Senin, 24 November 2014

SEKILAS PERJALANAN SEJARAH KOTA BANJARMASIN



SEKILAS PERJALANAN SEJARAH KOTA BANJARMASIN

Disusun oleh: Ramli Nawawi

Kota Banjarmasin sekarang menjadi ibu kota Propinsi Kalimantan Selatan. Kota Banjarmasin termasuk kota tertua, pertama kali menjadi ibu kota kerajaan  dari Kesultanan Banjarmasin. Sultan Suriansyah, sultan pertama yang menjadikan kota ini sebagai pusat pemerintahan dan pusat perdagangan serta pusat penyebaran agama Islam sejak 24 September 1526.

Kota Banjarmasin terletak di bagian selatan dari Kalimantan Selatan dan terbelah dua oleh Sungai Martapura anak Sungai Barito. Kota Banjarmasin terletak di bawah permukaan laut hampir 0,50 m di bawah permukaan laut.

Pada Abad ke 15 sebelum menjadi Kota Banjarmasin, di daerah ini merupakan perkampungan beberapa kelompok etnis antara lain adalah etnis Dayak Ngaju dan etnis Melayu. Pemukiman penduduk waktu itu berada di sekitar Muara Cerucuk dan Kuwen. Perkampungan orang Melayu, oleh orang suku Dayak Ngaju disebut Banjarmasih. Banjar berarti kampung dalam bahasa Melayu, sedangkan Masih adalah sebutan dalam bahasa Ngaju untuk menyebut orang Melayu. Dengan demikian Banjarmasih berarti perkampungan orang Melayu. Banjarmasih adalah ibu kota dari Kesultanan Banjar dengan raja pertamanya Sultan Suriansyah, raja pertama yang menganut agama Islam.

Pada abad ke 16 dan 17 Banjarmasin sebagai perkampungan orang Melayu terletak di antara sungai-sungai. Sungai Barito dengan anak Sungai Sigaling, Sungai Pandai dan Sungai Kuwen. Sungai Kuwen dengan anak sungainya Sungai Keramat, Sungai Jagabaya dan Sungai Pangeran atau Pageran. Sungai-sungai tersebut pada daerah hulunya bertemu dan membentuk danau kecil bersimpang lima. Daerah inilah yang nanti menjadi daerah ibu kota Kerajaan Banjar, yaitu Banjaramasin. Pusat pertama terletak di antara Sungai Keramat dengan Sungai Jagabaya dengan Sungai Kuwen sebagai induk. Di sinilah tetletak rumah Patih Masih, patihnya orang Melayu.

Desa berubah menjadi sebuah bandar perdagangan pada tahun 1526 setelah  Kerajaan Daha yang dibawah Pangeran Tumenggung mengakui Sultan Suriansyah sebagai raja di Kerajaan Banjar, sebagian besar penduduk Daha diangkut sebagai tambahan penduduk ibu kota kerajaan. Rumah Patih Msih dijadikan keraton setelah dibesarkan dibuat Pagungan, Sitilohor dan Paseban.

Rumah-rumah dibangun di sepanjang tepi sungai dihubungkan satu dengan lainnya dengan titian sepanjang sungai dengan angkutan terdiri dari jukung atau perahu. Perahu atau jukung merupakan alat angkutan yang utama. Di samping rumah di tepi sungai terdapat lagi sejumlah rumah di atas lanting diikat dengan rotan ke pohon-pohon besar di tepi sungai.

Pada tahun 1612 kota ini diserbu oleh armada Belanda sehingga terpaksa ibu kota kerajaan dipindahkan ke Kayu Tangi dekat Telok Selong Martapura sekarang., sedangkan pusat kota dipindahkan ke Pamakuan, Kuliling Benteng. Dengan demikian kemudian terdapat sebutan untuk Banjar Lama dan Banjar Hanyar. Banjar Lama adalah bekas pusat  pemerintahan kerajaan yang ditinggalkan, sedangkan Banjar Hanyar adalah Kayu Tangi Martapura. Pada tahun 1663 Pangeran Surianata atau Pangeran Adipati Anom merebut kekuasaan. Pusat pemerintahannya dikembalikan ke Banjar Lama dengan pusat di daerah Sungai Pangeran.

Pada tahun 1677 Banjarmasin diserbu orang-orang dan pengikut Daeng Tello dibantu lanun orang Melayu, Soelongh. Keraton kembali musnah, tetapi musuh dapat dihalau. Pada tahun 1701 kembali Banjarmasin mengalami kehancuran dan pembakaran karena pertentangan dengan Inggeris, akibatnya Pulau Tatas menjadi sangat penting, sehingga sejak itu Pulau Tatas menggantikan tempat pusat kegiatan perdagangan menggantikan Banjarmasin di daerah Sungai Kuwen dan Sungai Pangeran.

Pada tanggal 4 Mei 1826 antara Kerajaan Banjar dengan Belanda diadakan kontrak dagang. Perjanjian itu membagi dua kota Banjarmasin. Daerah Pacinan Laut menyeberang ke Sungai Miai, ke Kuwen, Sungai Kelayan, Pemurus dan terus Pegunungan Meratus adalah daerah Kerajaan Banjar. Daerah Kerajaan Banjar ini kampung yang terpenting adalah kampung keraton, yang kemudian disebut Kampung Sungai Mesa. Di sekitar kampung ini terdapat rumah kediaman Menteri Besar Kiai Maesa Jaladeri, istana Sultan Tamjidillah, Balai Kaca. Berseberangan dengan istana Sultan Tamjidillah, diantaranya Sungai Martapura, terletak rumah Residen Belanda di Kampung Amerongan dan ke hilirnya terdapat Benteng Tatas, kesemuanya terletak di Pulau Tatas.

Kampung Amerongan adalah perkampungan orang Eropah, teratur, suasana lingkungan nyaman dengan penerangan lampu pada malam hari. Kampung Amerongan adalah kampung terbesar kedua setelah kampung Cina, Pacinan. Daerah Pulau Tatas inilah sampai menjelang abad ke 19 berkembang menjadi pusat kegiatan kekuasaan dan administerasi penjajah Belanda, baik sipil maupun militer.

Akhir Perang Banjar (1859-1905) membawa sejumlah kegiatan baru bagi Kota Banjarmasin. Antara Banjarmasin dengan Surabaya sarana hubungan laut Koninklijk Pakketvaart Maatschappij (KPM) memegang peranan baru lalu lintas laut. Untuk menampung volume kegiatan angkutan laut ini dibangun Boom Baru (pelabuhan) pada tahun 1861.

Boom ini terletak di pelabuhan lama sekarang di Sungai Martapura. Prasarana hubungan darat dibuat Pemerintah Belanda, yang guna dan tujuan dari hubungan darat ini ialah mempermudah ruang gerak militer Belanda. Jalan Banjarmasin – Martapura mulai dirintis melalui Pacinan Darat, Sungai Bilu Darat, Sungai Lulut, Sungai Tabuk, Panggalaman, Sungai Rangas terus ke Martapura yang sekarang dikenal dengan Jalan Martapura Lama.

(RN: Harap naskah ini tidak diposting ke blog lain).   
 .