Sabtu, 25 Juli 2009

Pasar Terapung

PASAR TERAPUNG
Oleh: Drs. H. Ramli Nawawi
Pasar Terapung Kalimantan Selatan memang unik di benak masyarakat luar Kalimantan. Kalau kita lagi berada di luar daerah tidak jarang ditanya apa tidak takut jatuh masuk air. Pertanyaan yang memberi kesan bahwa mereka banyak memperhatikan dan tertarik dengan keadaan sebenarnya dari Pasar Terapung yang mereka sering lihat di tayangan televisi tersebut.

Keberadaan Pasar Terapung di muara Kuwin memang tumbuh bersamaan dengan adanya komune-komune yang secara tetap mendiami daerah sekitarnya. Karena itu kalau kita melihat ke belakang, Kuwin adalah perkampungan yang menjadi pusat hunian awal masyarakat dagang yang mendiami kawasan ini.

Pedagang-pedagang Melayu memang ada sejak sebelum terbentuknya Kerajaan Banjar, mereka membuat pemukiman di sekitar muara Kuwin. Mereka hidup berdampingan dengan suku-suku Dayak yang ada di sekitarnya. Masing-masing kelompok dipimpin oleh seorang kepala suku yang disebut Patih.

Di samping Patih Masih (Masih dalam bahasa Ngaju berarti Melayu) pimpinan kelompok orang Melayu, terdapat pula Patih Kuwin, Patih Balit, Patih Muhur, dan Patih Balitung. Dengan demikian di areal muara Sungai Kuwin dan sekitarnya terdapat lima kelompok suku bangsa yang hidup berdampingan secara damai. Keberadaan masyarakat dan kontak antar kelompok yang mendiami lokasi yang menjadi cikal bakal kota Kerajaan Banjar inilah yang melahirkan pasar di muara Sungai Kuwin, yang sekarang dikenal sebagai Pasar Terapung.

Pasar yang berlangsung di atas berpuluh-puluh perahu berbagai jenis ini lahir secara alamiah. Kondisi alam Banjar yang dikenal sebagai negeri beribu sungai ini memang waktu dulu hanya memiliki prasarana transportasi sungai. Sehingga barang dagangan berupa hasil bumi dan kebun yang dibawa penduduk dari arah hulu sangat mudah dibawa dengan menggunakan perahu.


Demikian pula para pedagang di muara Sungai Kuiwn yang menjual barang-barang seperti kain, barang pecah belah, tembakau dan lain sebagainya yang diperoleh dari pedagang dari Jawa, Makassar, maupun beberapa pelabuhan di Sumatera, untuk bisa cepat dan mudah mendapat pembeli juga menggelar dagangannya dengan perahu di sungai.

Demikian pasar di muara Sungai Kuwin bertambah semakin hidup dan ramai ketika lahir Kerajaan Banjar dengan dirajakannya Pangeran Samudera oleh para patih yang dipelopori oleh patih Masih pada tahun 1526.

Pasar di atas perahu yang kemudian termasuk dalam kawasan Bandar Masih yang menjadi pusat Kerajaan Banjar termasuk salah satu aset sebuah ibukota kerajaan, di samping sebuah istana menghadap lapangan atau pekarangan luas, serta sebuah masjid.

Kini kita hanya ditinggali warisan berupa sebuah Masjid Sultan Suriansyah dan Pasar Terapung. Sementara keberadaan istana sudah hilang karena terbuat dari bahan kayu yang bisa jabuk dan terbakar. Sedangkan sebuah lapangan atau pekarangan luas hilang dalam perjalanan jaman karena banyak orang perlu areal tanah untuk bangunan rumah.

Pasar di atas air yang kini disebut sebagai Pasar Terapung memang sudah berlangsung lama. Ketika pemerintah menetapkan sektor pariwisata sebagai aset untuk meningkatkan devisa negara, maka sejak tahun 1980-an Pasar Terapung ikut mendapat perhatian untuk dijual kepada wisatawan baik domestik maupun wisatawan mancanegara.

Pasar Terapung kemudian menjadi terkenal menasional. Faksi-faksi yang berkepentingan ikut memanfaatkan aset unik ini. Dalam perkembangan kemajuan pembangunan dan teknologi hingga saat ini sudah pula tersedianya jalan darat yang menjangkau pedesaan dan mudahnya mendapatkan kendaraan bermotor membuat adanya alternatif lain untuk memasarkan barang dagangan dari pedesaan, maupun untuk membeli barang keperluan lainnya.

Namun orang Banjar terutama mereka yang mendiami pemukiman yang berada di sepanjang muara Sungai Barito dan sekitarnya tetap akan berkegiatan jual beli hasil bumi dan barang–barang keperluan hidupnya lewat parasarana transportasi air, dan tetap akan menghidupkan kegiatan Pasar Terapung yang bagi orang luar keberadaannya unik ini. (HRN).