, dan Jepang tidak melakukan tindakan apa-apa.
 3. Bahkan kemudian bertepatan dengan tanggal 17 Agustus 1945 kubu meriam penangkis serangan udara yang terdapat di Sungai Jingah Banjarmasin dibongkar sendiri oleh Jepang.

Apabila peristiwa kekalahan dan menyerahnya Jepang yang sudah terlihat tanda-tandanya tersebut tetap merupakan rahasia untuk rakyat Indonesia, maka demikian pula halnya dengan peristiwa berlangsungnya Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jakarta. Rakyat Indonesia tidak begitu saja dapat mengetahui bahwa wakil-wakilnya di Jakarta sudah memproklamirkan kemerdekaan dan Indonesia sudah bebas dari penjajahan negara manapun.

Apabila dari daerah-daerah di Indonesia ada wakil yang mengikuti kegiatan-kegiatan di Jakarta dalam rangka pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan tersebut, maka tidak terkecuali dari daerah ini. Seorang tokoh daerah Kalimantan Selatan waktu itu bernama A.A. Hamidhan, yang pada masa Jepang berkuasa di daerah ini menjabat sebagai Pemimpin Redaksi surat kabar Borneo Shimboen, pada tanggal 13 Agustus 1945 berangkat dengan kapal terbang Jepang ke Jakarta selaku Anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dari daerah Kalimantan Selatan untuk menghadiri rapat-rapat dalam rangka pelaksanaan kemerdekaan Indonesia.

Wakl-wakil bangsa Indonesia yang secara diam-diam mendapat dukungan morel dari orang Jepang di Indonesia telah mempersiapkan akan mengadakan rapat sehubungan dengan kemerdekaan Indonesia ini pada tanggal 16 Agustus 1945. Namun karena tindakan para pemuda yang mempunyai pandangan lain telah melakukan “pengamanan” terhadap Bung Karno dan Bung Hatta, maka rapat yang telah disiapkan tidak jadi berlangsung.

Tetapi kemudian para pemuda yang telah mengambil alih kegiatan, mengumpulkan para wakil bangsa Indonesia termasuk Soekarno-Hatta dalam rapat tanggal 16 Agustus 1945 di rumah Laksamana Maeda, di mana disusun  teks Proklamasi yang diputuskan akan dibacakan besoknya tanggal 17 Agustus 1945 Demikian pula atas usul para pemuda pula agar teks Proklamasi tersebut hanya ditandatangani oleh Soekarno-Hatta sebagai wakil bangsa Indonesia.

A.A. Hamidhan sebagai wakil daerah Kalimantan Selatan selain turut menghadiri upacara pembacaan Proklamasi Kemerdekaan, juga mengikuti rapat-rapat dalam rangka menetapkan UUD 45, memilih Presiden dan Wakil Presiden, serta menetapkan pejabat-pejabat di daerah yang menjadi bangian dari Negara Indonesia Merdeka.

Sehubungan dengan di atas telah ditetapkan sebagai Gubernur Kalimantan yang pertama  adalah Ir. Pangeran M. Noor, sedangkan sebagai Ketua Komite Nasional Indonesia (KNI) Daerah ditunjuk Mr. Rusbandi dan Ketua Partai Nasional Indonesia Daerah Dr. Susudoro.

A.A. Hamidhan setelah selesai menghadiri rapat-rapat pada tanggal 20 Agustus 1945 kembali ke Banjarmasin dengan pesawat Jepang. Secara implisit A.A. Hamidhan membawa tugas-tugas dari Pemerintah Indonesia yang perlu segera disampaikan kepada masyarakat Kalimantan Selatan. Tugas itu adalah: (1) menyampaikan berita tentang Proklamasi Kemerdekaan, (2) membentuk Komite Nasional Indonesia Daerah, (3) membentuk Partai Nasional Indonesia Daerah.  

Tapi sejarah berjalan lain, karena setibanya A.A. Hamidhan di Banjarmasin langsung mendapat pengawalan ketat dari penguasa Jepang. Rumah beliau dijaga dan tidak diperkenankan menerima tamu siapa juapun. Sikap dan tindakan Jepang yang berhubungan dengan perintah Sekutu agar tidak merubah status quo sampai dengan penyerahan kekuasaan di daerah ini, menyebabkan satu-satunya orang yang dapat memberikan penjelasan tentang kemerdekaan Indonesia tidak dapat berperan tepat pada waktunya.

Namun dari peristiwa lain yang menggambarkan kenekadan rakyat yang sudah sangat merindukan kemerdekaan ini, pada tanggal 20 Agustus 1945 itu juga berita Proklamasi Kemerdekaan telah menjadi pembicaraan masyarakat di Kandangan. Pada hari itu Borneo Shimboen Edisi Hulu Sungai pimpinan A. Basoeni telah memuat berita tentang kemerdekaan Indonesia berupa teks Proklamasi Kemerdekaan dan adanya UUD 1945. Berita ini sebelumnya telah dapat ditangkap melalui sebuah radio “gelap” (pada zaman Jepang semua radio dilak) milik A. Kusasi seorang ahli reparasi radio di Kampung Pandai Kandangan.     

Berita kemerdekaan yang telah disiarkan melalui surat kabar Borneo Shimboen edisi Hulu Sungai tersebut, kemudian dibacakan kembali dalam Pasar Malam Jepang yang berlangsung pada tanggal 20-30 Agustus 1945 di Kandangan.

Rakyat di daerah Hulu Sungai khususnya di Kandangan yang sejak zaman Pergerakan sudah aktif dalam kegiatan politik tersebut kemudian melakukan pemasangan bendera Merah Putih di rumah-rumah. Lagu Indonesia Raya pun berkumandang menggantikan lagu Kimigayo. Bersamaan dengan itu disebarkan selebaran yang berisi seruan agar rakyat mempertahankan dan menegakkan Pemerintah Negara RI yang telah diproklamirkan. Bahkan untuk kenang-kenangan telah didirikan sebuah tugu berbentuk “Lilin Menyala” di bawah pimpinan Hamli Tjarang sebagai tanda menyalanya api kemerdekaan. Tugu lilin menyala yang dibangun di depan Kantor Pemerintahan di Kandangan tersebut, kemudian dihancurkan oleh NICA setelah mereka berhasil berkuasa kembali di daerah ini.

Sementara itu di Banjarmasin oleh para pemuda pejuang juga telah dapat ditangkap berita peristiwa sekitar penyerahan Jepang dan kemerdekaan Indonesia melalui radio “gelap” milik Sunaryo dan Syahrul. Berita-berita yang dapat diikuti sejak tanggal 16 Agustus 1945 tersebut ternyata hanya sempat berkembang sampai pada tingkat bisik-bisik di antara sesama tokoh pergerakan di Kota Banjarmasin.

Sementara itu surat kabar Borneo Shimboen Banjarmasin pada tanggal 26 Agustus 1945 terbit dengan berita kemerdekaan Indonesia.  Borneo Shimboen terbitan No. 851 Minggu 26 Hatji-Gatsoe 2605 tersebut memuat tentang Pengangkatan Kepala Negara dan Bentuk Negara Indonesia Merdeka. Berita ini keluar setelah ada pembicaraan antara A.A. Hamidhan selaku Pimpinan Redaksi surat kabar tersebut dengan Menseibo yang masih banyak menentukan di daerah ini. Pembicaraan dalam rangka penyebaran berita proklamasi tersebut berisi tentang ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi. Bahwa yang disiarkan bukan Teks Proklamasi, tetapi tentang pengangkatan Kepala Negara dan Bentuk Indonesia Merdeka. Di samping itu A.A. Hamidhan dianjurkan oleh Menseibo agar meninggalkan Banjarmasin kembali ke Jawa. Di mana yang bersangkutan kemudian aktif di Jakarta membantu Mr. Kasman Singodimedjo yang menjabat sebagai Kepala Keamanan Daerah Jakarta.

Demikianlah berita kemerdekaan yang disiarkan melalui surat kabar Borneo Shimboen tanggal 26 Agustus 1945 tersebut dalam waktu singkat tersebar di seluruh pelosok daerah Kalimantan Selatan.

Di Banjarmasin berita tersebut mendapat sambutan hangat dari rakyat yang telah lama merindukan kemerdekaan. Penduduk Kota Banjarmasin pada hari itu banyak yang memasang bendera Merah Putih di halaman rumah mereka. Berbagai macam bahan dan ukuran bendera Merah Putih telah mewarnai kota Banjarmasin.

Pemasangan bendera Merah Putih tersebut tidak dilarang oleh Jepang. Sehingga sejak saat itu rakyat di daerah ini merasa seperti benar-benar telah mendapatkan kemerdekaan yang telah lama diharapkan. (HRN).



 

Selasa, 09 Agustus 2016

Kamis, 04 Agustus 2016

pengalaman pekerjaan dan karya tulis



 PENGALAMAN PEKERJAAN DAN KARYA TULIS

Nama: Drs. H. Ramli Nawawi, alumnus Fakultas Keguruan Jurusan Sejarah UNLAM Banjarmasin (1977). Pengalaman: Guru SMP Simpur 1961-1962, Guru SMPN 1 Barabai 1963-1964, Guru SMPN 1 Kandangan 1965-1967, Guru SMPN 7 Bjm 1968-1969, Guru SMPN 6 Bjm 1970-1976, Guru SMAN 3 Bjm 1977-1980, Kasi TT PSK/Jarahnitra 1981-1988, Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Tradisional Kanwil Depdikbud Prop. Kalsel. 1989-1996, Peneliti Muda, Peneliti Madya, Ahli Peneliti Muda, Ahli Peneliti Madya Jarahnitra pada BKSNT Yogyakarta 1967-2006.


KARYA-KARYA TULIS YANG DITERBITKAN

Buku-Buku Karya Tulis Sendiri:  
1.Dewan Banjar, Penerbit Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Cabang  Banjarmasin, ISBN: 979-9464-02-1, th. 2000.

2.Peranan Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Dalam Penyebaran Ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama'ah di Kalimantan Selatan, Penerbit Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) Yogyakarta, ISBN: 979-8971-02-7, th. 1998.

3.Ekspedisi Laut Dari Jawa Ke Kalimantan Selatan Pada Masa Revolusi Kemerdekaan (1945-1949), Penerbit BKSNT Yogyakarta, ISBN: 979-8971-01-9, th.1998.

4.Masjid Ampel, Sejarah, Fungsi dan Peranannya, Penerbit dalam Laporan Penelitian Jarahnitra, No. 018/P/1999, th. 1999.

5.Kehidupan Suku Bukit Loksado Di Kalimantan Selatan, Penerbit MSI Cabang Banjarmasin, ISBN: 979-9464-01-3, th. 2000.

6.Perjuangan Kaum Republikein Menuju Negara Kesatuan Republik Indonesia di Kalimantan Selatan, Penerbit MSI Cabang Banjarmasin, ISBN: 979-9464-00-5, th. 2001.

7..Masjid Besar Semarang Peranannya Dalam Pengembangan Islam, Penerbit MSI  Cabang Yogyakarta, ISBN: 979-9419-10-7, th. 2001.

8.Kiprah Perjuangan Tentara Pelajar dan Peranan Unsur Supra Natural Pada Masa Perang Kemerdekaan di Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 1945-1949, Penerbit MSI Cabang Yoyakarta, ISBN:979-9419-09-3, th. 2001.

9.Pondok Pesantren Tahaffudzul Qur'an Semarang Perkembangan dan Peranannya, Penerbit MSI Cabang Yogyakarta, ISBN: 979-9419-16-6. th. 2004.

10.Masjid Gala Peninggalan Sunan Bayat Keadaan dan Peranannya (1980-2002), Penerbit MSI Cabang Yogyakarta, ISBN: 979-9419-15-8, th. 2004.
  
11.Dugderan Di Semarang Suatu Kajian Sejarah Tradisi Budaya Sebagai Aset Wisata, Penerbit MSI Cabang Yogyakarta, ISBN: 979-9419-17-4, th. 2004.

12.K.H. Abdullah Umar Al Hafdz, Kehidupan, Pengabdian dan Pemikirannya,  Laporan Penelitian BKSNT Yogyakarta, th. 2004.

13.Quwwatul Islam Masjid Para Pedagang Banjar Di Kota Yogyakarta, Laporan Penelitian BKSNT Yogyakarta, th. 2005.


Sebagai Ketua Tim Penulis Buku-Buku:

1.Sejarah Sosial Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (IDSN) Jakarta, 1984.

2.Tata Kelakuan Di Lingkungan Pergaulan Keluarga Dan Masyarakat Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Peroyek Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah (IDKD) Banjarmasin,  1984.

3.Sejarah Kota Banjarmasin, Penerbit Proyek IDSN Jakarta, 1986.

4.Tingkat Kesadaran Sejarah Siswa SMTA dan Masyarakat di Propinsi Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek IDSN Jakarta, 1986.

5.Peralatan Produksi Tradisional dan Perkembangannya Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek Inventarisasi dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya (IPNB) Banjarmasin, 1989..

6.Sejarah Revolusi Kemerdekaan (1945-1949) Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek IPNB Banjarmasin, 1991.

7.Sejarah Pendidikan Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek Penelitian, Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya (P3NB) Banjarmasin, 1992.

8.Sejarah Pengaruh Pelita Terhadap Kehidupan Masyarakat Pedesaan Di Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek IDSN Jakarta, 1993.

.9.Dampak Sosial Budaya Akibat Menyempitnya Lahan Pertanian Kelurahan Pelambuan Propinsi Kalimantan Selatan, Penerbit Proyek P3NB Banjarmasin, 1993.
  
10.Sisitem Kepemimpinan Dalam Masyarakat Pedesaan Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya (P2NB) Banjarmasin, 1994.

Sebagai Anggota Tim Peneulis Buku-Buku:

1.Sejarah Perlawanan Terhadap Imperialisme Dan Kolonialisme Di Kalimantan    Selatan, Penerbit Proyek IDSN Jakarta, 1983.
2.Upacara Tradisional Upacara Kematian Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit  Bagian Proyek P3NB Banjarmasin, 1992.

3.Pembinaan Disiplin Di Lingkungan Masyarakat Kota Banjarmasin, Penerbit Bagian Proyek P2NB Banjarmasin, 1994.

4.Sejarah Perjuangan Rakyat Menegakkan Kemerdekaan Republik Indonesia Di Kalimantan Selatan (Periode 1945-1949), Penerbit Pemda Tinkat 1 Kalimantan Selatan, 1994.

5.Fungsi Keluarga Dalam Meningkatkan Kualitas sumber Daya Manusia Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Bagian Proyek P2NB Banjarmasin, 1995.

   6.Integrasi Nasional Suatu Pendekatan Budaya Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Bagian Proyek P2NB Banjarmasin, 1996.

   7.Dampak Globalisasi Informasi Dan Komunikasi Terhadap Kehidupan Sosial Budaya Masyarakat Di Daerah Kalimantan Selatan, Penerbit Bagian Proyek P2NB Banjarmasin, ISBN 979-95571-1-9, th. 1998.

                                   (HRN: Banjarmasin-Yogyakarta)

Sabtu, 23 Juli 2016

bagiian dari biografiku



BAGIAN DARI BIOGRAFIKU
Nama kecilku itu Ramli dan Nawawi itu nama orang tuaku yang kucantumkan di belakang namaku ketika aku lulus sarjana. Aku sekarang pensiunan peneliti pada Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional Yogyakarta tahun 2006, padahal dulu sewaktu aku tamat SR 6 tahun orang tuaku bermaksud menyekolahkan aku ke Pesantren Darus Salam Martapura. Orang tuaku memang guru agama yang mengajar di beberapa Langgar (Surau) di kampungku Wasah Hilir dan kampung kelahiran orang tuaku di Amawang Kiri  (Kandangan). Sejak masuk SR (Sekolah Rakyat ) kelas I sekaligus sore harinya aku juga belajar di Sekolah Arab. Juga setiap malam sesudah Magrib atau Isya orang tuaku mengajariku membaca Al Qur’an hingga tamat.
Setelah itu aku dicarikan guru Al Qur’an yang terpandang fasih di desaku, Tuan Guru H. Sapdin (H.A. Sani) guru Al Qur’an yang menguasai tajwid dan pernah tinggal dan belajar di Mekah. Aku dan temanku berempat diberi waktu belajar sesudah shalat Subuh. Karena itu satu jam sebelum waktu Subuh kami harus sudah menuju Langgar yang ada di samping rumah guru. Setiap subuh kami saling memanggil-manggil teman yang terlambat bangun sebelum berangkat, dan lebih sering jalan kaki daripada naik sepeda.
Selesai shalat Subuh berjemaah, kami mengambil Al Qur’an. Sekali belajar  hanya sebanyak setengah halaman. Guru menanyakan bunyi awal dari ayat yang kemaren yang sudah dibaca dan disuruh hafal di rumah. Kemudian dengan hafal guru melafazkannya. Selanjutnya kami disuruh menutup Al Qur’an dan bergiliran kami satu-satu melafazkannya pula di bawah pengawasan guru. Begitulah setiap Subuh.
Agar aku lebih fasih membaca dan membunyikan huruf-huruf Al Qur’an, aku dicarikan lagi oleh ayahku seorang guru mengaji lain. Setiap hari Minggu aku naik sepeda dengan seorang temanku pergi kepada Guru Anwar di Langgar Tandik di Desa Wasah Hulu kurang lebih 2 km dari tempat tinggalku, juga untuk berguru membaca Al Qur’an.
Waktu itu kalau di SR setelah kelas VI dinyatakan tamat, tapi di Sekolah Arab di tempatku ketika itu hanya ada sampai kelas V, kelas terakhir yang bisa diikuti dengan waktu yang tidak terbatas. Siapa yang sudah sampai ke kelas V ia lalu bergabung dengan mereka yang lebih dewasa yang sudah ada di tingkat tersebut. Karena ditingkat ini sudah mempelajari berbagai cabang ilmu agama dengan memakai “kitab kuning”. Bersamaan dengan tamat SR aku dan teman-teman mengajiku juga tidak berlanjut lagi. Karena kami harus melanjutkan sekolah yang ada di kota, sesuai dengan kemauan masing-masing.       
Setamatnya di SR orang tuaku ingin agar aku melanjutkan ke Pesantren Darus Salam di Martapura.  Tetapi kemudian di sekolah ada pendaftaran bagi siapa yang mau mengikuti test masuk Sekolah Guru B (SGB). Karena itu aku minta ijin orang tuaku untuk coba mengikuti test dulu, kalau tidak lulus baru mendaftar ke Pesantern.
Begitulah takdir telah menetapkan kalau pengabdianku yang pertama menjadi guru. Aku lulus test dan diterima di SGBN Kandangan. Pada kewartal pertama dari hasil ulangan umumku nilai raportku memenuhi syarat untuk pelajar berikatan dinas dan masuk asrama. Sehingga aku tinggal bersama-sama kawan-kawan di bawah asuhan seorang Bapak asrama. Di SGB  aku hanya 3 tahun, karena test dan hasil ulangan umum aku memenuhi syarat untuk di terima di Sekolah Guru A Negeri (SGAN) Barabai. Ketika itu di Barabai baru diresmikan berdirinya SGAN, sehingga mulai tahun ajaran 1958/1959 waktu itu semua pelajar dari SGBN yang ada di Hulu Sungai tidak lagi ke SGAN Banjarmasin.     
Tamat dari SGA tahun 1961 langsung menerima SK mengajar di SRN tapi ditugaskan di SMP Swasta Simpur (Kandangan). Beberapa bulan kemudian tepatnya tanggal 26 Nopember 1961 aku melangsungkan pernikahan dengan seorang guru SRN bernama Yohana. Begitu cepatnya aku melangsungkan pernikahan, tak lain karena kami sudah bertunangan selama tiga tahun. Dia kawanku waktu di SGBN Kandangan dulu dan menjelang aku ke SGAN Barabai kami resmi dipertunangkan. Kami memang kawin muda, dan dalam Surat Nikah kami orang tua kami masing-masing mencantumkan umurku 18 tahun dan umur isteriku 17 tahun. Orang tuaku bilang aku lahir zaman Jepang.
Setahun sebelum masuk SR (Sekolah Rakyat) yakni tahun 1948 aku dibawa orang tuaku pergi ibadah haji ke Mekah (makanya semua ijazah sekolahku dan SK-SK kepegawaianku ada titel haji semua). Aku masuk SR pada tahun ajaran 1949/1950 dan tamat tahun ajaran 1954/1955 (dulu tahun ajaran begitu dan pada bulan puasa libur sebulan penuh). Masuk SGB tahun ajaran 1955/1956 sampai tahun ajaran 1957/1958. Selanjutnya masuk SGA tahun ajaran 1958/1959 dan lulus tahun ajaran 1960/1961.   
    Aku diperbantukan mengajar di SMP Simpur hanya sekitar 2 tahun .  Selanjutnya tanpa melalui permohonan, awal tahun 1964 datang lagi SK dan panggilan untuk mengajar di SMPN I Barabai. Aku pun pindah ke Barabai, tapi baru beberapa bulan mengajar di Barabai aku ditawari oleh Bapak A. Gafuri yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Inspektorat SMP Wilayah Hulu Sungai untuk pindah ke Kandangan. Kembalinya aku Ke Kandangan waktu itu segera kumanfaatkan untuk masuk PGSLP 2 tahun, sehingga setelah tamat impassing pangkatku ke DD/II.    
Selanjutnya ketika aku sudah mengajar di SMPN I Kandangan, pada saat-saat menjelang terjadinya G30S/PKI aku sering dan berkali-kali dihubungoi oleh orang-orang dari partai golongan agama maupun yang lainnya. Ketika  itu semua orang umumnya menjadi anggota salah satu partai, termasuk para guru. Aku yang tidak berpartai waktu itu  sering dan berulang-ulang dihubungi kawan-kawan baik dari partai Islam dan lainnya. Menghadapi kasus seperti itu aku dan bebarapa guru yang senasib sepakat untuk tidak masuk partai yang sudah ada di Kandangan waktu itu. Aku dan seorang kawan ditugasi ke Banjarmasin untuk menghubungi pengurus Partai Persatuan Tharbiyah Islamiah Daerah Kalimantan Selatan di Banjarmasin, untuk meminta Buku Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga partai untuk dipelajari, dan bila sudah mempelajarinya akan membentuk kepengurusan partai tingkat cabang di Kandangan. Akhirnya kami sepakat dan secara resmi bardirilah PERTI (Persatuan Tharbiyah Islamiah) Cabang Kandangan. Untuk menjabat ketua kami menunjuk seorang guru yang sudah senior, beliau bersedia walaupun tidak bisa aktif. Aku sendiri ditetapkan kawan-kawan menjabat sebagai ketua Bidang Politik. Ketika terjadi Peristiwa G30S/PKI anggota kami masih terbatas, sehingga dalam kegiatan rapat-rapat umum mengutuk G30S/PKI kami harus kerja keras mendatangkan kawan-kawan dari kampung. Alhamdulillah  semua berjalan lancar, dan aku sempat juga dapat giliran jaga pikat malam mengawasi tahanan PKI yang ditahan di rumah Penjara Kandangan.
Sekitar penghujung tahun 1966 ada permintaan dari Pemda Hulu Sungai Selatan agar partai kami mengusulkan nama seorang calon untuk mewakili PERTI dalam DPRD Tingkat II HSS. Ketika itu kawan-kawan meminta aku duduk di Dewan sebagai wakil PERTI. Tapi aku merasa masih terlalu muda, dan karena teman yang lain juga tidak ada yang bersedia, aku meminta seorang guru seniorku, dan beliau bersedia. Setelah berjalan beberapa bulan kawan-kawan protes karena wakil kami banyak menyuarakan hal-hal yang bertentangan dengan nurani anggota. Kali ini aku dipaksa untuk menggantikan dengan sanksi kalau aku menolak mereka akan keluar dari keanggotaan. Atas dasar itulah aku kemudian dilantik sebagai anggota DPRD Tk. II HSS. Tapi dalam waktu yang tidak lama juga, aku kemudian mendapat panggilan dari Kepala Inspeksi SMP di Banjarmasin untuk kuliah di IKIP Malang dengan status ijin belajar. Karena bukan tugas belajar maka aku minta dipindahkan ke IKIP Banjarmasin saja dan disetujui.
Tahun 1968 aku dipindahkan mengajar di SMPN 7 km 2 Jalan A. Yani Banjaramasin yang waktu itu belajarnya siang, dan waktu pagi aku bisa kuliah. Sejak itu aku menyerahkan keanggotaanku sebagai anggota Dewan kepada seorang anggota pengurus PERTI yang juga guru SMPN Kandangan. Keikutsertaan wakil PERTI di DPRD Tk. II HSS berakhir ketika PERTI kemudian secara nasional digabungkan dalam PPP (Partai Persatuan Pembangunan).                 
Tahun 1971 aku dipindahkan ke SMPN 6 di Jalan Ade Erma Nasution (Pacinan) Banjarmasin. Alhamdulilah tahun 1972 aku sudah lulus Sarjana Muda (BA). Ketika itu aku bilang sama isteri bermaksud untuk kembali ke Kandangan, Cuma aku bilang juga kalau dosenku yang juga Dekan Fakultas Keguruan UNLAM waktu itu Drs. M. Idwar Saleh meminta aku untuk terus kuliah ke tingkat doktoral. Isteriku mendukungku agar aku terus kuliah saja. Sehingga aku ikut mendaftarkan diri untuk kuliah di tingkat doktoral sejarah. Waktu itu masih berlaku sistem tingkat bukan sistem semester. Khusus untuk mata kuliah sejarah dosen-dosen kami tidak pernah mengumumkan hasil tentamen (ujian) tertlis yang diadakan fakultas. Setiap mata kuliah pokok sejarah selalu diuji secara lisan, dan dalam catatanku tidak ada di antara kami yang lulus hanya sekali maju, bahkan umumnya setelah berkali-kali, dan tentamen umumnya juga di rumah dosen yang bersangkutan, waktunya bisa pagi, sore atau malam. Inilah tantangan yang membuat teman-teman seangkatanku dari semula berjumlah 20-an orang, yang berhasil lulus sarjana hanya 3 orang. Sebenarnya ada satu teman yang juga sudah semua lulus tentamen mata kuliah, tapi gagal dalam menyelesaikan thesis. Dia juga guru SMP seperti aku. Sedangkan dua temanku lainnya, seorang yang waktu kuliah sudah berstatus asisten dosen, seorang lagi Kepala SMAN yang waktu kuliah di titipkan di  Bidang PMU Kantor Wilayah Depdikbud Kalsel, dan setelah lulus menjadi dosen sejarah di FKg UNLAM pula. Mau tahu, mereka adalah Dra. Kesuma Sekarsih dan Drs. H.A. Gazali Usman. Kata salah seorang dosenku ketika aku sudah lulus, seorang sarjana itu tidak cukup hanya teruji intlektualnya tapi yang lebih penting mental dan moralnya, makanya katanya waktu itu untuk lulus sarjana itu tidak mudah.
Ketika Upacara Wisuda aku sudah mengajar di SMA, karena tahun 1976 aku dimutasikan dari SMPN 6 ke SMAN 3 Banjarmasin. Kami bersama para lulusan sarjana dari Fakultas-Fakultas di UNLAM lainnya di Wisuda tahun 1977, yang waktu itu UNLAM Pusat di Jln. Jend. Sudirman Banjarmasin pertama kali melakukan acara yang wisudawannya  memagai baju toga.
Beberapa waktu setelah lulus sarjana aku diminta untuk menjadi Kepala SMPN  II Kandangan. Karena isteriku yang juga sudah lama pindah mengajar disalah satu SDN di Banjarmasin, juga kami sudah punya rumah sendiri di Banjarmasin, maka  kami sepakat untuk menolaknya. Ketika itu aku malah mengajukan pindah ke bidang administrasi di Kanwil Depdikbud Kalsel, dan ternyata boleh.
Oleh Kepala Bagian Kepegawaian Kanwil  H. Anwar Fauzi yang juga dulu guruku ketika di SGBN Kandangan, aku ditanya mau ikut di Bidang mana. Karena dulu waktu mengajar di SMPN I Kandangan dulu aku ditugaskan menjadi pembina Pramuka sekolah, dan aku sempat mengikuti pendidikan pramuka DADIKA I dan DADIKA II, maka aku memilih Bidang Generasi Muda, dan Kepala Bidangnya menerimaku. Tetapi belum sempat menerima SK, aku dipanggil lagi oleh Kepala Bagian Kepegawaian Kanwil, bahwa  Kepala Bidang PSK (Permuseuaman Sejarah dan Kepurbakalaan) Drs. Yustan Aziddin yang juga dulu guruku di SGBN Kandangan, meminta aku harus membantu  di Bidang PSK.  Memang ketika aku di SGB aku sudah dekat dengan Drs. Yustan Aziddin. Bahkan berkat dorongan beliau waktu itu ada 2 buah sajak karanganku yang dimuat di Majalah Mimbar Indonesia (Kabar dari Kota dan Indonesia Tanah Airku). Beliau juga guru seni suara kami, yang  juga mengikutsertakan aku dalam group paduan suara yang kadang tampil dalam acara kegiatan sekolah atau lainnya.  Aku juga pernah diikutsertakan dalam Lomba Lagu Keroncong antar pelajar se kabupaten. Waktu itu aku memilih membawakan lagu Keroncong Senja, dan tidak  berhasil mendapatkan nomor kejuaraan. Pengalaman itu aku ulangi ketika aku di SGA, aku memilih Keroncong Persembahanku, dan ketika itu hanya berhasil sebagai juara II, sekedar ingin mencoba saja. Kemauan untuk mencoba ini pula ketika aku masih mengajar di SMAN III aku coba mengirim naskah ke Harian Banjarmasin Post dan ternyata umumnya dimuat (salah satunya berjudul Tidak Puas, yakni sorotanku tentang pendidikan di sekolah). Munculnya namaku di koran yang diasuh guruku Drs.Yustan Aziddin tersebut dan juga mungkin karena jurusan sejarahku sehingga beliau  memintaku masuk ke Bidang PSK (Permuseuman Sejarah dan Kepurbakalaan)..                                
Aku menjadi karyawan di Bidang PSK Kanwil Depdikbud Kalsel mulai awal tahun 1979. Bersamaan dengan itu pula pimpinanku yang waktu itu selain menjabat sebagai kepala bidang juga menjadi PimpinanProyek IDKD (Inventarisasi dan Dokumentasi Kebudayaan Daerah) menunjuk aku sebagai Ketua Aspek Penelitian dan Penulisan Sejarah Daerah, yang saat itu bertema Sejarah Revolusi Kemerdekaan Indonesia (1945-1949) Daerah Kalimantan Selatan. Sebagai sarjana junior waktu itu timbul juga kekhawatiranku kalau hasil penelitian dan penulisan sejarah yang bakal dibaca juga oleh pelaku-pelakunya serta bakal disebar keseluruh tanah tanah air tersebut  tidak sebagaimana mestinya. Ketika itu sebenarnya ada 5 aspek penilitian, yakni selain Sejarah Daerah, juga Adat Istiadat Daerah, Geografi Budaya Daerah, Cerita Rakyat Daerah dan Permainan Rakyat Daerah Kalimantan Selatan. Untuk ketua-ketua aspeknya pimpinanku menunjuk dosen-dosen senior dari UNLAM. Karena itu aku perlu menghadap dosen sejarahku Drs. M. Idwar Saleh untuk minta petunjuk dan bahkan bantuan beliau. Tidak kusangka ternyata beliau bersedia membantu dan bahkan bersedia menjadi anggota tim. Sehingga untuk kelengkapan tim ini aku menghubungi teman kuliahku dulu Drs. A. Gazali Usman, yang juga bersedia menjadi anggota tim penelitian dan penulisan naskah Sejarah Revolusi Kemerdekaan Indonesia (1945-1949) Daerah Kalsel tersebut.  
Sebelum memulai kegiatan kami para ketua aspak berlima bersama Kepala Bidang PSK dipanggil ke Jakarta untuk mendapatkan pengarahan tentang kegiatan yang akan dilakukan serta dibekali metode penelitian secara singkat. Sehingga ketika kami turun lapangan dalam rangka pengumpulan data sudah membawa cara-cara sebagaimana yang diberikan. Sehubungan dengan pengumpulan data sejarah tim kami lebih banyak melakukan wawancara terhadap para pejuang yang masih hidup waktu itu. Untuk itu kami bertiga perlu mengunjungi para pejuang yang ada di semua kabupaten di Kalimantan Selatan. Naskah hasil penelitian dan penulisan kami selesai pada akhir Desember 1979. Awal tahun 1980 setiap ketua aspek kemudian mempresentasikan naskahnya dalam Sidang Evaluasi Naskah di Jakarta yang dihadiri selain para Evaluator juga para ketua aspek yang sama dari seluruh Indonesia. Alhamdulillah naskah sejarahku bisa diterima para Evaluator tanpa perombakan dan penambahan data. Ini pengalaman pertama aku terjun kebidang penelitian dan tulis menulis naskah buku.
Awal tahun 1981 aku diangkat mengemban jabatan eselon IV sebagai Kepala Seksi Tenaga Teknis Bidang PSK menggantikan seniorku yang memasuki masa pensiun. Tampaknya ketika itu ada temanku yang kurang senang karena ia sudah lebih lama menjadi karyawan di bidang tersebut. Tapi semua itu bukan karena permintaanku, apalagi ketika aku masuk instansi ini Kepala Bagian Kepegawaian yang juga guruku sewaktu aku di SGB itu pernah pesan kepadaku, agar aku tidak mencari dan meminta jabatan, tapi aku dipesani untuk berprestasi saja. Karena kata beliau kalau prestasiku baik ibarat kesebelasan bola pasti kamu akan dimasukkan sebagai pemain inti. Inilah pesan yang terus aku pegang selama aku bekerja sebagai pegawai negeri.
Sebenarnya sejak aku masuk di Bidang PSK setiap kegiatan lapangan yang dilakukan pimpinan aku selalu dikutsertakan. Masalahnya setiap selesai kegiatan lapangan, walaupun tidak ditugaskan aku selalu membuat tulisan berupa naskah singkat tentang kegiatan lapangan tersebut yang aku serahkan kepada Kepala Bidang, dan besoknya sudah terbit di Harian Banjarmasin Post. Beritanya tentang penemuan benda-benda purbakala atau perihal keadaan obyek-obyek kepurbakalaan, juga pertemuan dengan tokoh-tokoh pelaku sejarah.
Tahun 1986 Bidang PSK dipecah menjadi Bidang Permuseuman dan Bidang Jarahnita (Sejarah dan Nilai Tradisional). Aku termasuk dalam Bidang Jarahnitra dengan jabatan yang sama Sebagai Kepala Seksi Tenaga Teknis. Ketika itu aku sudah 5 tahun berada dalam jabatan eselon IV, sementara beberapa kawanku sudah ada yang diangkat dalam jabatan eselon III sebagai Kepala Kandep Dikbud di Kabupaten. Bersamaan dengan itu pada suatu saat santai ketika aku mengikuti kegiatan pimpinanku, beliau bilang kalau aku  tidak diijinkan dipromosikan karena sudah disiapkan untuk menggatikannya. Sehubungan dengan itulah aku berada di jabatan eselon IV sekitar selama 8 tahun. Baru pada tahun 1989 bersamaan dengan pimpinanku di SK kan sebagai Pengawas, SK jabatanku sebagai Kepala Bidang Jarahnitra juga terbit.
Ketika berstatus sebagai Pembantu Pimpinan selama 2 tahun dan sebagai  Kepala Seksi selama 8 tahun, aku selalu ditunjuk oleh Pimpinan Proyek sebagai ketua tim penelitian baik aspek sejarah atau aspek nilai tradisonal. Bahkan di samping itu secara khusus aku sering ditunjuk untuk menjadi ketua tim penulisan yang anggota timnya langsung dari Direktorat Jarahnitra Jakarta. Sehingga aku kadang menerima tamu pribadi yakni peneliti dari pusat tersebut. Selama 10 tahun itu aku bersama tim sudah banyak menghasilkan naskah penelitian yang sebagiannya telah diterbitkan, baik oleh proyek daerah maupun oleh proyek pusat. 
Tahun 1989 dalam Keputusan Gubernur Kepala Daerah Kalsel. No. 412 Tahun 1989 tanggal 7 Nopember 1989 yang ditandatangani Ir. H. M. Said, aku diikutsertakan dalam tim penelitian dan penyusunan naskah Sejarah Perjuangan Rakyat Menegakkan Kemerdekaan RI Di Kalimantan Selatan yang diketuai H. Akhmad Sutan Madar dan Drs. H. A. Gafuri. Naskah ini baru bisa diterbitkan pada tahun 1994, karena harus melalui rapat-rapat sleksi data bersama dengan para tokoh-tokoh pelaku  sejarah bersangkutan, serta konsepnya lebih dahulu diseminarkan yang dihadiri para pelaku perjuangan dari seluruh kabupaten se Kalimantan Selatan.
Dalam masa sibuk kegiatan penelitian dan penulisan naskah proyek IDKD maupun P2NB tersebut, di samping tugas-tugas rutin kantor lainnya, aku penah juga mengirimkan makalah untuk seminar di Jakarta dan diterima . Ini pengalaman pertamaku menjadi pemakalah pada seminar tingkat nasional, yakni Seminar Sejarah Nasional III di Jakarta tahun 1981. Makalah yang kusampaikan waktu itu tentang Masuknya Agama Islam ke Kalimantan Selatan. Kemudian pada tahun 1982 aku kembali menjadi pemakalah dalam seminar Sejarah Lokal yang diadakan di Denpasar Bali. Ketika itu aku menyampaikan makalah tentang Sejarah Pendidikan Islam di Kalimantan Selatan. Kemudian kecuali pada Seminar Sejarah Nasional IV di Medan aku absen, selanjutnya aku selalu dapat hadir pada Seminar Sejarah Nasional V tahun 1990 di Semarang, Kongres Kebudayaan tahun tahun 1991 di Jakarta, Diskusi Sejarah Lokal 1994 di Jakarta, Kongres Nasional Sejarah Indonesia VI di Jakarta tahun 1996, Konperensi Nasional Sejarah Indonesia VII tahun 2001 di Jakarta, menjadi pemakalah pada Lokakarya Nasional Pembangunan Berwawasan Budaya yang diselenggarakan Pusat Study Pariwisata UGM di Yogyakarta, serta Konperensi Nasional Sejarah Indonesia VIII tahun 2006 di Jakarta.   
Ketika menjabat sebagai Kepala Bidang Jarahnitra dari tahun 1989 sampai dengan yahun 1996 dalam kegiatan penelitian  aku hanya bisa menjadi anggota tim. Hal ini sehubungan dengan jabatanku juga sebagai pimpinan bagian proyek yang saat itu bernama IPNB (Inventarisasi Pembinaan Nilai-Nilai Budaya). Namun selama itu juga selain hanya sebagai anggota tim penelitian di daerah, aku juga banyak menerima kegiatan penelitian yang langsung ditugaskan dari Direktorat Sejarah Jakarta. Semua naskah hasil kegiatan penelitian baik yang dari proyek di daerah maupun yang langsung ditugaskan dari pusat setiap tahun 2 atau 3 naskah juga diterbitkan di daerah, sedang sebagian lagi diterbitkan oleh proyek pusat di Jakarta.
Begitulah ketika menjelang akhir tugasku sebagai Kepala Bidang Jarahnitra dalam suatu pertemuan rapat sinkronisasi bidang-bidang dan lembaga-lembaga kebudayaan dalam lingkungan Depdikbud secara berseloroh aku bilang kepada teman-teman para Kepala Balai Kajian  Sejarah dan Nilai Tradisional yang ada di Indonesia, yang umumnya kami sudah cukup lama baik, lebih-lebih mereka yang pernah sama-sama mengikuti SEPADYA selama 4 bulan di Sawangan Bogor, bahwa siapa yang bersedia menerimaku kalu aku mau jadi peneliti. Semua kawan-kawan ternyata bilang bersedia bahkan ada beberapa daerah memintaku karena di Balai Kajiannya belum cukup tenaga peneliti sejarahnya.
Kemudian aku memilih  Balai Kajian Jarahnitra (Sejarah dan Nilai Tradisonal) Yogyakarta dengan pertimbangan mencapainya lebih mudah serta ada putriku yang mau kuliah di Yogya waktu itu. Tanggal 20 Juni 1955 secara resmi kukirimkan surat permohonan untuk diterima menjadi tenaga fungsinal peneliti kepada Kepala Balai Jarahnitra Yogyakarta. Tanggal 27 Juni 1955 aku aku terima surat memintaku untuk segera mengajukan permohonan mutasi dan menyerahkan bukti-bukti usulan penetapan angka kredit (ijazah dan buku-buku hasil penelitian). Sewaktu aku lapor kepada Direktur Jarahnitra di Jakarta Dr. Anhar Gonggong, prinsipnya beliau setuju tapi bertanya mengapa tidak ke Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisonal Pontianak (untuk Kalimantan hanya ada di Pontianak). Ketika itu kubilang bahwa ke Pontianak lebih sukar dan lebih besar biayanya, karena pesawat dari Banjarmasin tidak ada yang langsung, tapi ke Jakarta dulu atau setidaknya lewat Balikpapan yang penerbangannya tidak tiap hari. Akhirnya dengan pertimbangan demi perkembangan karirku pada bulan Nopember 1995 usul pindahku ke Balai Kajian Jarahnitra Yogyakarta disetujui.
Awal tahun 1996 aku mengajukan usul ke LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) lewat Balitbang Depdikbud Jakarta disertai copy seluruh naskah-naskah hasil penelitian yang diterbitkan. Setelah dinilai di Balitbang berkasku di kirimkan ke LIPI untuk penilaian selanjutnya. Alhamdulillah hasil penilaian di LIPI juga memenu hi syarat untuk diangkat dalam jabatan peneliti dengam masa kerja usia 65 tahun, sesuai dengan pangkat regulerku IV/b waktu itu.
Memasuki awal tahun 1997 aku resmi menjadi PNS fungsional Peneliti  Bidang Sejarah dan Nilai Tradisional  pada Balai Kajian Jarahnitra Yogyakarta. Beberapa hasil penelitian lapangan karyaku yang diterbitkan ketika aku menjadi peneliti pada Balai Kajian Jarahnitra Yogyakarta, tahun pertama tentang: Ekspedisi Laut Para Pejuang Kemerdekaan dari Jawa ke Kalimantan. Selanjutnya sesuai dengan wilayah tugas Balai Kajian Jarahnitra Yogyakarta, aku hanya diperkenankan melakukan penelitian di Propinsi DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sehingga sesuai dengan naluri keagamaanku sejak itu aku mengambil obyek-obyek yang bisa menambah keimananku, seperti penelitian dengan obyek Masjid Sunan Ampel  Surabaya, Masjid Besar Kauman Semarang, Masjid Sunan Bayat Klaten, Peranan  Supranatural Dalam Perjuangan Kemerdekaan 1945-1949 di Yogyakarta. Pesantren Tahaffudhul Qur’an Semarang, Upacara Dugderan Menyongsong Puasa Ramadhan di Semarang, Riwayat Hidup K.H. Abdullah Umar Al Hafidz Semarang, dan Quwwatul Islam Masjid Para Pedagang Banjar di Yogyakarta. Beberapa buku yang juga diterbitkan ketika itu sekrepsi sarjana muda ku yang berjudul Dewan Banjar, dan thesis ku  Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari Penyebar Ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jama’ah Pada Abad Ke 18 Di Kalimantan Selatan, dan tentang Kehidupan Masyarakat Dayak Bukit Losado, serta Perjuangan Rakyat Menentang Federalisme di Kalimantan Selatan. Sedangkan buku-buku proyek hasil tim yang kuketuai antara lain: Sejarah Kota Banjarmasin. Sejarah Pendidikan Daerah Kalimantan Selatan, Sejarah Sosial Daerah Kalimantan Selatan, Pengaruh Penyempitan Lahan Pertanian di Kalimantan Selatan, dan lain-lain.  
Dengan pendidikan keagamaan yang diarahkan orang tuaku sewaktu mudaku membuat aku tidak canggung ketika berada di lingkungan masyarakat yang agamis. Terbukti sejak tahun 1982 ketika aku dan keluarga mendiami rumah yang dijual pemiliknya dengan harga yang pantas sesuai pengahasilanku di Kompleks Beruntung Jaya Jln Hayam Wuruk, oleh ketua pengurus masjid aku kemudian dimasukkan dalam daftar Khatib Jum’at di masjid kompleks tersebut. Bahkan selama bebarapa tahun aku dipercaya menjabat Wakil Ketua Pengurus masjid. Demikian pula hal itu berlanjut ketika aku pindah ke Yoyakarta sebagai peneliti, ketua takmir masjid di Perumahan Citra Ringin tempat aku dan keluarga tinggal, juga kemudian meminta aku sebagai khatib setiap Jum’at minggu pertama setiap bulan, kecuali aku uzur atau sedang bepergian ke luar daerah. Semua itu kulakukan tanpa pamrih, demi keinginan orang tuaku dulu yang menginginkan aku menjadi seorang santri. Semoga Allah SWT mengabulkan do’a-do’a ku untuk kebahagian almarhum dan almarhumah kedua orang tuaku serta keluargaku lainnya.- (H.Ramli Nawawi). Sampai sini dulu, nanti disambung.                                             

Kamis, 14 Juli 2016

ABU UMAMAH PENGHUNI SORGA



ABU UMAMAH PENGHUNI SORGA

Sahabatku,
Dalam Al Qur’anul Karim surah Asy Syuaraa, ayat 87,88,89 Allah SWT berfirman:
 ولا تخزنى يوم يبعثون * يوم لا ينفع ما ل ولا بنون * الا من اتى الله بقلب       
 سليم *
“Dan janganlah aku dihinakan pada hari kebangkitan, pada hari itu tidak berguna harta dan anak-anak, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”.

Begitulah Allah menyatakan pentingnya peranan hati dalam mendapatkan keredhaan-Nya. Sehingga kebersihan hati merupakan password atau kunci untuk membuka pintu surga. Sehingga sedikit apapun amal, tetap akan bisa memasukkan orang ke suirga, asal ia memiliki hati yang bersih. Sebaliknya, sebanyak apapun amal, tidak akan berarti sama sekali bila kita memiliki hati yang penuh penyakit. 

Sahabatku,
Suatu hari ketika Rasulullah sedang berada di masjid, beliau memberi tahu kepada para sahabat, bahwa sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk. Mendengar sabda Nabi tersebut, maka semua mata tertuju ke pintu masjid. Dalam benak para sahabat, terbayang sesosok orang yang luar biasa.

Tiba-tiba masuklah seorang pria yang mukanya masih basah dengan air wudhu. Iapun kemudian melakukan shalat tahiyatul masjid.

Penampilannya biasa-biasa saja. Ia bukan orang terkenal. ABU UMAMAH Ibnu JARRAH demikian namanya. Bayangan para sahabat akan sosok luar biasa tidak menjadi kenyataan.

Karena itu para sahabat menjadi panasaran. Mereka bertanya dalam hati: “Amal apa gerangan yang dimiliki orang ini sampai-sampai Rasul menyebutnya calon penghuni sorga”. Salah satu dari mereka yang panasaran tersebut adalah ABDULLAH bin AMR bin ASH.

Karena itu sehabis shalat padhu berjamaah tersebut, Abdullah dengan mengemukakan suatu alasan meminta izin kepada Abu Umamah untuk bisa menginap tiga hari di rumahnya.

Selama tiga hari tiga malam Abdullah memperhatikan, mencermati, bahkan mengintip tuan rumah. Namun tidak ada satupun yang istimewa. Hari-hari yang ia lewati tidak jauh beda dengan sahabat-sahabat yang lain. Ibadahnya pun biasa-biasa saja.

Karena itu setelah tiga hari tiga malam memperhatikan Abu Umamah, Abdullah berkata dalam hati: ”Pasti ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus berterus terang kepadanya”. Dan Abdullah pun bertanya: “Ya Abu Umamah, amal apa yang kamu lakukan sehingga Rasulullah memanggilmu sebagai calon penghuni sorga”. Ternyata jawaban Abu Umamah sangat mengecewakan: “Apa yang engkau lihat itulah”, katanya.

Dengan perasaan tidak puas Abdullah bermaksud pamit kapada ahlul bait. Tapi ketika Abdullah hendak pergi, tiba-tiba Abu Umamah berkata:

“Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tidak pernah iri dan dengki terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Setiap malam sebelum tidur, akupun selalu membersihkan hatiku dari ujub, takabur, kedengkian, dan rasa dendam”.

Sahabatku,
Ada banyak ibrah dari kisah tersebut. Namun ada satu yang pasti, hanya orang yang bersih hati lah (qalbun salim) yang akan memasuki surga tertinggi, juga bertemu dengan Al-Khalik Azza wa Jalla, seperti firman-Nya tersebut di atas, yakni:

Janganlah Engkau hinakan aku (ya Allah) padahari kebangkitan, yaitu hari dimana harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.

Karena itu Abu Umamah layak untuk ditiru.

Walaupun ia bukan sahabat sekalibar Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali.
Ibadahnyapun tidak seterkenal Abu Darda, Abdurrahman bin Auf, Salman Al Farisi, atau sahabat yang lainnya.

Namun derajatnya di mata Allah dan Rasul-Nya demikian tinggi, sehingga Rasulullah SAW memvonis ia sebagai calon penghuni sorga. Mengapa, sebab HATINYA BERSIH DARI PENYAKIT dan BEBAS DARI KEBENCIAN dan DENDAM. Sehingga semua amal kebaikannya TETAP UTUH dan BERNILAI di hadapan Allah SWT.

(ramli nawawi:sejarah dan nilai tradisional)










            

Sabtu, 11 Juni 2016

marhaban ya ramadhan


                                                                 Disusu oleh  
                                                               Ramli Nawawi

Ramadhan Mubarak telah menjelang kita kembali. Masjid dan Musalla kembali ramai dikunjungi umat Islam untuk bersama-sama menjalankan ibadah Ramadha. Dalam bulan yang penuh berkah ini Allah S.W.T. memberikan ganjaran istimewa sebanyak 70 kali pahala terhadap setiap ibadah yang kita lakukan. Karena itulah laki-laki dan perempuan muslim, bahkan para remaja tak terkecuali anak-anak ramai melaksanakan ibadah   tarwih yang diselenggarakan di Masjid-Masjid dan surau  yang ada di setiap lingkungan mereka bertempat tinggal.

Banyak hikmah yang terkandung di dalam bulan yang suci ini. Nabi kita Muhammad s.a.w. menyampaikan kepada kita umatnya, sebagaimana sabdanya:

 اتاكم رمضان سيد الشهور * فمرحبا به واهلا * جاء شهرالصيام با لبركا ت
 فاءكرم به من زائر هوات * لو تعلمو امتى ما فى رمضان لتمنو ان تكون
انتكون السنة كله رمضان * لاء ن الحسنا ت فيه مجتمعة * والطاعة
مقبولة والدعوات مستجابة * والدنوب مغفورة * والجنة مشتاقة *

“Telah datang bulan Ramadhan mengunjungi kamu, bulan yang amat utama, sambut dan elu-elukanlah kedatangannya itu. Dia datang membawa bermacam-macam berkah, muliakanlah dia laksana menghormati tamu. Seandainya umatku mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam bulan Ramadhan itu, pastilah mereka menginginkan supaya seluruh bulan dalam setahun terdiri dari bulan Ramadhan. Karena dalam bulan Ramadhan itu berkumpul bermacam-macam kebaikan yang memberi pahala, taat yang diterima, do’a diperkenankan, dosa diampuni, dan timbul kerinduan akan sorga”.

Kalau kita perhatikan isi hadis yang diriwayatkan Ibnu Abbas tersebut tersebut, maka hikmah yang terkandung dalam bulan Ramadhan tersebut selain mengandung nilai-nilai Ubudiah (penghambaan diri kpd Allah), juga mengandung nilai-nilai Etika yang memberi tuntunan dalam hidup kita bermasyarakat.

1.Ramadahan sbg sumber kebaikan:
Kita mengetahui bahwa puasa dalam bulan Ramadhan selain sebagai salah satu rukun Islam, juga merupakan lahan yang mendatangkan pahala yang ebrlipat ganda. Karena itu pada malam hari selama bulan Ramadhan kita dianjurkan melaksanakan :
-shalat tarawih, I’tikaf di mesjid, tilawatul Qur’an, meningkatkan do’a memohon ampun kpd Allah, Mengeluarkan sedekah, serta perbuatan-perbuatan baik lainnya. Karena itulah Ramadhan dikatakan sebagai sumber kebaikan.

2. Pada bulan Ramadhan ketaatan kita diterima oleh Allah, Attaata Makbulatun (segala amal ibadah akan diterima oleh Allah).

3. Pada bulan Ramadhan segala doa diperkenankan. Setiap doa yang baik yang domohonkan dalam bulan Ramadhan akan diperkenankan oleh Allah s.w.t. Karena itu dalam bulan Ramadhan memberikan kesempatan kpd kaum muslimin dan muslimat untuk meningkatkan doa untuk kemaslahatan kehidupan di dunia dan dia khirat.
Ada 3 doa yang banyak dipanjatkan dalam bulan ini:

 الهم اغفرلى د نوب يا رب العالمين
(Ampunilah dosaku , ya  Allah Tuhan sekalian Alam), dibaca pada hari pertama sd 10.
 الهم ارحمنى برحمتك يا ارحم الرحين
(Berilah rahmatlah aku dengan rahmatMu, ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang), dibaca pada hari ke 11 sd 20.
 الهم اعتنى من النار واد حلنى الجنة يا رب العالمين

(Ya Allah, bebaskanlah aku dari siksa api neraka, dan masukkanlah aku ke dalam sorga),
Dibaca pada hari ke 21sd akhir Ramadhan.

4. Pada bulan Ramadhan dosa-dosa diampuni. Sebagaimana hadis nabi: 
 من صام رمضان ايمانا واحتسابغفر له ما تقد م من د به 
(Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan mengharap keredaan Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang lalu).

Yang dimaksudkan disini bahwa pada bulan Ramadhan terdapat peluang yang memberi kesempatan kpd kaum muslimin dan muslimat utk meningkatkan amaliah, sehingga kumpulan kebaikan yang dilakukan seorang hamba tersebut dapat menghapus dosa-dosanya. Allah menegaskan dalam surah Al Hud (114):

اءن الحسنات يدهبن السيئا ت *
“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan kebaikan itu menghapuskan perbuiatan-perbuatan yang buruk”.

5. Bulan Ramadhan menimbulkan kerinduan untuk nanti bisa memasuki sorga. Bulan ramadhan dengan segala kesemapatan untuk melakukan amaliah itu menumbuhkan upaya  untuk nantinya menjadi penghuni sorga, yakni tempat di akhirat yang memberikan penuh kebahagian dan kenikmatan seperti yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang taat beribadat menjalankan kewajiban yang diperintahkanNya.

Nilai-nilai lain yang dilahirkan dari ibadah puasa adalah ketahanan rohaniah. Karena puasa melatih jiwa mengendalikan dan menguasai hawa nafsu. Sementara ketahanan rohaniah seseorang akan mampu menghadapi setiap tantangan dan godaan yang hendak menyesatkan atau menjatuhkan kita. Ketahanan rohaniah sangat diperlukan bagi keluarga muslim dlm kehidupan dunia modern saat ini (agar kita terhindar dari pengaruh sarana komunikasi, narkoba, dls).
Nilai lainnya, dengan berpuasa orang semakin menyadari akan nikmat yang diberikan Allah. Semua nikmat itu disadari ketika nikmat itu hilang atau lenyap dr seseorang. Dengan berpuasa, maka dengan kemauan sendiri orang menahan dirinya tidak makan dan tidak minum sehari penuh. Dengan demikian dia dapat merasakan bagaimana nikmat yang diberikan Allah sesuatu yang pernah dimilikinya manakala hal itu tidak dimilikinya lagi.
Ibadah puasa juga melatih seseorang utk berserah diri kpd Allah s.w.t. (Allah yang mengatur kemampuan kita), puasa menguatkan kemauan (ada tantangan dan godaan menyuruh mundur) , jujur (walau sendiri tdk minum dll),

Demikianlah dr semua uraian di atas, maka ibadah puasa yang kita lakuakn dalam bulan Ramadhan saat ini, banyak mengandung nilai-nilai ubudiah (untuk bekal kehidupan kita yang kekal kelak), dan juga mengandung nilai-nilai moral (etika) yang berguna untuk menghadapi tantangan kehidupan di masyarakat  seperti saat ini

 با رك الله لى ولكم فالقران الكريم * ونفعنى واءياكم بما فيه من اللا يات والدكر
الحكيم  * اقول قولى هدا واءستغفرالله * انه هوالغفورالرحيم *